Let's, Divorce

Let's, Divorce
part 56



🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂.


"Andra---," panggil Viana pelan, berharap tak di dengar tapi sialnya pria itu malah menyahut.


"Hem."


"Di bawah dingin loh, kamu tidur di kamar tamu aja sana, atau bisa di sofa ruang Tv," titah Viana yang sebenarnya kasihan apalagi di luar sedang hujan lebat.


"Gak apa-apa, biar gampang pas kamu lagi pengen sesuatu," jawab Andra menolak untuk pindah.


Jika di bilang dingin, tentu itu tak perlu di tanyakan lagi, terlebih Andra hanya tidur dengan kasur kecil yang sangat jauh berbeda dengan di kamarnya.


"Aku kenyang, mau tidur," ucap Viana lagi, wajar ia berkata begitu karna Andra sudah membawa kan segelas susu dan sepiring kecil buah potong.


"Hem, ya udah tidur, nanti besok kesiangan," sahut Andra yang sudah memejamkan mata, posisinya kini tidur terlentang dengan tangan melipat di dada karna cukup merasa dingin.


Viana hanya mengangguk tanpa bicara apapun lagi, ia bisa bernapas lega karna tak lagi merasa mual dan perut terasa di aduk aduk, pikiran Viana pun kini jauh melayang kepada ucapan Andra dan Bibi yang mengatakan jika bayi dalam perutnya itu ingin dekat dengan ayahnya.


Hey, kamu masih kecil kenapa sangat menyusahkanku? tak bisakah kamu diam saat dia jauh? ku mohon jangan terlalu manja seperti ini. Bathin Viana yang setelahnya langsung menutup kedua matanya bersiap untuk tidur.


Sampai sejauh ini, Viana hanya menerima hadirnya sang jabang bayi karena memang anak itu bukan aib untuknya dan keluarga, tapi untuk mencoba sayang serta takut kehilangan rasanya ia belum merasakan itu semua, terbukti Viana tak pernah mengelus lembut perut yang masih terlihat rata jika tak begitu di perhatikan.


.


.


.


Di garasi mobil pasangan suami istri muda itu lagi lagi berdebat usai sarapan, Andra kembali mengalah dan mengizinkan Viana datang ke sekolah setelah kemarin mereka tak masuk secara mendadak.


Viana yang dengan kekeuh ingin membawa motornya seperti biasa langsung di ambil kuncinya oleh Andra, tak hanya ia, karna mungkin suami manapun tak akan rela istrinya yang sedang hamil muda harus mengendarai sepeda motor seorang diri. Calon ayah itu sangat khawatir dan takut terjadi pada anaknya.


"Parkiran!" jawab Andra .


"Gak, kalau aku gak di turunin sebelum sekolahan aku gak mau ikut mobilmu," ancam Si keras kepala dengan berkacak pinggang.


Andra yang pasrah pun akhirnya setuju, mereka tak punya waktu banyak untuk terus berdebat seperti ini. Keduanya langsung masuk kedalam mobil dan tenggelam pada pikiran mereka masing-masing, terbukti tak ada obrolan sama sekali selama di jalan.


"Didepan ya," ucap Viana mengingatkan lagi.


"Jauh, Vi."


"Gak apa-apa, mau olah raga pagi," jawab Viana yang tumben sambil tersenyum tapi tentu itu karna ada maunya.


Andra pun menuruti, ia menepikan mobil mewahnya di pinggir jalan sesuai yang di inginkan istrinya tersebut. Masih ada beberapa meter lagi memang untuk sampai ke sekolah dan Andra rasanya tak tega sama sekali jika harus membiarkan Viana berjalan.


"Dadah Andra," pamit Viana sambil membuka pintu mobil lalu keluar begitu saja.


Andra benar-benar tak tega, ingin mencegah tapi ia tak mau mengganti senyum Viana dengan raut wajah kesal.


Ia pun kembali melanjutkan perjalanannya menuju sekolah, Andra hanya memakirkan mobil lalu kembali ke jalan tempat ia menurunkan Viana dengan meminta satpam sekolah mengantarnya dengan sepeda motor.


Viana yang tak tahu terus saja berjalan, ia tak sadar jika suaminya tetap mengawasi dari kejauhan. Hingga ia menghentikan langkah lalu belok dan masuk kedalam gang kecil.


.


.


Loh , Viana mau kemana??