Mia Ayunda

Mia Ayunda
BAB 1



JANGAN LUPA LIKE KOMEN DAN VOTE YANG BANYAK YAA TEMAN TEMAN πŸ’œπŸ™


^


dikediapam Anesa, sedang berpesta karena kepuasannya mengerjai Mia, Anesa mulai menyusun rencana lainnya jika Mia masih mendekati Rakanya.


"Setiap hari beri dia kotak canti" Ucap Anesa pada seorang penyuruhnya.


"Baiklah nona itu gampang untuk" Jawabnya.


"Kerjakan dengan baik, jangan sampai Raka mengetahui ini" Ucapnya lagi.


"Tenanglah semua akan aman nona" Jawabnya lagi.


"Pergilah persiapkan itu untuk hadianya besok pagi" Ucap Anesa. Orang tersebut keluar dari kediaman Anesa untuk menyelesaikan tugasnya. Anesa sangat bahagia karena dia menemukan kelemahan Mia.


^


Dalam perjalan pulang Amel dan Siska mereka dihubungi oleh bang Mario, keduanya sangat takut karena mereka tidak melakukan apa yang diperintahkannya. Tetapi jika mengabaikan panggilan itu hidup mereka tidak akan aman pasti dihantu oleh Mario. Amel langsung menekan tombol jawab dengan gemetar.


"Assalamualaikum bang" Ucap Amel.


"Waalaikum salam, kalian ini terlalu berani tidak menjalankan tugas dariku" Ucap Mario.


"Maaf bang Mia yang melarang kami untuk membalaskan dendammu, kata abang sendiri yang akan menghukumnya" Ucap takut Amel.


"Saya lagi sibuk hingga tidak bisa memikirkan hukuman untuk si sampah itu" Ucapnya.


"Apa kami harus kembali dikampus bang? " Tanya Amel.


"Tidak perlu, tapi ingat selalu berada disampung Mia, jika hari ini terulang lagi saya akan keindinesia untuk menghukum kelalaian kalian" Ancam Mario.


"Ba_ik bang" Ucap gemetar Amel.


"Hmm, abang putuskan panggilannya, berhati hatilah dalam mengemudi sampaikan juga pada Siska" Ucapnya langsung mematikan panggilannya. Mereka melanjutkan perjalanan menuju rumah Amel terlebih dahulu.


^


Dikantor Ranaya group Raka memimpin rapat dengan investor yang ingin menanamkan sahamnya keperusahaan Ranaya, Ranaya sedang diluar kota karena itu Raka yang melakukannya. Ranaya selalu mempercayai putranya itu dan jasilnya tidak pernah mengecewakan baginya.


Raka dengan kepintarannya sehingga bisa menaklukan rapat tersebut, Raka berhasil membuat penanam sahamtersebut menanamkan sahamnya kepada perusahaan Ranaya group. Rapat telah selesai, Raka langsyng keluar dan pergi kerumah Mia. Waktu sudah sangat sore tapi dia ingin melihat sebentar untuk memenuhi janjinya tadi siang.


^


Dikediaman Handika Wijaya, rumah itu sangat besar menghuninya hanyalah pelayan. Mia sedang tidur dikamarnya, sedangkan Handika masih dikantornya.


Raka tiba dikediaman Handika, dengan cepat Raka masuk dalam rumah yang langaung disambut oleh bu Rina.


"Selamat sore bi, Mia dimana? " Jawanya.


"Mia ada dikamarnya tuan muda" Jawab sambil menunjuk kamar Mia.


"Baiklah, saya akan menemuinya sebentar" Ucapnya.


"Silahkan tuan muda, kamarnya ada diatar pintu ketiga dari sini, apa saya antar"Ucap bu Rina.


"Tidak perlu bi, terimah kasih" Ucapnya sambil meninggalkan bu Rina.


Raka berjalan menujuh kamar Mia dengan tuntunan buRina tadi, Raka berhenti sebentar dan berjalan menuju pintu kamar Mia. Tokkk tokk tokkk tidak ada sahutan dari dalam, Raka mencoba membuka pintu dan ternyata tidak dikunci. Terlihat ada Mia yang sedang tidur dengan pulas diranjangnya Raka mendekati Mia dan duduk disamping ranjang, melihat wajah sedu Mia, menatap lekat lekat betapa cantinya Mia walaupun ada jilbab menutupi rambutnya. Raka membelai lembut kepala Mia tetapi langsung dihentikannya karena badan Mia yang sudah sangat panas, Raka langsung mengangkat tubuh kecil itu dan membawahnya dibawa.


"Bi, bi siapkan mobil menuju rumah sakit" Teriak Raka. Dengan cepat Bu Rina berlari keluar memerintahkan supir rumah untuk mempersiapkan mobil.


Raka dan Mia memasuki mobil keduanya duduk dibelakang, denga cepat supir menyalahkan mobil dan mengijak gas meninggalkan kediaman Handika menuju rumah sakit.


Raka telah tiba dirumah sakit milik keluarga Wijaya, suster langsung membawa Mia keruangan ICU dilantai khusus keluarga Wijaya.


Kabar ini telah tiba diteliga ketiga kakaknya, ketiganya langsung melakukan menerbangan dengan pesawat pribadi mereka masing masing. Handika belum diberi tau karena pada saat dihubungi telponya sedang tidak aktif.


Raka sangat cemas mengintip dibalik pintu kaca ruangan itu, rasanya Raka ingin mengantikan Mia jika itu bisa. Siska Amel juga berada dirumah sakit mereka sangat takut karena ini akan menyebabkan keluarga Handika panik.


Dokter keluar dari ruangan itu dengan cepat Raka menghampirinya.


"Dok bagaimana kondisinya? " Tanya Raka.


"Kondisi pasien sangat lemas tuan?" Jawabnya.


"Lakukanlah yang terbaik untuknya dok" Ucap Raka.


"Itu sudah pasti tuan, biarkan pasien menginap disini agar kami bisa mengeceknya setiap saat" Ucap dokter.


"Baiklah, saya akan menghubungi keluarganya" Ucapnya.


Dokter telah pergi meninggalkan mereka tidak lama Mia keluar dari ruangan ICU, Raka mendekat melihat betapa pucatnya dan sedunya wajah kekasihnya itu. Mia sudah tiba diruanga VVIP dilantai itu. Waktu sudah sangat malam ketiganya masih setia menunggu Mia membuka matanya. Handika masih belum bisa dihubungi.


Marsel telah tiba diloby rumah sakit dengan berlari Marsel menuju lift dan menekan lantai khusus keluarga Wijaya terdapat dilantai paling atas dirumas sakit itu. Lift terbuka Marsel langsung menuju ruangan Mia. Terlihat ada tiga orang didalamnya Siska dan Amel sudah tidur disofa sedangkan Raka masih terjaga disamping ranjang Mia. Marsel mendekati Raka dan Mia.


"Bagaimana kedaan Mia Raka?" Tanya Marsel. Raka langsung menoleh kebelakang dan berdiri.


"Dia belum juga siuman sejak tadi bang" Jawabnya.


Maxel dan Mario telah tiba membuat keduanya mendekat kepada Raka dan Marsel kekhawatiran terlihat diwajah kepada ketiga abangnya itu.


Jangan lupa like komen dan vote yaa teman temanπŸ’œπŸ™