Let's, Divorce

Let's, Divorce
Part 67



🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Dikamar, kini hanya ada Andra dan Viana yang masih terlelap karna semua keluarga memilih untuk pulang ke rumah masing masing, mereka membiarkan pasangan itu untuk bicara berdua karna pastinya Viana akan ketakutan sebab sudah ketauan akan melakukan hal bodoh. Orang tua dan mertuanya akan tetap menunggu kapan Viana mau bercerita tanpa merasa di introgasi, yang terpenting tentu kini semuanya baik baik saja.


Andra duduk di kursi samping ranjang sambil mengusap pelan punggung tangan Viana yang terdapat Infusan disana. Rasanya ikut sakit melihat Si ibu muda begitu lemah tak berdaya seperti ini setelah apa yang ia alami beberapa jam yang lalu.


Andra yang mendengar cerita dari pihak kepolisian mengatakan jika Viana sudah tak sadarkan diri saat mereka datang usai ada pelaporan korban meninggal, posisi Viana ketika itu ada di salah satu kamar tertutup seolah sedang di persiapkan untuk menjadi pasien berikutnya. Beruntungnya, takdir baik dan umur panjang masih memihak pada ibu dan bayi tak berdosa tersebut, jadi saat tahu ada korban lain yang sedang pingsan polisi pun langsung menolong dengan sigap lalu membawanya ke rumah sakit dengan menggunakan Ambulance.


"Eeuuugh, jangan--, tolong lepaskan saya, saya mau pulang." Viana bergumam pelan dengan kedua mata masih tertutup rapat tapi ia terus berulang kali berbicara dengan keringat sebesar biji jagung di keningnya.


"Vi, ayo bangun," bisik Andra yang memang sudah di pesan untuk membangunkan Viana saat ia mungkin saja bermimpi buruk yang pastinya itu akibat dari rasa takut yang berujung trauma.


"Hem, Pulang--, tolong Via, Bunda. Tolong Via mau pulang, Andra--," panggilnya pada dua orang yang salah satunya kini sedang ada bersamanya.


"Iya, aku disini, Vi. Kita pulang ya kalau kamu udah pulih dan sehat lagi." Andra hanya bisa berbisik karna ia yakin itu akan memudahkan Viana untuk sadar dari tidur dan mimpi buruknya.


"Pulang--."


Belum sempat Andra kembali berbisik, nyata nya Viana langsung membuka mata dengan sangat tiba-tiba sampai Andra pun terlonjak kaget.


"Jangan! aku mau pulang, izinkan aku pulang," ujarnya yang kini malah justru sudah duduk sambil meremat pelan perutnya.


Melihat hal tersebut, tentu Andra tak tinggal diam ia peluk Viana agar bisa jauh lebih tenang karna ia yakin istrinya seolah masih ada di tempat jahanam itu.


"Ssstt, ini aku, Vi. Aku Andra, suamimu," Ucapnya yang langsung menenggelamkan tubuh yang kini sedikit berisi itu kedalam dekapannya.


"Andra!"


"Iya, ini aku, kamu gak apa-apa kan?" tanya Andra sepelan mungkin.


Bukan menjawab pertanyaan suaminya, Viana malah langsung menunduk melihat tangannya yang sedang mengusap perut.


"Apa dia masih ada?" tanya Viana dengan suara parau karna sudah berhasil terisak lirih bahkan rasanya hanya ia ia mendengarnya.


"Aku--."


"Anak kita masih ada, dia masih nyaman bersamamu dan ingin tetap bersama kita, Terima kasih sudah menjaganya," jawab Andra yang ikut menitikan air mata.


Dulu, ia berpikir hari terberatnya adalah saat tahu Viana hamil namun semua itu terpatahkan ketika justru Viana malah ingin menggugurkannnya. Dunia Andra seolah jungkir balik hampir setiap waktu yang seakan semesta ingin terus menguji rasa sabarnya.


.


.


.


Benar kah? dia masih disini bersamaku, bertahan hingga sejauh ini padahal aku sudah begitu jahat padanya.