Let's, Divorce

Let's, Divorce
Part 41



🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


"Sampai bayi kita kuat ya, Vi."


"Bayi? bayi siapa?" tanya Viana yang malah menoleh kearah Bunda, ia justru menerka jika wanita itu yang akan punya bayi tapi kenapa ada sebutan kata 'Kita' yang Andra lontarkan seolah itu tertuju untuknya dan Andra.


"Kamu hamil, Nak."


DEG..


Seluruh dunia pasti sudah bisa menerka bagaimana perasaannya kini, hamil karna pemaksaan di usia 18 tahun dengan suami yang tak mencintainya itu bukan perkara mudah bagi semua gadis. Lain cerita jika memang di dasari dengan cinta yang suka sama suka.


Tapi ini? bukankah mereka sejak awal sudah sering berdebat.


"Gak mungkin, aku gak mau, Bun."


"Vi, sabar dulu, tenangin dulu ya," mohon Andra saat istrinya mulai berontak dan marah.


Air matanya mengalir tanpa suara isakan dan itu sangat menyakitkan bagi orang yang paham dengan perasaan Viana kini.


Semua berusaha menenangkannya, termasuk Bunda dan Mami. Viana jatuh dan lemas tak berdaya dalam pelukan dua wanita itu. Bersyukurnya Viana punya orang-orang yang teramat sayang padanya. Jadi bisa di pastikan, ia tak akan sendiri melewati semua yang sedang menimpanya kini.


Viana yang tak lagi bisa meronta hanya diam tanpa suara, ia terus di beri pengertian agar bisa menerima kenyataan jika ada makhluk bernyawa yang kini tumbuh subur dalam rahimnya, janin itu tak berdosa begitupun ia dan Andra. Mereka tak perlu malu karna semua sah di mata Agama. Tak ada perzinahan dan tak usah memikirkan nama baik keluarga yang memang semua akan baik baik saja.


.


.


.


Hingga malam menjelang, Viana tetap bungkam tak bersuara sama sekali.


Kini, hanya ada ia dan Andra di ruang rawat inap karna semuanya sudah lebih dulu pulang kerumah masing-masing.


"Vi, makan ya, kasihan bayinya kalau kamu gini terus?"


"Kasihan? suruh siapa dia ada!" cetus Viana.


"Jangan ngomong gitu, dia ada karna kita."


"Kamu aja, kan kamu yang bikin dia ada, aku gak pernah mau," jawabnya lagi yang masih dengan nada kesal.


Semua yang di ucapkan Andra selalu di balas oleh Viana, ia seakan berubah menjadi sosok pembangkang, melawan semua yang di perintah kan oleh suaminya.


Sungguh, ini tak mudah untuknya karna ia yakin seantero sekolah pasti sedang membicarakan tentangnya dan Andra, Viana masih ingat betul bagaimana pemuda itu datang dengan rasa khawatir ke ruang UKS, lalu membawa nya ke rumah sakit dengan cara di gendong mirip dengan adegan di drama-drama yang sering ia tonton selama ini.


Mungkin, jika Haura yang di perlakuan begitu semua siswa dan siswi akan biasa saja, tapi apa kabar jika ini dirinya??


"Aku tak merebutmu darinya, katakan ini pada semua orang nanti, ku mohon," ucap Viana pelan dan lirih.


"Siapa? apa maksudmu?" tanya Andra, malam yang semakin larut membuat fokusnya pun berkurang, ia lelah sungguh hari ini adalah hari paling berat bagi otaknya.


"Aku tak merebutmu dari Haura, aku tak tahu apa-apa tentang kalian," ulangnya lagi yang kini sudah mulai terisak.


"Tak akan ada yang mengatakan itu padamu, Vi."


"Banyak, lihat saja nanti!"


Andra paham dengan apa yang di pikirkan oleh Viana saat ini, tapi belum ada yang bisa di lakukannya kecuali menunggu gadis itu benar-benar pulih, ia juga sama sekali belum menyalakan ponselnya setelah ia menghubungi orang tua dan mertuanya.


***


Dua hari berlalu, Viana yang sudah di izinkan pulang tentu membuat dua keluarga merasa lega, pilihannya tetap pulang kerumah orang tuanya meski di kediaman Bramasta menyediakan segala-galanya, Viana tak butuh itu, ia hanya ingin jauh dari Andra, dan itu sudah lebih dari cukup baginya.


"Pulang sana, kenapa ikut aku sih," usir Viana yang selalu menghindar saat Andra mendekat.


"Aku cuma mau mastiin kamu baik baik aja, Vi."'


" Aku jauh lebih baik gak ada kamu, paham?!"


Andra hanya bisa membuang napas kasar, entah harus minta maaf yang seperti apa lagi pada Viana agar hubungan mereka kembali baik baik saja. Karna nyatanya sampai detik ini calon ibu itu tetap tak berubah.


Viana yang ada dalam mobil orang tuanya tetap di ikuti oleh Andra, ia akan terus berusaha mendampingi Istrinya dalam keadaan apapun. Viana tak boleh sendiri, apa lagi Mami sudah menceritakan bagaimana proses seorang wanita saat menjadi seorang ibu khususnya di saat kehamilan 9 bulan. Dan bukan berarti semua juga berhenti sampai disana, ada proses melahirkan dan pasca melahirkan yang tak kalah berat di lalui oleh para wanita hebat tersebut.


