Let's, Divorce

Let's, Divorce
Part 123



🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


"Balon??" tanya Viana dengan dahi sedikit mengernyit, bukan tak tahu hanya saja kode yang di berikan oleh Andra kini tak sampai di otak Viana yang sudah penuh dengan perlengkapan Pangeran.


"Iya, balon rasa mangga, strawberry atau pisang," ucapnya lagi dengan kedua alis naik turun tak lupa juga dengan kekehan kecil karna otaknya kini sedang melanglang buana entah kemana.


Andra tentu hanya iseng, karna selama ini Viana sudah memakai alat kontrasepsi lain yang tentunya jauh lebih aman, hanya saja jiwa anak muda yang ingin ada sensasi baru masih sering terlintas di benak pria itu. Hal yang teramat sangat wajar mengingat godaan sesuatu yang halal itu sangat berat di usia pernikahan mereka yang masih cukup terbilang seumur jagung tersebut.


Tak munafik rasanya jika Andra dan Viana sangat membutuhkan hal tersebut, apalagi di saat lelah dengan segudang tugas kuliah yang tak ada habisnya, melakukan hal yang menyenangkan seperti hubungan suami istri biasanya akan membuat mereka juga melepas stress bersamaan dengan pelepasan yang luar biasa di puncak kenikmatan surga dunia.


"Emang ada?" tanya Viana yang masih pura pura tak tahu padahal ia sudah paham saat suaminya itu tersenyum penuh arti barusan.


"Ada, makanya yuk cobain," mohon Andra.


"Katanya gak enak?" sindir Viana sambil mencibir.


"Orang cuma buat di--- doang sih," jawabnya malu malu namun malah membuat Viana memicingkan matanya.


Andra tentu tak memaksa meski dalam hatinya ia sangat ingin merasakan bagaimana sang istri melakukan layaknya sedang menikmati lolipop dengan aneka rasa lain selain original.🤣🤣


.


.


.


Puas berbelanja dan makan malam kini saatnya keluarga kecil itu bersiap untuk pulang kerumah ayah dan Bunda. Tempat tinggal utama mereka selama ini meski kadang Andra mengajak Viana untuk pindah ke Apartemennya. Tapi, wanita itu selalu saja menolak dengan alasan tak bisa percaya dengan siapapun untuk menjaga Pangeran kecuali pada Mamih dan Bunda. Alasan yang cukup masuk akal dan masih bisa di terima oleh Andra saat ini tapi entah jika mereka sudah lulus kuliah nanti karna niat pria itu hanya ingin Viana mengurus anak dan suami saja di rumah layaknya istri yang sesungguhnya.


Satu hal yang harus Andra ingat jika hidup Viana sudah terjamin dan bahagia saat sebelum bersamanya, jadi kini ia harus berusaha lebih giat untuk berusaha tahu bagaimana caranya mensejahterakan wanita halalnya tersebut sebab bukan hanya lahir bathin Viana saja jadi tanggung jawabnya tapi juga dunia dan akhiratnya nanti.


.


.


Saat sampai di rumah, Pangeran langsung di rebahkan tubuhnya di tengah ranjang dalam kamar yang tak terlalu besar namun begitu banyak menyimpan kenangan manis dan pahit, tawa serta tangis serta candaan juga pertengkaran yang selamanya ini terjadi diantara pasangan muda tersebut.


Viana dengan cekatan membuka seluruh pakaian yang melekat di tubuh anak tampannya itu lalu digantinya dengan piyama tidur seperti biasa, Pangeran yang sudah sangat lelah dan mengantuk sudah sangat ingin melakukan ritual sebelum tidurnya yaitu minum susu sebotol besar demi menyenangkan perutnya yang padahal sudah terisi beberapa macam makanan dan cemilan.


Ucu miiiiih..


"Iya, Sayang, iya," sahut Viana saat Pangeran merengek dengan kedua mata terpejam.


Andra yang berada di samping pangeran langsung mengusap punggung putranya tersebut, meski masih merengek nyatanya ia sudah mendengkur halus.


"Udah gak bisa tahan kantuk dia," kekeh Andra saat Viana sudah selesai membuatkan susu.


"Hem, udah capek banget, kasihan juga," sahut wanita itu seraya mengusap dan mencium pipi bulat pangeran.


Botol susu besar dengan isi penuh itu pun diletakkan di atas nakas, karna tak akan lama lagi Pangeran pasti bangun saat sadar ia belum melakukan ritual rutinnya tersebut.


"Kamu gak mandi?" tanya Viana saat sudah kembali dengan handuk kimono putih yang membalut tubuh polosnya.


"Hem, nanti," jawab Andra tanpa menoleh sebab kedua matanya masih Fokus pada layar benda pipih mahalnya tersebut.


Viana yang selama ini tak pernah acuh entah kenapa kali ini begitu penasaran, ada senyum di ujung bibir pria kesayangannya yang tak biasa.


Curiga?


Tentu, meski tak banyak dan hanya sekilas karna itu sifat manusiawi apalagi untuk orang yang di cinta dan sudah di jadikan pasangan hidup hingga akhir nanti.


"Kamu gak denger apa yang aku omong, Dadd??"


"Iya, Mom, tanggung," sahut Andra yang lagi dan lagi tak menoleh kearah Viana yang sudah berkacak pinggang di depan lemari.


Tak ingin ada pertengkaran dan takut Pangeran juga bangun, akhirnya Viana diam tak menyuruh untuk yang ketiga kalinya. Ia biarkan saja Andra tetap dengan Si benda pipih hingga bosan sendiri.


Tanpa kata, Viana ikut meringkuk bersama Pangeran di balik selimut, ia berusaha memejam kan mata meski nyatanya masih penasaran dengan yang di lakukan oleh Sang suami.


Dengan siapa ia berkirim pesan?


Sampai tak biasanya ia mengabaikanku seperti ini, jangan buat aku curiga, Dadd... bathin Viana yang masih berpikir positif tentang Ayah dari putranya itu.


Rasa kantuk akhirnya membuat Viana terlelap di tengah rasa gelisahnya, sampai ia tak tahu kapan Andra akhirnya membersihkan dirinya tersebut.


.


.


Hingga pagi menjelang, Viana yang sudah bangun lebih dulu seperti biasanya, malah di buat ingin tahu dengan apa yang ada di dalam ponsel Andra, ia masih berharap menemukan jawaban dari apa yang membuat ia bertanya tanya semalam.


Si benda pipih yang ada di atas nakas itupun di raihnya dengan pelan, ia buka ponsel tersebut yang memang tak memakai kode pengaman apapun yaitu tinggal di geser dengan begitu mudahnya lalu munculah beberapa aplikasi


Dan hanya satu tujuan Viana saat ini, yaitu Room Chat yang mungkin saja membuat ia tahu dengan siapa Andra semalam bertukar pesan.


Tapi, satu persatu pesan yang dibukanya tak ada satupun yang menandakan jam yang sama saat mereka sudah sampai dirumah.


Dan itu artinya..


.


.


.


Sejak kapan kamu berani menghapus riwayat obrolan seperti ini, Dadd?