Mia Ayunda

Mia Ayunda
Mia bingung harus bagaimana



jangan lupa like komen dan vote yang banyak ya teman teman๐Ÿ™๐Ÿ’œ


~


Mia langsung menoleh kearah Handika, Mia langsung berdiri dan menghampiri Handika menarik Handika dan menuntunnya untuk duduk disofa besar itu, Handika yang melihat itu merasa bingung dengan tingkah putrinya.


"Apa papa masih ingat dengan Raka?" Tudu poin tanya Mia.


"Tentu sayang, bagaimana papa bisa lupa sama putra sahabatku" Jawab Handika.


"Papa tau akhir akhir ini Mia kesal dengan Raka" Ucapnya dengan muka kesal.


"Kenapa sayang?" Tanya Handika.


"Mia kira Raka masih menetal di Amerika pa, tapi kenyataannya Raka sudah kembali diindonesia. Dan yang paling kesalnya Mia dengannya" Ucapnya dengan mengerutkan bibirnya.


"Hahahha, apa kau lupa dengan Raka?" Tanya Handika, Mia hanya mengangkukkan kepala masih dengan kekesalannya.


"Apa dia juga melupakanmu?" Lanjut tanya Handika.


"Entalah pa, tapi kemarin Mia bertemu dengannya dan Raka sangat jail pada Mia, ahh kenapa harus lupa sama Raka Adijaya" Ucapnya.


"Sudahlah sayang, papa tau Raka pasti rindu denganmu makanya dia jail, mungkin Raka juga kesal karena melupakannya" Ucap Handika.


"Apa iya begitu pa?" Tanya Mia.


"Bisa jadi sayang, coba bayangkan jika kamu diposisi Raka, Raka melupakanmu sedangkan kamu mengingatnya tetapi Raka mengabaikanmu. Bagaimana perasaanmu sayang" Tanya Handika dengan memegang tangan Mia.


"Mia bakalan tapok kepalanya, enak saja dia melupakan teman masa kecilnya" Jawab Mia dengan kesal.


"Hahahha, kembalilah kekamarmu sayang, sudah Raka tidak sekejam dirimu yang lupa dengannya" Ucap Handika, mendengar penyataan itu Mia langsung melihat Ayahnya.


"Issss papa, sudahlah Mia kekamar" Ucapnya langsung pergi dengan menghantam kakinya dilantai. Melihat itu Handika hanya menggeleng kepalanya sambil tersenyum (ternyata putriku masih terlalu kecil) guman Handika dalam hati.


Mia dan Handika sudah dalam kamar masing masing, Mia memilih untuk tidur karena waktu sudah terlalu malam, sedangkan Handika masih memainkan Hp nya entah apa yang di lihat.


^


Dikediaman Ranaya Adijaya, semua sudah hampir terlelap kecuali Raka yang masih duduk dibaklon kamarnya, Raka masih membayangkan bagaimana ekspresi Mia jika dia mengetahuinya, Raka juga bingung kenapa Mia bisa tidak mengenalinya.


Waktu sudah cukup malam, Raka sudah masuk dalam kamarnya dan memilih merebahkan tubuhnya diranjang besarnya itu, mulai memejakan mata dan Raka sudah bergabung dengan mimpinya.


Waktu pagi telah tiba, Semua maaih menikmati mimpi mereka kecuali yang beragama islam mereka harus bangun untuk memenuhi kewajiban mereka. Raka sebenarnya beragama islah tapi dia tidak menjalankan kewajiban itu.


Dikediaman Handika, terlihat Mia dan yang lainnya menunggu Azan subuh, duduk didalam mushola dengan berdzikir. Handika sudah masuk dalam mushola melalukan hal yang sama yang dilakukan Mia. Azan subuh telah berkumamdang, seluruh pelayan mengikuti sholat subuh secara berjama, yang dipimpin oleh suami bu Rina.


Setelah sholat subuh Mia memilih untuk kekamarnya. Bersiap siap karena jadwal kuliahnya hari ini pagi. Mempersiapkan segala kebutuhannya, merasa semua sudah siap Mia turun kedapur terlihat bu Rina dan pelayan lainnya masih memasak Mia mendekatkan diri ke arah pelayan tersebut, semua pelayan memberi hormat terhadap Mia.


"Apa ada yang bisa saya bantu Nyonya muda?" Ucap bu Rina kepada Mia.


"Tidak ada bi, Mia hanya ingin membantu berikan kepada Mia" Ucapnya dengan mengulurkan tangannya kearah pisau yang dipegang salah satu pelayan.


"Mia tidak terimah penolakan" Ucapnya, dengan cepat pelayan itu memberikan pekerjaannya kepada Mia, mereka semua tau keberadaan mereka tergantung persetujuan dari Mia.


Mia memulai aksinya memainkan pisau dan mulai memasak, Mia masak sup untuk sarapan pagi ini. Mia sangat lihai dengan segala urusan dapur itu turunan dari Santika, waktu Santika masih ada Santika selalu mengajak Mia untuk memasak karena Santika mengingikan anak sematang wayangnya itu tidak terlalu manja.


Semua sarapan sudah siap, Mia menyajikan makanan diatas meja, terlihat Handika sudah turun menuju meja makan. Handika heran melihat putrinya yang sudah dimeja makan.


"Apa kau yang memasak semua ini?" Tanya Handika.


"Tentu pa" Jawabnya.


"Wah, ini sangat sayang" Ucapnya dengan mengambil piringnya.


"Selamat menikmati tuan besar" Ucap Mia dengan mengambil piringnya.


"Terimah kasib tuan putri" Jawab Handika.


Mia dan Handika menikmati makanan itu, keduanya tampak sangat serius dengan makanan mereka, bagi Handika ini bukanlah hal pertama baginya menikmati masakan Mia. Mia sering memasak jika dia sedang merindukan ibunya baginya hanya itu yang bisa menyampaikan rindunya.


Bunyi telpon Mia memecahkan keheningan dimeja makan terlihat nama Raka dipanggilan itu, Mia langsung mengambil Hp dan mengangkat panggilan itu hpnya lansung diletakan ditelinganya.


"Assalamualaikum" Ucap Mia.


"Waalaikum salam Nyonya" Jawab Raka.


"Ada apa ini masih pagi sekali" Ucapnya.


"Berikan alamatmu hari ini saya ingin berangkat denganmu" ucap Raka.


"Kalau saya tidak mau bagaimana?" Tanya Mia.


"Kalau kamu tidak mau bagaimana bisa saya mendapatkan dirimu Ha" Jawab Raka.


"Itu urusanmu Raka" Ucap Mia. Langsung memutuskan panggilannya.


Handika memerhatikan Mia, Mia sadar ada matanya yang melihatnya langsung melihat Handika.


"Ada apa pa?" Tanya Mia.


"Jangan terlalu galak sayang" Ucapnya.


"Bagaimana tidak pa, Raka sudah membohongiku" Ucap Mia.


"Dia hanya ingin melihatmu saja apa kamu akan mengenalnya tanpa harus dia memberitahukan atau kau be_" Ucapan Handika terputus.


"Assalamualaiku"


Mia dan Handika kaget dengan kedatangannya tiba tiba, mata Mia membelalak melihat dia ada didalam rumahnya.


Jangan lupa like komen dan vote yang banyak yaa teman teman๐Ÿ™๐Ÿ’œ