
🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Miiiih, Abul yaaaa
Viana yang kaget sedikit membulatkan kedua matanya saat mendengar apa yang di katakan Pangeran barusan, namun ia tersenyum ketika ada suara gelak tawa renyah orang tuanya terutama Ayah.
Ya, Ayah kini terlihat lebih bahagia saat Pangeran hadir di tengah-tengah mereka. Karna belum adanya anak dari Bunda, otomatis Sang cucu lah yang mendapat limpahan kasih sayangnya.
Ayah yang punya luka sendiri tentang masa lalunya yang kenyang di khianati semakin bangkit dari rasa itu seiring tumbuh kembang Pangeran yang semakin menggemaskan.
"Siapa yang kabur?" tanya Viana.
"Ayah tuh yang ajarin," sahut Bunda yang hanya terdengar suaranya saja.
Abul.. abul
Viana yang tak kuat menahan gemas hanya bisa menggit bibir bawahnya sendiri. Ia pikir Pangeran akan menangis dan rewel tapi nyatanya ia tak menemukan kebasahan di wajah lucu Sang putra. Pangeran seolah tahu jika ia memang sudah di rencanakan untuk di tinggal dan beruntungnya Ayah dan Bunda bisa mengalihkan rasa kehilangan bocah monTOkk tersebut.
"Mommy kabur, iya?" ledek Ayah yang sepertinya tak jauh dari Pangeran, ponsel yang di pegang anak itu sendiri membuat layarnya penuh dengan wajah Si Endut.
"Kamu nginep di hotel mana, Vi?" tanya Bunda yang masih tak terlihat posisinya ada dimana.
"Bukan hotel, Bun. Ini Villa," jawab Viana.
"Loh, katanya ke hotel."
"Entah, selama di jalan aku tidur, ini baru bangun taunya udah sampe dan udah di kamar. Aku belum tanya Andra, orangnya masih tidur," sahutnya lagi yang juga penasaran tentang alasan tujuan yang berbeda ini.
"Hem, ya sudah, jangan di ganggu. Biarkan suamimu itu istirahat, ia pasti lelah sekali," pesan Bunda pada putri sambungnya.
Viana mengangguk seolah ia ada di tengah-tengah keluarganya yang saat ini serasa hangat kembali dengan hadirnya Bunda.
Obrolan pun terus berlangsung hingga Viana merasa sangat lapar, ia memutuskan panggilan Video call nya lalu kemudian beranjak menuju dapur.
Ada satu lemari pendingin dua pintu yang cukup besar seperti di rumah Mami, jadi sudah bisa di bayangkan berapa mahalnya benda tersebut.
Tapi, rasa itu ia ke sampingkan karna rasa laparnya sudah tak tertahan lagi.
Viana mengambil beberapa bahan sayur dan lauk untuk di olah menjadi hidangan makanan. Ia memang tak pandai memasak tapi masih bisa jika hanya sekedar menumis dan menggoreng ikan atau ayam saja. Dan yang paling mudah mungkin membuatkan semangkuk mie rebus dengan berbagai toping yang semakin menggugah selera.
Ia yang terakhir mandi sore hari dan baru bangun di waktu pagi setelah menempuh perjalanan jauh tentu aromanya sudah bercampur dengan keringat yang kini membanjiri tubuhnya, terutama bagian kening.
"Huft gerah banget," ucapnya pelan sambil mengusap keningnya yang basah.
Namun, apa yang ia rasakan terbayar dengan melihat semua masakannya sudah tertata rapih di atas meja makan, dan kini tinggal saatnya ia membangunkan Andra di kamar yang mungkin masih terlelap.
Langkah kakinya kembali berjalan dengan cukup pelan sebab ia sambil mengingat dari pintu mana tadi ia keluar, bangunan satu lantai itu cukup luas jika hanya di tinggali untuk dua orang seperti mereka, apalagi dengan warna kayu yang semuanya berwarna coklat tua.
Cek lek
"Dadd, udah bangun?" tanya Viana saat masuk dan melihat suaminya sedang duduk lesu.
"Hem, barusan," jawab Andra yang masih saja tampan padahal ia sedikit berantakan.
"Mau aku, atau kamu yang mandi duluan? aku sudah masak, kita makan sama-sama ya." Viana yang sudah duduk ditepi ranjang seraya. mengusap pipi suaminya.
"Mandi bareng lah, gak aku mandi sendiri-sendiri," ucap Andra mulai dengan drama manjanya.
"Memang kenapa kalau mandi sendiri, hem?" balas Viana yang tahu jika otak pria itu kini sedang otewe travelling.
.
.
.
Kesian Jendolan aku, dia sekarang sedang butuh kehangatan..