
🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Pangeran yang di tinggalkan, tapi kedua kakek dan neneknya yang bahagia. Bukan hanya Ayah Bunda pastinya sebab Mamih dan Papih meraskan hal yang sama. Bahkan pasangan itu langsung datang pada sore hari dan berniat mengajak besannya untuk makan malam bersama.
"Gantengnya Mamih udah mandi ya, kita mau jalan-jalan iya, Sayang," ucap wanita paruh baya itu setelah mengambil alih cucunya dari gendongan Bunda.
Iyaaaa
"Anak pintar, di tinggal Mommy dan Daddy nangis gak?" tanya Mamih lagi yang tak kuat menahan rasa gemas.
Ucu yaaa..
"Kalau nangis minum susu," sahut Bunda dengan kekehan kecilnya, wanita muda berparas cantik itu memang ibu kedua bagi Pangeran setelah Viana jadi tak salah jika ia hapal semua apa yang di ucapkan Pangeran.
Bahkan, mommy nya sering bertanya jika tak paham, itu wajar terjadi sebab keduanya hampir satu hari bersama. Bunda benar-benar menjaga Pangeran dengan segenap perasaan yang tulus. Ia harap anak itu sebagai pancingannya untuk segera hamil agar Tuhan cepat percaya dan bisa menitipkan satu makhluk bernyawa dalam rahimnya.
Sama dengan para istri yang asik berbincang, para suami pun melakukan hal yang sama, Ayah dan Papih yang memang sudah bersahabat lama tentu obrolannya pun kemana-mana, bukan hanya tentang bisnis dan keluarga saja melainkan tentang kenangan mereka berdua.
"Ya sudah, kita berangkat saja sekarang. Nanti keburu malam, kasihan Pangeran," ajak Papih yang di setuju oleh tiga orang di dekatnya.
Semua kini bangun dari duduk dan bergegas keluar dari rumah setelah puas berbincang di ruang tamu. Tapi, Bunda justru lebih dulu menemui Bibi untuk meminta wanita itu mengunci seluruh pintu dan jendela selama ia dan Sang suami pergi, pasalnya Bunda belum bisa memastikan akan pulang jam berapa, sebab jika sudah berbincang pastinya akan lupa dengan waktu.
Di dalam mobil obrolan pun berlanjut, Mamih dan Bunda di kursi belakang sedang kan Ayah menemani Papih mengemudi di kursi depan. Banyak hal yang mereka bincangkan terutama tentang masa depan Pangeran.
"Pastinya, tapi semoga mereka memberikan yang. terbaik untuk Pangeran."
Kedua wanita yang duduk di belakang hanya tersenyum tak berani menimpali termasuk Mami, ia tahu sepertinya suaminya kini sedang banyak merencanakan banyak hal untuk masa depan Pangeran yang lahir dari putra bungsu kesayangannya. Karna, pada Andra pun ia dulu begitu.
Obrolan mereka berakhir saat mobil berhenti di parkiran resto yang cukup ternama di ibu kota. Mereka berempat turun bersama dengan Pangeran di gendong oleh Bunda, sebab Mami tak akan kuat lama menggendong cucunya yang monTOkk terlalu lama kecuali diam diatas pangkuan.
Masuk kedalam Restoran, mereka langsung menuju meja yang sudah dipesan lebih dulu oleh Papih, dengan diantar satu pelayan pasangan besan itupun siap menikmati makan malam dengan nuansa kekeluargaan yang hangat di temani cucu mereka. Tapi, belum juga sampai ke tempat tujuan langkah Papih berhenti, dahinya mengernyit dengan seulas senyum di ujung bibirnya.
"Mih, ada rekan bisnis Papih, kita kesana sebentar untuk menyapa ya," ajak Papih sedikit berbisik dan menunjuk kearah salah satu meja.
"Ah, iya, boleh, Pih." pasangan suami istri pun pamit sebentar pada Sang besan sembari mengambil Pangeran untuk sekalian di kenalkan. Langkah keduanya cukup mantap menghampiri orang yang tak sengaja ada di dalam satu resto dengan mereka saat ini.
.
.
.
Permisi, senang bertemu dengan Anda Tuan Reza Rahardian Wijaya...