Mia Ayunda

Mia Ayunda
BAB61



jangan lupa like komen dan vote 💝


~~


"Tidak perluh pa, ibu akan datang jika waktunya sudah tiba" Ucap Mia.


"Kenapa kamu bosa mengatakan begitu? "Tanya Handika.


"Mungkin saja begitu pa" Jawabnya.


"Baiklah, sekarang kita makan ya" Rayu Handika.


"Papa duluanlah" Ucap Mia.


"Baiklah papa juga belum mau makan" Ucapnya dengan melipat kedua tangannya didadanya.


"Agh,,,,, papa baiklah mari makan" Ucap Mia langsung berdiri menuju meja tempat piring nasi mereka berada.


"Papa duduklah disitu" Lanjutnya lagi.


"Papa Mia sangat rindu masakan ibu, apa papa juga begitu? " Ucap Mia dengan memdudukkan bokongnya dikursi semulah.


"Tentu saja iya, bahkan saya hanya berdo'a agar bisa cepat bertemu ibu" Ucap Handika.


"Papa, setau kita dulu ibu sudah meninggal, trus kenapa papa menintah agar cepat bertemu dengan ibu" Ucap Mia.


"Jujur sayang, papa tidak bisa hidup tanpa ibumu, begini saja untung kau ada disisi papa, jika kau juga mengikuti jejak semua kakakmu melanjutkan studi diluar negeri mungkin papa sudah lama bersama ibumu" Ucap Handika dengan meneteskan air mata.


"Agh,,,,, papa, hiduplah lebih lama lagi, ibuku masih ada, Mia juga tidak bisa hidup tanpamu" Ucanya dengan memeluk Handika.


"Kita makan yaa sayang" Ucap Handika. Mia mengangangkukan kepalanya. Handika menyuapi Mia.


"Mia bisa makan sendiri pa" Ucap Mia.


"Dimana orang kau sudah dewasa sayang, tapi dimataku kau masih saja anak kecil, jadi biarkan saya menyuapi anak kecilku ini" Ucap Handika, Mia pun menerima suapan dari Handika.


Sampai akhirnya mereka selesai makan, jam sudah menunjukan jam 10 malam. Mia dan Handika memilih menyudahi percakapan mereka.


"Papa istirahat yang baik yaa" Ucap Mia.


"Iya sayang, kau juga tidurlah dengan cukup" Jawab Handika dengan mencium kening Mia.


Mia sudah bersandar diranjangnya masih dengan menatap datangnya ibunya dibagian jendela itu. Pintunya diketuk dari luar.


tokkk tokkk


"Masuk" Ucap Mia dengan menatap pintu.


clekkkkk.


"Tante, abang" Ucap Mia kaget melihat semua abangnya dan tantenya didepan kamarnya.


"Kenapa rame sekali" Lanjutnya lagi.


"Kita semua mau tidur disini" Ucap Maxel.


"Iya sayangku, kami memutuskan untuk tidur bersama denganmu, Tante mau mendengar cerita kalian pada saat dijepang" Uca Santi dengan duduk berseblahan dengan Mia sedangkan Marsel, Maxel dan Mario duduk berhadapan dengan mereka.


"Kenapa tidak sekalian dengan oma opa papa paman tante Rere dan Herri" Ucap Mia.


"Hahahha, kau ini, ini cuman keluarga Bajari diluar keluarga Bajari mereka tidak bisa bergabung" Ucap Santi.


"Agh,,,,, tante saya jadi rindu sama eyang Bajari" Ucap Mia denga memeluk legan Santi.


"Sudah jangan peluk peluk gitu dong, abang juga pengen peluk sama tanteku paling cantik ini" Ucap Maxel.


"Agh,,, abang. Bang Marsel Mia pengen ponakan" Ucap Mia dengan memasang muka sedihnya.


"Sayang, saya belum melihat luasnya indonesia ini, kau sudah minta ponakan, bersabarlah sayang" Ucap Marsel.


"Biar saya yang akan memberimu ponakan" Ucap Maxel.


"Tidak boleh, tidak boleh ada yang melangkahi abangku yang paling ganteng ini, pokoknya bang Marsel sudah menikah kalian baru bisa menikah" Jawab Mia, dengan tegas.


"Kenapa begitu sayang" Ucap Santi.


"Karena bang Marsel paling kaka disini, jadi dialah yang pertama kali merasakan indahnya pernikahan" Ucap Mia, Marsel senyum memdengar ucapan adik manjanya itu.


"Bang cepatlah cari pasangan, jika kau mendunda terus saya bisa tua" Ucap Maxel.


"Jika kau sudah tua bagaimana dengan bang Marsel" Timpa Mario, semua tertawa terkecuali Marsrl.


"Kalian sudah berani menertawan saya ya" Ucap Marsel dengan tatapan tajamnya.


"Ampun bang" Ucap Mario.


"Tapo benar juga" Ucap Mia.


"Sudah, tidak baik membully kakak sendiri, kita ganti topik yaa" Ucap Santi.


"Topik apa yang bagus ya" Ucap Mia dengan melihat kearah atas.


"Hmmmmm, bagaimana tentang keluarga Ambrin" Lanjut Mia, semua menatap kaget pada Mia.


"Apa ada yang salah? " Ucap Mia dengan salah tingkah melihat semua tatapan itu.


"Apa yang ingin kau tau mengenai keluarga itu? " Tanya Mario.


"Bang Mario tidak perlu jelaskan apapu, karena Mia tau pasti tidak akan menceritakan sesuai fakta, jadi yang cerita disini adalah bang Maxel" Ucap Mia dengan menunjuk Maxel. Maxel memang terkenal ceplos ceplasnya berbicara apalagi jika berhadapan dengan Mia, mulutnya bisa tidak terkontrol.


"Biar abang saja yang ceritakan" Ucap Marsel.


"Tidak mau, pokoknya bang Maxel" Ucap Mia.


"Tapi abang tidak tau banyak mengenai keluarga itu sayang" Ucap Maxel.


"Tidak mungkin, buruan" Suruh Mia.


jangan lupa like komen dan vote 💝