Mia Ayunda

Mia Ayunda
BAB149



~


"Tidak usah dikejar nak,,,dia hanya butuh ketenangan nanti juga dia akan mengerti" Ucap Wijaya.


"Tapi pa,,,bagaimana kita biarkan dia sendirian,,,kita harus berikan dia pengertian untuk ini" Ucap Handika langsibg pergi mengejar putrinya.


"Sudahlah,,,kalian istirahatlah. Biar saya dan Handika yang menjelaskan pada Mia" Ucap Santika langsung berjalan menghampiri Handika.


"Ayo,,,kita tunggu saja. Mia hanya syok karena kalian akan meninggalkan dia lagi" Ucap Mirna,,,,mereka semuanyapun duduk menanti kepulangan Mia.


Mia sudah meninggalkan kediaman Handika menujuh suatu kafe,,,rasanya dia sangat terpukul mengingat ketiga kakaknya akan pisah rumah dengannya lagi. Apalagi tidak ada Siska dan Amel yang selalu menghiburnya kali ini sangat berbeda.


Handika dan Santika terus mencati keberadaan Mia,,,keduanya sangat khawatir pada putri yang mereka lihat kecil itu.


"Tuan,,,Nyonya mudah ada suatu kafe Xxx" Ucap Seseorang dari ponsel Habdika,,,dengan cepat Handika membawa mobilnya kekafe yang sudah diberi tahukan itu.


"Apa lokasi Mia sudah ditemukan?" Tanya Santika.


"Iya sayang,,,dia ada dikafe" Ucap Handika yang masih fokus dengan mengemudi kendaraannya.


"Mia sayang" Ucap Santika yang sudah melihat Mia menangis seseguhan.


"Ibu,,papa" Ucap Mia langaung menghapus air matanya.


"Sayang,,,kenapa harus pergi sih" Ucap Santika memeluk anaknya.


"Mia cuman sedig saja bu,,,Mia akan kesepian kembali seperti halnya 4 tahun lalu" Ucap Mia juga menangis kembali dipelukan Santika.


"Sayang,,,ada papa dan juga ibumu" Ucap Handika.


"Bahkan ibu akan ditinggal sendiri karena kamu sekarangkan sidah kerja sayang. Kita tidak bisa egois sayang" Ucap Santika menjeleskan pada Mia.


"Ibu,,,,Mia sudah egois yaa pada abang Mia,,,hiks hiks hiks " Ucap Mia makim nangis.


"Tidak sayang,,,kamu memang pantas berekspresi begitu. Kkta pulang yaaa" Ucap Santika menghapus air mata Mia.


"Papa juga sebenarnya sedih,,,tapi kitakan masih bisa bertemu mereka. Nanti kalau kita rindu dengan mereka kita masih bisa kerumah merekakan" Ucap Handika.


"Makasih yaa bu Pa" Ucap Mia memeluk keduanya.


"Tapi ibu sama papa tau Mia disini dari mana?" Ucap Mia yang sudah agak baikan.


"Hahahah,,,tidak penting ayooo kita pulany baby Wilken sudah nangis karena onty paling cantiknya main lari lari tidak mengajak dia" Ucap Handika.


"Agh,,,papa dari siapa?" Rebggek Mia.


"Kamu tau Wijaya punya kekuasaankan sayang" Ucap Santika.


"Susah benar jadi keturunan Wijaya" Ucap Mia lalu berdiri.


"Kita pulang ayo" Ucap Handika menarik kedua wanita yamg paling dia cinta itu.


Ketiga sudah tiba diparkiran kediaman Handika,,,Eijaya dan yang lainnya menyadari kedatangan mereka itu.


"Mia sayang,,,kemarilah cu" Ucap Wijaya yang masih menggendong Wilken.


"Mia minta maaf yaa" Ucap Mia dengan tunduk.


"Kamu tidak salah sayang,,,,kemarilah" Ucap Wijaya,,sedangkan yang lain hanya diam dengan senyum mereka masing masing. Karena itu sudah perintah Wijaya.


"Iya opa" Ucap Mia yang sudah berada didepan mereka.


"Kemarilah,,disini" Ucap Wijaya menunjuk satu pahanya.


"Duduk disini" Tinjuk Mia bagian paha kanan Wijaya sedanglan Wilken ada dilengan kirinya.


"Iya,,,duduklah. Opamu ini masih kuat menopang kalian semua" Ucap Wijaya,,Mia langsung duduk dengan sedikit mengurangi berat badannya.


"Kalian semua dengarkan ini,,,,ini harus kalian lakukan terus walaupun saya sudah tidak ada. Kalian semua sudah mempunyai istri dan bahkan kalian akan disibukan dengan mengurus anak lagi. Tapi dengar ini cucuku yang ada dipangkuan kanan ini tidak boleh kalian abaikan sesibuk apapun itu kalian harus tanyakan kabarnya tiap hari bahkan jika dia sudah bersuami nanti" Ucap Wijaya.


