Mia Ayunda

Mia Ayunda
BAB12



Jangan lupa like vote dan komen yaa 💜🙏😊


~~


Mario telah tiba didepan ruang ICU itu melijat bingung terhadap Handika dan laiinnya sedang menangis,Mario dengan cepat mendekat kearah mereka.


"Apa yang terjadi kenapa kalian menangis ha? " Tanya Mario dengan ikut melantai dengan Handika dan Marsel, sedangkan Siska Amel dan Raka sandar didinding rumah sakit.


"Mia, Mia" Ucap Marsel sengan menangis.


"Apa yang terjadi dengan Mia katakanlah dengan baik" Bingung Mario.


"Mia sudah bersama ibumu Rio" Ucap Handika dengan tangisan yang pecah, mendengar kaliamat itu Mario langsung berlari kedalam melihat Mia. Mia sudah ditutupi kain putih, dengan cepat Mario membuka kainntu. Maril menangis dan memeluk adik manjanya itu.


Dengan cepat Mario memasang alat untuk mengumpan nafas Mia, suster mendekat


"Maaf tuan dokter sudah melakukan itu tapi tidak bisa" Ucapnya kepada Mario.


"Sudalah jika kalian tidak suka melihat ini kelaur saja" Ucap Mario.


Mario mengambil suntik untuk mengambil sampel darah Mia, setelah menyutik Mia,Mario melihat suster itu.


"Cek ini dilaboratorium, hasilnya bawahlah kesini" Ucapnya dengan cepat Suster itu ambil dan merlari menuju laboratorium untuk mencek semuannya.


Semua yang ada diluar kaget mendengar lari suster, dokter yang masih berdiri menemani mereka diluar langsung masuk didalam.


"Tuan apa yang ingin kau lakukan?" Tanyanya melihat Mario.


"Sudahlah dok, lakukan saja apa yang saya perintahkan kita hanya punya waktu 30 menit" Ucapnya dengan menekan dada Mia.


Suster tiba dengan membawa hasil itu, Mario langsung mengambil dan membaca hasil itu.


"Baiklah, dari hasil kita harus melakukan pencucian darah" Ucapnya langsung melakukan. Mia yang sudah dinyatakan tidak bernyawa itu telah dibawah keluar ruangan menujuh ruangan khusus untuk melakukan pencuan darah.


Handika dan lainnya histeria melihat Mia dengan muka pucatnya. Mario berhenti mendekati mereka.


"Berhentilah menangis, berdoalah agar Mia masih bersama kita" Ucapnya dengan menenagkan mereka.


"Baiklah sayang lakukan yang terbaik untuk adikmu" Ucap Handika.


"Itu akanku lakukan pa" Ucapnya langsung meninggalkan mereka, Handika dan yang lainnya mengikuti langkah Mario. duttt duttt ponsel Marsel kembali berbunyi terlihat nama Maxel disana.


"Assalamualaikum bang bagaimana keadaan Mia, saya sangat tidak tenang terus memikirkan dia" Ucap Maxel, Marsel tidak menjawab apapun karena dia bingung harus beri pernyataan bagaimana diharus katakan sudah tidak ada tapi Mario sedang berusaha untuk hidup Mia.


"Ah iya, Mia masih dalam tanganan Mario de, kita tunggu kabar dari Mario saja" Ucapnya.


"Mario, Mario sudah disitu?" Tanyanya.


"Sudahlah saya matikan" Jawabnya langsung mematikan panggilannya.


^


Maxel dengan gegas memerintahkan kepada asistennya untuk menyiapkan penerbangannya diindonesia, Maxel sudah tidak tenang dengan perasaannya.


"Ari perintahkan kepilot untuk penerbanganku sekarang, beritahukan kesekretarisku semua pertemuanku hari ini dibatalkan" Ucapnya dengan pergi meninggalkan Asistennya.


"Maaf tuan, biar saya yang menggantikan pertemuan ini" Ucapnya, Maxel langsung membalikan badan melihat Ari.


"Baiklah, lakukanlah yang terbaik karena kamu juga tau tangan perusahaan sekarang ada ditanganmu, saya minta maaf audah merepotkan diri" Jawabnya.


"Tidak masalah tuan, lakukanlah perjalanan tuan, maaf saya tidak bisa mengantar tuan dibandara karena pertemua tinggal 15 menit lagi" Ucap Ari.


"Terimah kasih Ari, kau memang terbaik, saya berangkat" Ucapny langsung pergi.


"Hati hati tuan" Teriak Ari, Maxel hanya memberikan jempolnya ke Ari.


^


Dirumah sakit Mario melakukan yang paling yerbaik untuk keselamatan Mia lebih tepatnya untuk mengembalikan nyawanya jika Allah berkehendak. Alhasil Mario berhasil karena kekuasaan Allah melalui tangan Mario, Mario berhasil mengembalikan detal jantung Mia.


Semua dokter melihat kagum kepada Mario, mereka tidak habis pikir dia bisa melakukan semua ini, apalagi Mario yang masih mau menyelesaikan studinya, tentu luar biasa buka. Mario menangis karena bisa mengembalikan detak jantung itu, memeluk dan mencium Mia, Mario sangat bahagia karena bisa masih diberi kesempatan untuk melihat senyum dan manja sang adik. Mario keluar dari ruangan itu dengan mata sembap Handika dan yang lainnya mendekat, Mrio duduk dikursi tunggu diruangan ICU itu.


"Bagaimana nak, apa kau berhasil?" Tanya Handika dengan jongkok didepan Mario, dengan cepat Mario membimbing Handika duduk disamping kanan sedangkan kiri ada Marsel, Siska Amel dan Raka berdiri.


"Iya pa, Mario berhasil mengembalikan Mia" Ucapnya dengan memeluk Handika.


"Alhamdulillah terimah kasib nak, kau adalah kakak terbaik untuk Mia" Ucapnya dengan membalas pelukan Handika. Mendengar kalimat yang diucapkan Mario semua kembali menangis tetapi kali ini tangisan bahagia, semua mengucapkan syukur kepada sang kuasa.


"Semua kehendak Allah pa, Mario hanya perantara untuk itu" Ucapnya dengan melepaskan peluakannya.


"Kenapa kalian menangis apa yang terjadi pada Mia? " Ucapnya, semua menoleh kearah suara itu tampak kaget, terutama Marsel.


jangan lupa like vote dan komen ya manteman 💜🙏