Let's, Divorce

Let's, Divorce
Part 87



🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


"Andraaaaaaaa!" teriak Viana saat bibirnya di lepas oleh pria yang barusan tiba-tiba menangkup wajahnya dengan kedua tangan.


"Apa?"


"Bibirku, ya ampun, aku udah gak perawan semuanya," ujarnya sedih karna itu adalah ciuman pertama baginya tepatnya bagi mereka berdua.


Saat kejadian hari yang menyebabkan Viana hamil, Andra hanya fokus pada menu utama dimana Si Jendolan bermain petak umpet di rawa basah milik istrinya tanpa ada menu pembuka dan penutup lebih dulu, jadi tak salah jika Viana sempat membenci dan masih takut untuk mengulangnya lagi sebab sakitnya tak pernah ia rasakan sebelumnya.


"Maaf, kamunya sih gemesin banget, Vi. Bangun tidur itu kan lagi napsu napsunya," kata Andra yang memang bagian intinya masih bangun meski tak terlalu gagah, di pancing dengan drama salah benarnya suami istri malah membuat Andra ingin menggigit bibir yang selama ini cukup menjadi incarannya tersebut.


Kadang, status halal di antara mereka justru membuat hasrat Andra menggebu karna ia tak memikirkan dosa atau akibat yang ia dapat setelahnya, justru kepalanya selalu pusing karna terus berkhayal saking penasaran dengan rasa yang pastinya membuat ia melayang. Andai Viana paham dengan kode yang ia berikan setiap Andra memeluk dan menenggelamkan kepalanya di ceruk leher mungkin ia akan kembali merasakan himpitan nikmat di sebuah lorong dengan sensasi berbeda.


Tentu, karna jika di beri kesempatan, Andra tak ingin mengulangnya seperti yang kemarin, ia akan memberi kesan jauh lebih indah, manis dan tentunya akan nikmat sebab melakukannya dengan penuh perasaan dan suka sama suka.


Viana yang merengut tentu kembali di rayu, akan berat harinya jika sang istri sudah mengeluarkan mode kesal karna kali ini memang Andra yang salah sudah mencium bibir secara tiba-tiba meski hanya sebatas ******* sekilas.


"Maaf, Vi. Aku balikin ya," goda Andra yang tangannya di tepis dari bibir Viana.


"Gak! balikin itu kamu cium aku lagi kan?"


"Ya emang balikin itu kan gitu, Viana."


"Kamu pikir aku bodoh? kardusin aja terus," sindir Si Bumil yang kemudian turun dari ranjang dan keluar dari kamar meninggalkan Andra yang katanya sedang napsu napsunya itu.


"Kalo kaya gini, mending haram deh ketauan gue tahan. Lah ini, lebel halalan toyiban tapi susah banget nyolek nya. Pegel nih tangan!" gerutunya sambil bergegas ke kamar mandi.


Ada yang harus di tuntaskan oleh Andra , padahal semua itu harusnya jadi hadiah untuk babynya saat di tengok. Tapi sayang, jalan menuju kesana masih terhalang oleh rasa takut istrinya.


.


.


.


Viana yang turun ke bawah begitu sangat hati hati saat menuruni tangga. Ia yang ditawari untuk pindah ke kamar tamu tetap menolak dan kekeuh ingin di lantai atas saja karena kamar itu memang sesuai pilihannya meski tak terlalu besar.


"Vi, kamu beneran mau makan ini aja?" tanya Bunda saat pagi tadi anak sambung nya itu hanya mau bihun goreng dengan sambal kacang.


"Iya, Bunda bikin bakwan sayurnya juga kan?" tanya Viana setelah ia duduk di kursi meja makan.


"Bikin, nanti baru mau di goreng."


"Via yang goreng ya, Bun," tawar wanita yang sedang berbadan dua tersebut.


Bunda yang hanya mengangguk sambil tersenyum. Ia membantu Viana untuk bangun kembali dari duduknya tak lupa ia juga mengusap penuh sayang calon cucunya itu.


Viana yang hamil, nyatanya Bunda yang begitu antusias sampai tak sabar bayi itu untuk cepat lahir karna pastinya rumah ini akan sangat ramai oleh tawa, tangisan dan celoteh anak kecil.


"Awas hati hati kena minyak ya, nanti Andra marah padamu karna khawatir," pesan Bunda yang hanya di iyakan oleh Viana yang sampai detik ini masih menyandang status Anak tunggal.


Sambil mengobrol dan bercerita tak terasa semua makanan untuk makan bersama nanti kini sudah selesai dan siap di sajikan di atas meja makan.


Bibi yang sedang membereskan semuanya kadang tersenyum kecil ketika mendengar keluhan Nona mudanya tentang apa yang ia rasakan.


"Kamu tuh, masa anak sendiri di katain Barongsai," cetus Bunda tak suka.


"Abisnya gak mau diem, kaya lompat kesana lompat kesini, atau mungkin ayun ayunan ya," kata Viana dengan mulut terus mengunyah apa yang ia goreng barusan.


