Let's, Divorce

Let's, Divorce
Part 101



🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


"Ehem." deheman Andra yang cukup kencang membuat Viana yang sedang membuat susu akhirnya menoleh.


Ia yang tanpa ekspresi di wajahnya malah membuat sang suami gemas ingin menggigit bibir istrinya tersebut.


"Kamu kenapa?" tanya Viana sambil berjalan kearah ranjang karna Pangeran sudah mulai merengek kehausan.


"Tenggorokan gatel, Mom," jawab Andra yang kini sudah jarang sekali memanggil istrinya itu dengan sebutan nama, ia merasa kata MOM adalah panggilan istimewa karna selalu mengingatkannya jika wanita itu punya surga untuk putranya.


"Mau ku ambilkan air hangat?" tawar Viana yang di jawab gelengan kepala oleh suaminya.


Merasa tak Andra tak ingin apa-apa, Viana kembali menyusUI Pangeran sambil tetap berbaring di kasur, bayi mungil yang kini sudah berumur 42 hari itu memang tak di biasakan terus di gendong.


Tapi, fokus Viana teralihkan saat Andra terus memperhatikannya dan ia tentu merasakan hal tersebut dimana tatapan pria beranak satu itu seolah tak berkedip.


"Bilang mau apa?!"


"Enggak, aku gak mau apa-apa kok," jawab Andra dengan senyum tak jelasnya dan itu tentu membuat Viana curiga, otaknya yang tak pernah traveling jika tak di pancing pastinya tak sama dengan apa yang di pikirkan suaminya saat ini.


Usai menyusUI Pangeran hingga botolnya kosong, Viana langsung bangun dan bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri selagi anaknya tertidur lelap. Tapi, baru juga beberapa langkah berjalan kakinya harus berhenti mendadak karna kaget, ada tangan Andra yang kini sudah melingkar di perutnya.


"Mom--," bisik Andra di telinga kanan Viana sampai membuat bulu halus istrinya itu bangun karna geli.


"Mau apa? aku mau mandi, tubuhku bau."


Viana yang bergeliat ingin di lepaskan nyatanya semakin sulit untuk menghindar saat Andra justru semakin erat memeluk. Ia yang akhirnya pasrah kini hanya diam mau tau mau menikmati cumbuan sang suami.


Ya, jika dulu wanita cantik itu harum bau parfum mahal tapi tidak dengan sekarang, ia lebih sering tercium bau susu dan gumoh Pangeran jika sedang kekenyangan. Semua tak lagi sama tapi nyatanya Andra justru semakin Cinta.


"Wangi begini, apanya yang bau?" tanya Andra dengan bibir yang terus aktif menciumi leher dan tengkuk wanita halalnya.


Viana hanya tersenyum kecil, entah harus senang atau kesal mendengarnya karna semua yang kini di ucapkan oleh Andra selalu saja membuat hatinya berdebar meski kadang itu adalah sebuah ledekan ledekan kecil untuknya. Ia yang sekarang mulai mengurus Pangeran meski hanya membuatkan susu dan menemani tidur kini begitu sangat menikmati harinya hingga kadang lupa segalanya. Pangeran yang mulai bergantung dan hapal dengan suara dan sentuhan Mommynya mulai mencari-cari jika Viana tak kunjung mendekap nya. Ikatan batin yang perlahan terbentuk di antara mereka membuat keduanya kini sudah terbiasa bersama dan melengkapi satu sama lain.


"Andra, lepas! aku mau mandi mumpung Pangeran tidur, tolong jaga dia dan jangan di ganggu," mohon Viana yang mencoba meronta kembali.


Namun, bukan Andra Putra Bramasta namanya jika mau mengalah saat ia sedang bucin bucinnya seperti ini, alih alih di lepaskan ia justru membalik kan tubuh Viana agar mereka bisa saling berhadapan dan tentunya juga memudahkan pria itu untuk memeluk dari depan.


"Pangeran tadi muntah, aku bau, Andra!"


"Tak apa, aku suka," jawabnya dengan mengeratkan pelukan.


"Suka apa?".


.


.


.


Wangi tubuhmu yang khas keibuan...