"Tapi kenapa harus begitu opa?" Tanya Mia,,,sedangkan Santika Handika Mirna Marsel sudah paham maksud Wijaya itu.


"Benarkah" Ucap Maxel ya g baru tau kenyataan itu.


"Maxel opa bilang diam,,diam yaaa" Ucap Wijaya.


"Maaf opa" Ucap Maxel.


"Maksudnya susah diselamatkan bagaimana oma?" Tanya Mia.


"Yaa,,,kami sangat sulit harus memilih siapa. Disatu sisi nyawa ibu yang sangat dibutuhkan oleh ketiga abangmu yang waktu itu dibilang masih sangat kecil tapi disisi lain kami sudah sangat lama menanti kedatanganmu" Ucap Wijaya.


"Kami dipusingkan dengan pilihan yang sangat sulit itu,,,ibumu terus ngotot kalau nyawanyalah yang harus dikorbankan demi kau untuk dunia ini,,,tapi kau juga pasti taukan bagaimana cinta papapu terhadap ibumu. Saya langsing mengambil keputusan kamu dilahirkan secara prematur. Tubuhmu saat itu sangatlah kecil bahkan lebih kecil dari akua,,,,kamu dirawat dan diusahan harus bisa bertahan. Dokter terbaik diseluh dunia kami kumpulkan untuk merawat kamu. Dan pada akhirnya kamu bisa bertahan untuk kami dan yang lainnya" Ucap Wijaya.


"Kami semua memiliki nazar untuk kehidupannmu sayang" Ucap Mirna.


"Nazar,,,gimana oma?" Tanya Mia yang masih bingung.


"Saya dan omamu bernaxar untuk selalu mengikuti apapun yang kamu ma dan memaafkan apapun yang kamu lakukan" Ucap Wijaya.


"Dan untungnya kamu selalu melakukan yang membuat kami bangga sayang" Ucap Mirna.


"Sedangkan saya dan papamu,,,selalu menyangimu dan selalu memberikanmu lasih sayang bahkan kamu tua nanti" Ucap Santika dengan memegang tangan Handika.


"Sedangkan nazarku,,,abang akan selalu menyangimu sekalipun nanti abang sudah beristri kamu tidak akan dikepinggirkan dihari abang" Ucap Marsel,,,Rika pun senyum melihat Mia.


"Apa saya juga bernazar Opa?" Tanya Maxel.


"Tentu,,,karena kau masih umur 7 tahun kemarin jadi kamu mungkin sudah lupa. Nazarmu kamu akan menyayangi Mia selamanya" Ucap Wijaya.


"Begitupun dengan nazar Mario" Lanjut lagi Wijaya. Tak sadar Mia meneteskan air mata karena haru mendengar pengobarkan ibunya.


"Jangan menangis dong sayang" Ucap Handika yang melihat air mata itu.


"Terimah kasih yaaa" Ucap Mia dengan mengecup pipi Wijaya.


"Opa ini susah memdapatkan keturunan perempuan,,,itulah sebabnya kami sangat bahagia kamu lahir. Dan kalian semua semoga kalian bisa mendapatkan keturunan perempuan yaaa" Ucap Wijaya pada selutuh cucu menantunya.


"Aamiin" Ucap Semuanya.


"Patas saja hanyalah Mia yang pinng cantik" Ucap Mia.


"Iya dong sayang" Ucap Mirna.


dutttt dutttt


"Agh,,,Siska. Mia angkat dulu yaaa" Ucap Mia langsung menjauh dari keluarganya.


#📞Siskatil


"Hummm apaan" Ucap Mia.


"Cih,,,,,mentang mentang yaaa looo" Ucap Siska membuat Mia tertawa.


"Napa loo bahagia bangat kurasa" Lanjut lagi Siska.


"Tidak ada alasan gue untuk sedih ****"Ucap Mia masih tertawa kecil.


"Tapi,,,,ada apaa.Sudah sampai loo" Lanjut Mia.


"Sejak tadi,,,jadi gue akan ketemu siapa disini ****. Loo yaa kirim gue disini trus gak ngasih tau kepada siapa gue harus bertemua" Celoteh Siska membuat Mia tepuk jidat.


"Astaga loo kenapa main pergi pergi ajak gak nanya dulu kontakmya kekgue,,,,sumpah loo begonya gak ketolong" Ucap Mia.


"Yaa elah gue yang salah. Agh kirim aja kontaknya gue capek berdebat mau istirahat dulu" Ucap Siska.


"Langsung kirim yaa bay" Ucap Siska langsing mematikan panggilannya.


"Hiii,,,,anak ini tidak berakhlak yaaa" Ucap Mia pada ponselnya. Mia langsung mengirimkan kontak yang akan Siska temuai memalui aplikasi *whatss up.


terimah kasih masih tetap stay dikaryaku,, jangan lupa untuk tinggalkan jejak bacanya dengan cara like komen dan VOTE sayang🌹*