Viana turun dari mobil saat kendaraan ayahnya sudah berhenti di garasi, ia langsung masuk saat Bunda membuka kan pintu utama.


Pintu kamar yang di kunci dari dalam pun membuat Andra yang ikut pulang kerumah istrinya kembali turun ke lantai bawah. Disana ada Ayah dan Bunda yang baru saja duduk di ruang tamu.


"Tak apa, aku paham dengan sikapnya, Yah."


"Papihmu sudah bicarakan ini semua pada pihak sekolah, mereka sudah tahu tentang Viana."


"Iya, Ayah. Kemungkinan Viana akan dirumah, akan ada guru yang datang kesini," jawab Andra yang memang sudah tahu dari papahnya.


Bagi keluarga kaya raya itu, tak sulit untuk membungkam pihak sekolah. Bramasta bisa melakukan apapun termasuk menutupi kehamilan menantu mereka untuk beberapa waktu.


Semua sudah di bicarakan baik-baik, Viana akan tetap tinggal di sini dengan Andra yang akan tetap datang juga menemani atau sekedar menjenguk meski nyatanya sang istri tetap tak mau di dekati.


"Semua butuh proses, kamu harus sabar ya," pinta Ayah lagi pada menantunya.


"Pasti, Yah."


.


.


Andra yang membawakan makanan tetap mengetuk pintu kamar Viana agar cepat di bukakan, ia semakin khawatir saat mendengar suara muntahan dari dalam meski samar samar, ayah yang juga sama khawatirnya langsung membawa kunci cadangan agar benda bercat cokelat itu lekas bisa di buka.


"Vi... kamu gak apa-apa?" tanya Andra saat ia menghampiri Viana di wastafel kamar mandi.


Oeeeekkk..oooeeeeekkk


"Aku ambil minum dulu sebentar."


Lagi dan lagi Viana menolak, ia menepis apa yang di bawakan Andra untuknya sampai sedikit isi di dalam gelas itu tumpah mengenai baju suaminya.


Bunda yang mau mendekat pun di cegah oleh Ayah, ia ingin pasangan itu duduk berdua untuk bicara dari hati ke hati karna dalam pernikahan mereka kini ada makhluk lain yang butuh di perhatikan kehadirannya.


"Aku mau kamu dengerin aku, Vi."


"Gak, pulang sana!" usir Viana lagi.


Andra dengan cepat menggelengkan kepala, ia dudukan Viana di atas ranjang saling agar bisa berhadapan dengannya. hanya dengan cara ini ia bisa menahan gadis itu agar diam didekatnya.


"Jangan macam macam, awas kamu!" ancam nya lagi yang malah membuat Andra tersenyum.


Dua wanita yang pernah dan kini sedang ada dalam hidupnya jauh berbeda karakter, jadi bagai mana bisa Andra menyebut jika Viana adalah pelampiasan jika sifatnya saja bagai bumi dan langit. Jika Haura bisa memberinya ketenangan makan Viana bisa memberinya tantangan dan sadar apa itu artinya sabar.


"Aku gak akan macem macem karna satu macem aja udah bikin kamu hamil, aku--"


"Stop! jangan bilang aku hamil, aku gak hamil!" sentaknya yang langsung meninggikan nada bicara.


Viana yang belum bisa menerima dirinya akan menjadi seorang ibu terus menolak kenyataan meski perlahan sebuah tanda tanda ibu hamil sudah ia rasakan tak terkecuali mual muntah yang barusan ia rasakan.


"Kamu hamil, Vi."


"Enggak! kalau kamu mau, kamu aja yang hamil, aku gak mau."


Kini, keduanya sudah saling pandang dengan sama-sama menatap tajam, Andra masih berusaha agar emosinya tak terpancing sama sekali saat ini meski rasanya sulit karna Viana selalu menarik urat saat bicara dengannya.


"Kamu stop ke sekolah, aku gak ambil resiko apapun tentangmu dan bayi kita, kalian harus tetap baik baik aja. Aku harap kamu ngerti dengan masalah ini," ucap Andra yang langsung membuat kedua mata Viana bulat sempurna.


"Kamu gak bisa ngatur ngatur aku, sebentar lagi Ujian kelulusan dan kamu mau aku diem dirumah sama bayi ini? Jahat kamu Andra! JAHAT!"


"Aku gak mau kamu capek atau stress, Vi."


"Lalu, di rumah apa aku gak akan Stress? kamu udah rusak tubuhku, masa depanku dan kini kamu mau ambil kebebasan ku juga, iya?!" tanya Viana penuh penekanan.


"Vi, bukan gitu, ini yang terbaik buat kamu," ucap Andra, tentu ia tak mau istrinya menjadi bahan gunjingan dari satu sekolah yang tak tahu apa-apa tentang mereka. Sulit sekali rasanya menutup ratusan mulut meski rasanya sudah menutup kedua telinga dengan tangan sendiri.


"Aku mau tetap sekolah."


"Aku gak izinin, Vi, aku takut bayi kita kenapa kenapa, dia masih kecil dan rentan banget," tolak Andra yang masih berusaha memberi pengertian.


.


.


.


Kamu pilih aku tetap sekolah, atau aku buang bayi kamu?