
jangan lupa like komen dan vote 💝
~~
"Cihhh,,,,,,, kau terlalu sombong" Ucap Raka.
"Hahahah, sudah cukup kan, waktuku sudah habis" Ucap Rika langsung menuju lift.
"Mau kemana? " Tanya Raka.
"Kekampus tuan, saya juga pengen senasip denganmu, yang mau memakai toga besok" Ucapnya langsung masuk dan meninggalkan Raka.
"Dasar,,,,,, dia cukup pandai sih" Ucapnya dengan senyum masinnya.
Raka juga sudah keluar dari gedung itu, dia menujuh kesuatu tempat yaitu rumah Handika. Raka telah tiba dikediaman itu.
"Selamat siang tuan" Ucap Rina.
"Siang, jam berapa tuan Handika akan tiba diindonesia? " Tanya Raka.
"Agh, sekitar jam 8 malam tuan" Jawabnya.
"Baiklah, terimah kasih" Ucapnya langsung meninggalkan ruangan keluarga itu. Ada sepasang mata yang meperhatikan itu.
"Kenapa buru buru" Ucap Santi dengan berjalan memdekati Raka.
"Agh,,,, maaf saya kira tidak ada tante disini" Ucap Raka dengan menundukan kepalanya.
"Santai saja sayang, mari duduk dulu" Ucap Santi, Raka pun duduk kembali.
"Bagaimana kabar ibumu? " Tanya Santi.
"Dia sangat baik, kapan tante kesini, kenapa tidak mengabari ibuku? " Tanya balik Raka.
"Hahahhah pertanyaanmu terlalu banyak, yang mana yang harus tante jawab? " Ucap Santi.
"Semuanya lah tante" Jawab Raka dengan senyumnya.
"Kau tidak pernah berubah, jadi saya kemari itu sekitar 4 hari yang lalu, tante takut menganggu istri persir sayang" Ucap Santi.
"Ibu pasti sangat senang jika mengetahui kalau tante ada dijakarta" Ucap Raka.
"Jangan beritahukan menganai adanya saya disini, nanti saya sendiri yang mendatangi ibu" Ucap Santi.
"Agh,, baiklah" Ucap Raka.
"Kau bagaimana dengan Mia? " Tanyanya lagi, Raka yang mendengar itu langsung berubah menjadi kaget.
"Tante tau perkara saya dengan Mia? " Bingungnya.
"Hahahahahah, apa kau lupa, saya ini anak bungsu dari Bajari ha" Jawabnya dengan sombongnya dan tersenyum.
"Hahhah baik tanteku" Ucap Raka.
"Jawab dulu pertanyaanku tadi!" Ucap Santi.
"Ya seperti itulah, bantulah saya tan, saya tidak tau jika sifatnya bisa seberubah itu" Ucap Raka dengan sedih.
"Tenang saja, jika kalian kodoh kalian akan disatukan" Ucap Santi.
"Terimah kasih tan" Ucapnya.
"Apa kau sudah makan? " Tanya Santi.
"Om Restu mana tan? " Tanya Raka dengan mencari keberadaan Restu.
"Dia sedang dibandung, ada pasien yang membutuhkan jasanya" Jawabnya.
"Ohh baikalah, nasib bersuamikan dokter yaa harus ditinggal demi orang lain" Ledek Raka.
"Agh, sejak kapan kau jadi sedewasa ini ha" Ucap Santi.
"Sejak bertemu dengan ponakan tante" Jawabnya dengan tertawa.
"Ponakan siapa dulu" Sombongnya Santi.
"Baiklah tante, terimah kasih atas waktunya, saya izin pulang dulu" Ucap Raka dengan berdiri.
"Iya sayang, tante juga berterimah kasih kau sudah menemaniku siang ini, dan ingat jangan beritahu ibumu" Ucap Santi.
"Tapi kenapa, apa papaku juga tidak tau kedatanganmu? " Tanya Raka.
"Tentu saja" Ucap Santi.
"Baiklah, terserah kalian lah" Ucap Raka.
"Saya pamit ya tanteku sayang, assalamualaikum " Lanjutnya dengan menyalami tangan Santi.
"Waalaikum salam, hati hati jangan ngebut dijalan"Jawabnya.
"Baik tanteku" Jawabnya dengan memberi hormat.
"Dasar, ibu sama anak sama saja" Ucap Santi dengan mengeleng kepalanya.
Raka sudah meninggalkan kediaman Handika, entahlah dimana lagi akan dia tuju.
Didalam pesawat.
Mereka masih dalam penerbangan, masih ada yang tertidur dan yang lainnya sudah bangun. Handika dan ke3 putranya masih tertidur, sedang dang Mia,Mirna,Wijaya dan Harrys sudah bangun.
"Paman Harrys, kenapa kalian tidak menetap saja dijakarta" Tanya Mia dengan muka baru bangunya.
"Tidak bisa sayang, paman harus melanjutkan perusahaan disana" Jawabnya.
"Kapan Herry beradik? " Tanya Mia membuat Harrys batuk.
"Kenapa kau bertanya begitu? " Ucap Harrys, Mirna dan Wijaya hanya menyimak perkataan mereka tanpa berkata kekatapun.
"Paman tau papaku punya anak 4,sedangkan paman hanya satu kan cemen" Ledek Mia dengan senyumnya membuat Harrys beruba ekspresi.
"Betul juga itu nak, jangan kalah sama Handika" Ucap Wijaya dengan meledek bungsunya itu.
"Papa juga cuman dua, masih banyak abangku, berarti abangku masih kuat dari pada papa" Balas Harrys. Mia tertawa mendengar itu. Tapi berbeda dengan Mirna, dia jadi berubah jadi mello, Wijaya hanya memegang tangan Mirna untuk memberi kekuatan untuknya.
Handika yang sedari dari mendengar percakapan mereka, langsung membuka suara.
"Apa kalian tidak mengantuk, tidurlah dulu perjalanan masih jauh" Ucap Handika dengan ketus dan mata yang sudah terbuka.
"Tapi Pa, kami sudah tidak mengantuk" Jawab Mia. Mereka belum perhatikan Mirna yang sudah meneteskan air mata.
"Agh,, oma kenapa menangis" Ucapnya lagi dengan mendekati Mirna.
jangan lupa like komen dan vote 💝