Let's, Divorce

Let's, Divorce
Part 99



🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


"Hai Pangeran," ucap Viana saat bayi mungil yaitu anaknya sendiri sudah ada dalam dekapan. Ini pertama kalinya bagi wanita itu menggendong Sang putra selain memangku ingin di susui.


Jangan di tanya bagaimana anak laki-laki itu sekarang, senyumnya mengembang menambah ketampanannya sebagai keturunan Bramasta yang di sayangi semua orang.


Andra yang menoleh dengan mata berkaca-kaca langsung di usap punggungnya oleh Bunda, ibu sambung Viana itu sama terharunya melihat Pangeran begitu nyaman dalam pelukan Mommynya, ia harus menunggu beberapa waktu sampai tangan wanita tebaimnyay terulur lalu mendekap.


"Bahagia selalu ya kalian, Bunda senang melihat seperti ini," ujar wanita berhijab coklat dengan tatapan haru karna apa yang di doakan kini sudah bisa ia lihat sendiri.


Andra mengangguk sampai akhirnya ia tak mampu lagi bisa menahan air matanya yang jatuh di pipi kanan sambil masih saling menatap dengan sang ibu mertua.


Pemandangan yang sejak kemarin-kemarin sangat di dambakan itu kini begitu sangat di nikmati oleh dua orang yang hanya bisa tersenyum dan tak ingin mengganggu hingga sampai akhirnya Viana kaget ketika Pangeran sedikit merengek.


"Bunda, Andra--, bayinya kenapa?"


Kepanikan Viana membuat dua orang yang berdiri berdampingan tersebut langsung menghampiri.


"Gak apa-apa, Pangeran pasti haus. Bunda yang bikin susunya dulu dan Via tetap tenangin ya."


Viana menoleh kearah suaminya yang mengangguk pertanda wanita itu harus tetap dengan posisinya yaitu mendekap dan menenangkan Pangerang sepertinya haus ingin tidur secara ia juga habis di mandikan.


.


.


.


Satu hari ini Andra selalu mengembangkan senyum, ia bahagia melihat anak dan istrinya berada di satu ranjang sepanjang waktu karna sebelum-sebelumnya Viana selalu takut jika Pangeran terganggu tidurnya dengan pergerakan yang ia lakukan. Padahal asal ia tahu, justru bayi mungil itu begitu tenang saat bersama Mommy meski memang kadang Viana tak mau diam karna kecemasannya sendiri.


"Kakimu masih nyeri?" tanya Andra setelah ia meletakkan botol susu kosong putranya ke atas nakas.


"Besok pagi kita jalan-jalan lagi sambil bawa Pangeran ya," saran Andra.


Viana diam sejenak lalu ia menoleh kearah Pangeran yang belum juga tidur padahal sudah lebih dari jam 8 malam, biasanya bayi itu akan terlelap saat sudah menghabiskan susunya tapi berbeda dengan malam ini yang kedua matanya masih saja terbuka lebar dengan sesekali tersenyum saat di panggil dan diajak bicara.


"Apa nanti gak nangis?" tanya Viana yang malah membuat Andra tertawa kecil.


"Kalau Pangeran nangis, jangan takut ya, kan itu memang kerjaaan bayi," kata Andra memberi pengertian agar istri cantik berpipi bulat itu tak lagi panik dan menjauh saat putra mereka merengek.


"Kerjaan bayi?" Viana yang tak paham bertanya sambil mengernyitkan dahinya. Sebagai ibu muda yang dulu hanya masuk kuping kiri keluar kuping kanan nyatanya kini membuat ia tak tahu apa-apa.


"Iya, kerjaan bayi kan kalau gak nangis ya susu, PUP atau pipis, Mom," jelas Andra sambil terkekeh karna Viana juga langsung tersenyum.


"Enak ya, jadi pengen kaya bayi," balas Viana yang terlihat gemas pada Pangeran yang tersirat pada tatapan matanya yang kini tak ada lagi sorot khawatir dan takut.


"Jangan, kamu cukup jadi Mommy aja, karna kamu punya kerjaan juga," kata Andra, dahi wanita itu pun mengernyit lagi tak mengerti dengan semua ucapan suaminya.


"Apa?" tanya Viana.


.


.


.


.


Bikin bayi bareng aku...