
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Pulang...
Satu kata yang kini akan mereka lakukan setelah puas berlibur meski nyatanya hanya menghabiskan waktu di villa untuk melakukan hal yang menyenangkan. Tapi setidaknya mereka bisa melepas penat dan lepas dari status yang selama ini mereka pikul di pundak yaitu orang tua dari satu bayi yang tengah mereka tinggalkan.
"Tadi pagi aku VC tapi Pangeran lagi di bawa bunda ke minimarket, jadi hari ini belum liat dia," adu Viana sedih karna harinya pasti akan berbeda dan berasa ada yang kurang.
" Ya udah telepon lagi aja," sahut Andra.
"Ini jam berapa? Udah waktunya dia tidur, " cetusnya sedikit jengkel.
Andra itu akan pusing jika tengah menghadapi istrinya yang sedang uring uringan karna rindu anak mereka, karna nyatanya ia tak pernah di rindukan sebab sudah 24 jam bersama jika salah satu diantara mereka tak ada acara di luar.
Pangeran lah satu-satunya yang membuat Andra cemburu sebab rasa khawatir wanita itu sungguh sangat luar biasa, itu semua efek baby blues yang pernah ia alami usai melahirkan. Dimana takut menyakiti dan belum percaya diri bisa memberikan yang terbaik masih hinggap di benaknya. Sulit memang menghilangkan perasaan itu meski Andra terus mendampingi dengan rasa sabar yang sangat luar biasa.
.
.
.
Dan perjalan pulang yang biasanya terjadi lebih cepat justru jadi hampir dua kali lipat dari biasanya karna mereka akan membeli banyak oleh oleh untuk keluarga, sahabat dan pastinya Farah yang ingin makanan khas kota tersebut, meski banyak pilihan tapi mereka tetap harius memilih kualitas yang terbaik.
"Ini, ini dan ini, apa lagi ya?" gumam Viana saat berada di sebuah toko yang ramai dengan pengunjung yang sepertinya sama dengannya saat ini.
Andra yang hanya ikut kemana langkah istrinya pergi hanya angguk angguk kepala saja saat wanita tercintanya itu bertanya atau meminta saran, pusing rasanya jika jawabannya itu salah atau justru malah tak di anggap. Andra tentu lebih memilih tinggal membayar berapapun jumlahnya di banding ikut andil dalam drama pemilihan barang yang ujung ujungnya tak di beli.
"Udah nih, beneran?" tanya Andra memastikan lagi sebelum mereka beranjak ke meja kasir dengan tiga keranjang di tangan.
"Hem, udah deh. Nanti kalau ada yang lain di jalan beli lagi," jawab Viana meski ragu.
Jika masalah pembayaran, gantian Andra lah yang akan berjalan lebih dulu sedangkan Viana akan seperti bocah menggemaskan yang menunggu semua selesai di hitung lalu siap di bawa pulang.
Senyum terus mengembang dari Viana yang tak sabar ingin cepat sampai dirumah lalu memeluk Pangerannya, entah apa yang akan di celoteh kan anak itu saat nanti mereka bertemu, karna kata ABUL masih terngiang di telinga wanita itu.
"Mom, kita mampir ke tempat Farah dulu ya, habis itu nanti baru pulang, kan lewat sana," ajak Andra meski ragu Viana mau memberikan dulu oleh oleh untuk adik sepupunya itu.
"Hem, boleh. Tapi, jangan lama lama ya," jawabnya tanpa menoleh dan Andra cukup senang mengingat istrinya itu sudah ribut tak kuat menahan rindu.
"Dhani gimana? beneran gak ada itikad baik?" tanya Viana.
"Iya, entah kabur ke mana. Orangtua nya aja gak tahu, kan kemarin sempet di datangi Farah dan papahnya," jawab Andra pasrah.
"Gak tahu beneran atau memang di umpetin sama mereka, kan bisa aja itu akal akalan keluarga aja?"
"Masih belum pasti, Sayang. Lagipula meski Dhani mau tanggung jawab itu semua cuma buat status mereka aja, karna Si bayi tetap bernasab pada Farah, pernikahan gak akan mengubah itu semua," jelas Andra yang selalu terlihat jengkel jika ingat hal tersebut.
Mau ia marahi Adiknya itu pun tetap percuma, semua resiko tetap di Terima oleh pihak perempuan hingga ke keturunannya kelak. Berbahagialah bagi mereka yang bisa menahan hawa napSu dengan pasangan yang tidak halal di sentuh.
"Pasti, Sayang. Itu tak lebih dari sebuah ujian atau mungkin juga teguran untuknya dan pengingat bagi semua orang, semua yang berlebihan itu tak baik termasuk saat berduaan," kata Andra yang langsung harap harap cemas takut Viana melayangkan sindiran lagi padanya dengan mengungkit masa lalunya.
"Siapa bilang? kalau berlebihannya itu uang kayanya ok ok aja," jawab Viana sambil terkekeh
"Hem, asal bisa tanggung jawab dengan yang dimiliki aja," sahut Andra yang masih fokus dengan jalan di depannya.
Mobil yang melaju dengan kecepatan sedang itupun akhirnya masuk kedalam garasi rumah adik sepupu dari pihak Mami.
Farah yang sudah menunggu langsung bangun dari kursi besi di teras rumah mewahnya.
Pelukan hangat mereka lakukan karna baru ini ketiganya bertemu lagi.
"Gak bisa lama lama ya, Rah. Mau langsung pulang," ujar Andra setelah ia memberikan satu bungkusan besar pesanan Farah.
"Iya, gak apa-apa, terima kasih banyak ya, lain kali kemarilah bersama Pangeran," pesan Farah yang tentu di iyakan oleh pasangan suami istri muda tersebut.
"Kami pamit ya, hubungi aku jika ada apa-apa, Ok." Viana berucap seraya mengusap perut Farah yang sudah masuk trimester dua.
Viana pun langsung bergelayut manja saat ia dan Andra kembali menuju mobil digarasi.
"Udah, ya sekarang kita pulang."
Andra yang terkekeh kecil hanya menganggguk lalu menyalakan lagi mesin kendaraan mewahnya. Kali ini keduanya tak akan mampir kemana-mana melainkan ke satu tujuan yang itu PULANG.
"Nanti pas sampe di ledekin Si Endut," kata Andra yang berkhayal dan menebak tingkah putranya.
"Ndy udah pulang abul, gitu?" jawab Viana tertawa, begitu pun dengan Andra.
Bagaimana mereka tak betah dirumah, jika dengan Pangeran saja semua sudah banyak memberi warna baru yang mereka tak dapat dari orang lain di luaran sana.
"Abul Abul setelah drama Entut," timpal Andra di sela gelak tawanya yang renyah.
Perjalanapun terus berlanjut dengan sesekali berhenti jika ada lampu merah atau sekedar macet biasa. Semua mereka lewati dengan rasa sabar hingga akhirnya pasangan bahagia itu sampai di rumah Ayah dan Bunda. Viana yang tak sabar turun lebih dulu setelah membuka seatbelt, ia bergegas masuk dan langsung memanggil Pangeran yang ada di ruang tengah lantai dua bersama dengan ibu sambungnya saja.
"Sayangnya Mommy---, lagi apa ganteng? Mommy pulang nih," seru Viana senang bisa melihat buah hatinya yang beruntungnya sudah bangun dari tidur dan siap bermain dengannya untuk melepas rindu yang menggunung
.
.
.
Mih... Enduuuuud...