
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Andra yang terbangun di jam 2 malam memang tak tidur lagi karna Pangeran malah bermain sampai pagi, bayi menggemaskan itu tak menangis sama sekali seolah tak ingin mengganggu Mommy nya yang terlelap terbuai mimpi.
"Andra---," panggil Viana sambil menggeliat di atas ranjang.
Andra yang baru keluar dari kamar mandi tak menjawab, ia langsung mendekat dan mencium pipi Viana yang kini sedikit sudah tirus kembali.
"Morning Kiss, Mommy," bisik Andra.
Wanita manapun akan bahagia di perlakukan seperti itu, termasuk Viana yang selalu di usahakan awal harinya bahagia oleh Andra.
"Kakiku sakit," keluh Viana yang langsung membuat Andra menyibakkan selimut yang masih menutupi tubuh istrinya itu.
"Loh, kok bengkak ya?"
Viana yang ikut bangun sama kagetnya dan yang lebih parah ia langsung menangis sesegukan melihat bagian tubuhnya itu.
"Udah, gak apa-apa, mungkin kamu kurang gerak, Vi."
"Tapi aku takut, aku takut gak bisa jalan."
"Bisa, ayo bangun pelan-pelan kita keluar ya, mumpung masih pagi," ajak Andra yang sama takut dan khawatirnya.
"Kita keluar, kamunya mau gitu aja?" tanya Viana yang melihat kearah suaminya.
Meski suaminya itu tak berotot dan tak punya roti sobek di bagian perut, rasanya ia tetap tak rela bagian atas tubuh Andra di lihat siapapun, Viana juga tak bisa membayangkan jika handuk yang di pakai pria itu sampai jatuh ke lantai nanti.
Lalu? apa kabar dengan Si Jendolan yang sudah mulai puasa sejak beberapa hari sebelum Pangeran lahir menyapa dunia.
"Tapi apa?* tanya Viana.
"Kamu gak kangen sama ini?" Andra balik bertanya sambil meraih tangan sang istri kearah bagian inti miliknya yang sudah seperti batu.
"Kapan bangun?"
"Tiap deketin kamu juga gini, sensitif banget dia pengen di usap manjaaaah," bisik Andra yang sengaja di telinga Viana.
Pangeran yang sejam lalu sudah di bawa oleh Bunda ke teras untuk di jemur tentu membuat pasangan suami istri itu punya waktu untuk berdua setelah sekian hari melewati hari berat yang sangat menguras segalanya, perasaan, tenaga, emosi dan pastinya rasa sabar.
Tanpa basa basi, Andra menarik tengkuk wanita halalnya tersebut. Bibir yang ia rindukan kini mulai ia nikmati dengan sangat lembut, mengalirkan cinta yang baru saja tumbuh di hati masing-masing hanya karna terbiasa bersama bukan perihal jatuh cinta pada pandangan pertama.
******* pun akhirnya lolos, tapi Andra tak melakukan lebih dari yang semestinya. Ia hanya menciumi wajah hingga leher sambil tangannya tetap merayap sesuka hatinya ingin singgah di mana. Napsunya tentu menggebu, semakin lama ia beraksi nyatanya Andra semakin memperdalam ciumannya sampai Bibir yang menurut Viana sangat manis itu jatuh di dua bongkahan daging kenyal yang seharusnya di miliki sementara oleh Sang pengeran.
Andra begitu sangat menikmati perannya sebagai pria dewasa normal yang sedang terbakar bir4H! nya hingga ia tak kuat lagi menahan apa yang sedang bergejolak dalam dirinya terutama pada bagian inti yang kini sedang meronta ingin di tuntaskan.
"Kenapa? kamu mau kemana?" tanya Viana saat Andra melepaskan sesapannya dari salah satu bukit yang menyenangkan untuk pria itu di singgahi.
.
.
.
Olah raga tangan, Mom...