
🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Cek lek
"Mereka sudah pulang, Vi," kata Andra saat kembali masuk kedalam kamar istrinya yang ternyata sedang duduk di sofa.
Viana memang tak mengantar mertuanya tersebut karna tak di izinkan naik turun tangga dan itu menjadi sedikit perdebatan ia dan suaminya yang kini semakin over posesif dan protektif.
Bersiaplah untuk hidup dalam sangkar, Vi. bathin Viana saat melihat kearah Andra yang kini sudah semakin dekat dengannya.
Pria yang kini sudah ikut duduk langsung meletakan tangannya ke perut Viana yang jika di usap seperti ini terasa lebih besar di banding hanya di lihat saja, ada seulas senyum di ujung bibir Andra dan sesekali buangan napas kasar karena ia seakan masih tak menyangka dengan kejadian kemarin, ucapan dokter masih saja terngiang-ngiang di telinganya yang mengatakan jika semua mungkin saja fatal jika wanita halalnya telat di bawa kerumah sakit, sebab taruhannya bukan hanya Si jabang bayi tapi juga Viana yang belum sempat ia cintai dengan sepenuh hati.
"Kenapa?" tanya Viana saat melihat suaminya itu melamun.
"Aku tak tahu bagaimana hidupku jika kejadian kemarin sampai harus membuat ku kehilangan kalian," jawab Andra yang membuat hati Viana mencelos.
"Tapi nyatanya kami masih ada bersamamu, kan?"
"Hem, iya. Terima kasih, Viana. Terima kasih sudah mau bertahan dan mempertahankannya, kita bahagia bersama ya," ujar Andra yang entah kenapa kedua matanya malah mendadak berkaca kaca.
Kini, pria tampan yang tak banyak tingkah seringkali menitikan air mata karna apa yang terjadi padanya sungguh sangat luar biasa, tapi Andra tak pernah menyerah, ia justru yakin jika semua ini adalah bentuk cambukan dan latihan untuknya menjadi suami baik dan ayah yang hebat bagi anaknya kelak.
"Tegur aku jika salah ya, karna aku tak ingin apa-apa lagi kecuali dengan kalian," sambung Andra.
Viana sampai menautkan kedua alisnya, semua yang terucap dari bibir pria tampan itu tak pernah ia sangka akan di dengar oleh telinganya karna selama ini ia tak pernah percaya dengan semua pernyataan Andra.
"Apa aku beban untukmu? karna sebelum denganku kamu juga sangat bahagia kan?" balas Viana yang tahu bagaimana hari hari suaminya di sekolah karna bukan satu dua temannya saja yang menceritakan betapa serasinya Andra dan Haura selama kurang lebih dua tahun menjalin hubungan dan menjadi Best Couple yang semua orang tahu bagaimana Andra selama ini memperlakukan pasangannya itu layaknya seorang Ratu yang membuat iri siapun yang melihatnya termasuk Viana yang pernah beberapa kali tak sengaja menyaksikan sendiri dengan kedua mata kepalanya langsung.
Andra tersenyum simpul, tangan yang ada di perut ia alihkan ke tangan Viana untuk di genggam sambil sesekali di mainkan jari-jarinya, tak ada jawaban dari pria itu hingga pasangan suami istri tersebut tetap diam dan tenggelam dalam pikiran masing-masing.
"Iya, mau ikut?" tawar Andra dengan ekspresi sedikit meledek dan tentunya itu membuat Viana kesal.
"Nanti aja, kalau udah gak lemes," tolak Viana.
"Minum dulu ya, ini udah beberapa jam dari kamu pulang dari rumah sakit," ujar Andra yang mau bangun namun di cegah.
"Enggak, kan aku gak mual," kata Viana sedikit memohon lewat sorot matanya.
"Jelaslah, itu kan karna aku selalu bersama, Mom," goda Andra sambil menangkup wajah istrinya dengan kedua tangan.
"Ish, Narsis!"
"Kenyataan, Vi. Coba saja kalau aku pergi, kamu pasti langsung lari ke kamar mandi," balas Andra dengan sangat percaya diri dan Viana tak bisa mengelek karna memang begitu adanya.
"Hem, masa?"
"Tentu, mau di coba?" tantang Andra yang langsung membuat kedua bola mata Viana membulat sempurna sambil menggelengkan kepalanya.
.
.
.
Enak aja!!!