Mia Ayunda

Mia Ayunda
BAB14



Jangan lupa like komen dan vote untuk mendukung lanjutnya tulisan ini 💜🙏


~~


Terlihat ada Maxel yang membuka pintu, Maxel kaget karena ada opa dan omanya didalam.


"Dasar anak tidak punya adap" Ucap Mirna.


"Ah oma opa juga disini" Ucap kaget Maxel.


"Beri salam dulu untuk opa oma Cel" Timpal Marsel. Maxel langsung melakukan yang diperintahkan kaka tertuanya itu.


"Assalamualaikum opa omaku sayang" Ucapnya dengan menyalami keduannya saling bergantian, Maxel juga melakukan ke Handika dan Marsel serta Mario.


"Bagaimana keadaanmu sayang, kau ini suka sekali membuatku pulang balik indonesia, sayakan sudah bilang saya akan kembali" Ucap Maxel didepan Mia yang masih menutup matanya.


"Apa pelakunya sudah ditangkap Handika?" Tanya Wijaya.


"Semuanya sedang diselidiki pa* Jawab Handika.


"Kau ini terlalut tambat Handika, kau bilang masih menyelidiki. Apa perlu saya turun tangan untuk menyelidiki ini? " Kesal Wijaya.


"Biarkan orang orangku saja yang mencari pa, papa harus istirahat dulu" Jawab Handika.


"Pelakunya sudah ditangkap pa" Ucap Marsel.


"Siapa ladang semua ini bang? " Tanya Maxel.


"Putri dari Ronal Ambrin" Jawabnya.


"Cucu dari Ambrin? " Tanya Wijaya.


"Iya opa cucu tunggal dari Ambrin" Jawab Marsel.


"Terlalu beradi dia mengganggu cucuku, biar opa yang beri pelajar untuk keturan Ambri itu" Ucapnya dengan emosi.


"Ah, opa kenapa harus mengotori tangan atau pikiran op untuk hadapi itu, biarkan itu menjadi tugas bang Marsel atau bang Maxel, lagian mereka akan melakukan apa yang akan opa lakukan" Ucap Mario.


Wijaya memang orang sangat baik tetapi jika keluarganya yang kalian lukai maka dia akan lebih kejam dari apapun. Makanya mereka tidak izinkan untuk Wijaya menghukun Anesa, mereka bukan tidak mau menghabisi Anesa tapi mereka pikir Anesa mungkin akam berubah jika diberi peringatan.


"Baiklah jika itu mau kalian" Lanjutnya lagi.


Mia tampak sudah menggerakkan tanggannya, Mario langsung memanggil dokter, atas respon Mia.


"Bagaimana keadaannya dokter?" Tanya Mario.


"Nona Mia sudah sangat baik tuang, kalian tunggu saja Nona Mia akan membuka matanya" Jawabnya.


"Baiklah terimah kasih dokter" Ucap sopan Mario.


"Sama sama tuan, seharusnya tuan bisa memeriksa sendiri nona Mia tuan lebih tau dari pada saya tuan" Ucap dokter Tutri.


"Tidak dok, saya belum punya hak untuk itu, mengenai kejadian tadi saya minta maaf tidak izin dulu untuk melakukannya" Ucapnya dengan sopan.


"Hahahaha, tuan ini terlalu merendah, cepatlah selesaikab studimu tuan biar bisa bergabung bersama kami, disini kami sangat membutuhkan kepintaran tuan" Ucapnya lagi.


"Sudahlah dokter jangan terlalu memujinya kasihanlah sama kedua cucuku yang lainnya" potong Mirna. Semua tertawa mendengar pernyataan itu,Marsel dan Maxel sebenarnya tidak ada rasa iri terhadap Mario, karena mereka memiliki kemampuan masing masing.


"Hahah nyonya besar bisa saja, baiklah saya pergi dulu, selamat malam" Ucapnya langsung meninggalkan semuanya.


"Kau memang paling terbaik de" Ucap Marsel dengan memukul pundak Mario.


"Ade siapa dulu" Ucap Maxel.


"Kalian ini tidak akan menjadi orang seperti ini jika tidak menjadi keturunanku" Timpal Handika.


"Kau terlalu percaya diri Handika, mereka semua menuruni sikap Santika, jika mereka menuruni sikapmu semua akan bekerja lambat seperti" Ucap Wijaya. Semua menahan tawa mereka.


"Papa ini" Ucapnya terpotong. Ehek ehek hek


"Lihatlah dulu Mario" Ucap Wijaya. Mario langsung mendekat melihat Mia sudah membuka matanya, Mia masih tidak melihat jelas dengan sekitarnya. Mia menoleh kearah orang orang yang berada disamping ranjangnya, melihat Handika Marsel Maxel Mario dan berhenti ke Wijaya dan Mirna.


***Jangan lupa like komen dan vote yang banyak yaa 💜🙏


_terimah kasih***_