
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Viana memang sengaja menunggu Andra pergi lebih dulu, bahkan ia akan memastikan suaminya itu sudah berada dengan papinya lewat Sang ibu mertua nanti, karna sejauh ini Viana masih dengan sengaja memblokir nomer ponsel Andra dan belum berniat untuk membukanya meski berkali-kali Andra memohon padanya.
Dan di jam dua siang Viana baru keluar dari kamar karna taksi yang dipesannya sudah datang dan menunggu, ia berpamitan pada Bunda yang ada di ruang tamu bersama dengan Bibi yang entah sedang membicarakan apa tapi sepertinya cukup serius.
"Hati-hati di jalan, ponselmu jangan di silent ya," pesan Bunda yang tahu dengan kebiasaan buruk anak sambunhnya itu.
Viana hanya mengangguk sambil tersenyum, ia meraih punggunng tangan istri kedua ayahnya itu dan lansung keluar, bahaya jika Bunda justru akan banyak bertanya lagi padanya.
Mobil berwarna hitam kini sudah ada di depan gerbang rumah orang tuanya, Viana langsung masuk dan tak lama kendaraan itu pun melaju dengan kecepatan sedang.
"Ke alamat yang sesuai ya, Pak," ujar Viana memastikan Si supir tahu dengan alamat yang ia tuju tersebut.
"Iya, Mbak."
Perasaan berdebar, keringat dingin dan gemetar dirasakan oleh Viana yang duduk di kursi belakang, ia terus meyakinkan dirinya jika ia pasti kuat dan semua akan baik-baik saja. Ia akan menggunakan alasan lain agar nampak semua itu seperti keguguran alami meski mungkin akan sangat sulit untuk mengelabui dua keluarga yang pastinya tak bodoh. Viana akan terima semua konsekuensi nya termasuk jika Andra marah sekali pun, akan jadi bonus baginya jika akhirnya mereka berpisah karna sejak awal memang Viana selalu ingin bercerai dari pria itu. Viana tak pernah mau menghabiskan sisa hidupnya dengan orang yang tak mencintainya, ia punya pernikahan impiannya sendiri dan semua itu gagal ia raih karna perjodohan konyol orang tuanya, ia di masuk kan ke tengah-tengah hubungan Andra dan Haura agar berpisah tanpa mereka sadar jika yang berpisah hanya raga bukan hati.
.
.
.
"Mbak, sudah sampai," ujar Si supir taksi yang membuyarkan lamunan Viana.
"Ah, sudah ya, kok cepet sih?" jawabnya yang kaget sambil mengedarkan pandangan ke berbagai arah.
"Lebih dari satu satu jam, Mbak," sahut Si supir yang terlihat aneh.
Viana hanya tersenyum kecil lalu membayar ongkos perjalanan dan memberikan lebihnya yang memang tak banyak itu.
Ia turun dari mobil berwarna hitam tersebut dengan perasaan campur aduk, tangannya reflek mengusap perut yang mungkin dalam hitungan jam Si jabang bayi akan tak ada lagi di dalam sana.
Viana masuk kedalam bangunan yang seperti rumah biasa, samping kanan dan kirinya hanya lahan kosong yang tak ada apa-apanya kecuali puing batu dan bekas rerantingan pohon.
Baru saja ia melangkah ke teras depan, Viana di kagetkan dengan suara pintu yang di buka lalu di banting dengan cukup keras.
"Ya ampun, bisa jantungan saya, Bu."
"Ada yang bisa di bantu?" tanya seorang wanita dewasa berbaju biru dengan menggunakan masker.
"Sa--saya Viana, saya sudah buat janji dengan dokter Erina," jawab Viana yang lagi lagi di kagetkan, ia tak suka keadaan seperti ini karna akan membuat kakinya bisa langsung lemas.
"Oh, ikut saya," titah orang itu lagi yang langsung membalikkan badanya tanpa melihat Viana menganggukkan kepala.
Viana berjalan pelan di belakang lalu di persilahkan untuk duduk di kursi kayu, kini mereka sudah saling berhadapan dengan hanya sebuah meja kayu yang menjadi penghalang.
Viana memberikan sebuah buku yang ia dapat dari dokter beberapa waktu lalu, itu adalah syarat yang di minta pihak klinik saat datang untuk mengecek riwayat kehamilan calon pasiennya.
Lebih dari 5 menit, buku itu pun di letakkan di atas meja sedangkan Viana mendadak membenarkan posisi duduknya seolah tahu kini saatnya ia untuk di introgasi.
Semua di perjelas secara rinci oleh wanita itu yang di tebak Viana hanya seorang perawat, mulai dari proses pemeriksaan, efek samping dan harga yang harus di bayar oleh Viana.
Hanya anggukan paham yang diberi gadis itu sambil mengelus perutnya sendiri.
"Silahkan tunggu disana, nanti saya panggil kembali," ucapnya pada Viana sambil bangun dari duduk.
Viana bergegas kearah yang di tunjuk wanita tadi, ia hempaskan bokongnya di salah satu kursi bersama beberapa orang yang mungkin datang dengan tujuan yang sama.
Dengan mata Kepalanya sendiri, ada sepasang wanita dan laki laki muda duduk berdampingan saling menggenggam tangan, Si wanita terus terisak sedangkan Si laki-laki terlihat kacau namun berusaha menangkan.
Tak hanya itu, di sana juga ada seorang gadis yang mungkin seumuran dengan Viana, ia di apit oleh dua ibu-ibu, yang satu terlihat sedih namun yang satunya lagi nampak sibuk dengan ponsel dengan raut wajah cemas.
Viana yang datang sendiri tentu bingung, tak ada siapapun tempat ia untuk sedikit bercerita apalagi bertanya sekedar menghilangkan rasa takutnya yang semakin menjadi jadi.
Dan, ia langsung tersentak kaget lagi saat seorang wanita keluar dari salah satu kamar sambil menangis histeris.
.
.
.
Puas kalian sudah membunuh anak saya?!