Bunda pun tertawa, akan lain ceritanya jika sampai dulu Viana berhasil mengggurkan kandungannya dengan cara aborsi. Tak bisa di bayangkan jika justru tak hanya bayinya saja tapi juga beserta ibunya yang tak selamat. Entah duka yang seperti apa yang akan menyelimuti dua keluarga besar tersebut.


"Nikmati saja, tak semua orang seberuntung kamu, Sayang."


Viana yang paham langsung merutuk dirinya sendiri yang kurang ajar dan seenaknya banyak mengeluh karna wanita berhijab di depannya kini justru sedang ingin sepertinya.


"Bunda--, maaf." Viana langsung berhambur memeluk ibu sambung nya itu. Ayah tentu juga tak tinggal diam, ia berusaha sampai melakuan banyak pemeriksaan demi hadirnya lagi keturunan.


"Maaf, untuk apa, Sayang?"


"Nanti kita jaga dan sayang anak ini sama sama ya, Bunda," ujar Viana yang sampai membuat Ibu sambungnya terharu.


Mereka yang tak terpaut umur yang jauh memang kadang jauh lebih saling memahami karna bisa jadi sahabat dan teman bertukar cerita, Bunda pun tak pernah memarahi atau pun menggurui, ia selalu mengajak bicara Viana dari hati ke hati.


Hanya saja, Bunda tetap kecolongan untuk masalah kemarin sebab Sang putri tak menceritakan bagaimana perlakuan Andra saat mereka melakukan hak dan kewajiban layaknya suami istri.


Viana tak berani mengadu atas sikap kasar Andra karna malu dan ia pikir orang lain tak perlu tahu bagaimana buruknya Andra memperlakukannya. Viana takut, saat mereka mungkin sudah baik-baik saja, keluarganya justru masih menyimpan kesal atau yang lebih parah adalah dendam pada suaminya itu.


.


.


Viana yang jarang sekali memasak langsung saja berkeringat padahal hanya beberapa saat di depan kompor dan minyak panas, tapi semua bisa di maklumi karna Bumil memang mudah sekali gerah dan begah.


"Via kamar dulu ya, Bun. Mau mandi," pamitnya sambil bangun.


"Iya, bawakan juga untuk Andra di kamar, dia sudah bangun belum?" tanya Bunda karna tadi Via bilang suaminya itu sedang tidur.


"Hem, udah. Entah tidur lagi mungkin," jawab Viana sembari mengambil satu piring berisi bakwan sayur dan sambalnya di mangkuk kecil.


"Hati-hati, Via."


Viana menaiki tangga satu persatu dengan pelan, jika dulu ia bisa sambil berlari tentu tidak dengan kali ini yang ia harus berjuang sendiri jika tak di pegangi oleh Andra sampai ke kamar.


Cek lek


Pintu di buka Viana dan di dorongnya menggunakan lengan bahu, Andra yang melihat pun lansung menghampiri untuk mengambil apa yang di pegang istrinya itu.


"Aku bikin bakwan, mumpung masih anget."


"Kamu yang bikin?" tanya Andra yang tentunya tak percaya karna seingat Andra, Viana belum bisa membedakan mana Lada dan Ketumbar.


"Bibi sama Bunda yang bikin, aku cuma goreng sama nyicipin," sahut Viana sambil terkekeh.


Dan, jawaban itu tentunya yang paling bisa di yakini kebenarannya oleh Andra.


"Gak usah senyum senyum gitu, aku cocol sambel nih ya tuh bibir!" ancam Viana kesal karna ia tahu jika itu sebuah ledekan untuknya.


"Gak apa-apa, asal sambelnya dari bibir kamu," sahut Andra.


Kini, kode yang di berikan pria itu mulai tepat sasaran dan terang terangan berharap tak membuat sang istri harus berpikir keras lebih dulu untuk sampai di tujuan yang di maksud.


"Awas kamu!"


Viana yang sudah tak kuat lagi menahan gerah di tubuhnya pun bergegas untuk masuk ke kamar mandi, ia langsung membuka seluruh pakaiannya hingga polos tak menyisakan benang sehelai pun di tubuhnya itu. Jika sedang tak buru-buru, ia seringkali memperhatikan dirinya sendiri di depan cermin, mulai dari ujung rambut hingga kaki tentu semua kini berbeda, lebih besar dan berisi terutama pipi dan dadanya yang bulat berisi.


"Apa nanti aku nyusUin? atau bayi ini ku kasih sufor?" gumam Viana sambil mengusap dua bongkahan daging kenyal yang belum di nikmati suaminya tersebut.


Ia bingung, karna rencananya ia akan tetap kuliah usai melahirkan nanti, lalu bagaimana bisa ia membagi waktu dan fokusnya?


"Huft, sehat sehat ya otak, kamu terlalu bekerja keras akhir akhir ini untuk memikirkan banyak hal."


Viana tertawa kecil dan mulai bergegas memulai ritual mandinya di bawah guyuran air shower.


Dan setelah tubuhnya basah itulah, Viana kebingungan sendiri, karena...


.


.


.


Perasaan sabun cepet banget abisnya sih?!