Let's, Divorce

Let's, Divorce
Part 127



🍂🍂🍂🍂🍂


"Mom, aku salah ya?" tanya Andra, baru juga mereka berbaikan usai perkara salah ucap tapi kini ia malah didiamkan lagi tanpa alasan yang di pahami oleh Andra.


Seingatnya, tak ada masalah yang terjadi tapi apa yang biasanya di anggap sepele memang sering berbanding terbalik dengan pendapat Viana dan itu memang buka satu dua kali terjadi.


Rumah tangga mana yang tak pernah menginjak kerikil? mustahil rasanya, jika di satu ikatan pernikahan yang di jalan kan oleh dua kepala tak adanya perselisihan yang di hadapi. Menikah itu untuk mengisi mana yang kurang dengan yang lebih, tak harus menuntut sempurna jika sederhana saja sudah membuat bahagia.


Begitupun dengan yang sedang di perjuangkan Andra dan Viana, meski katanya jodoh adalah cerminan diri tapi tak selamanya yang baik bersama yang baik juga karna orang yang bisa hidup dengan banyak cinta saja bisa takluk dengan yang setia. Itulah yang namanya saling mengisi satu sama lain yang kelak berujung pada kebaikan bersama.


Andra yang paket komplit hampir sempurna disandingkan dengan wanita yang moodnya bagai rollercoaster, agar apa?


Agar hidup keduanya tak selalu manis dan indah, sebab kadang tak semua perselisihan berakhir dengan petengkaran atau perpisahan. Justru semakin menguatkan cinta karna banyaknya drama untuk mendewasakan jalan pikiran.


"Aku yang salah, maaf," jawab Viana yang masih menghindar dengan berpura-pura berjalan ke arah meja rias dan entah sedang mencari apa.


"Mana mungkin kamu salah, yang sering bikin salah itu cuma aku, Mom," balas Andra lagi.


"Hem, baguslah kalau ngaku, tinggal pikirin lagi apan salahnya," jawab Viana masih enggan menoleh.


"Apa ya? bingung aku," ucap lirih Andra sambil mengusap tengkuknya sendiri.


Viana membuang napas kasar, hatinya ingin meledak rasanya karna ketidak pekaan Andra dengan apa yang di perbuatnya sejak kemarin.


"Apa ada yang kamu sembunyikan dariku?" tanya Viana sambil meraih tangan Andra untuk ia genggam


"Gak ada, Si jendolan juga aku kasih liat kalau kamu mau liat, aku gak ada umpet umpetan sama kamu, Vi," jelas Andra sambil tertawa, diamnya wanita di depannya kini tentu ber efek buruk bagi daging tak bertulang miliknya.


"Aku serius, Dadd. sikapmu ada yang ganjal bagiku, terutama malam kemarin. Berkali-kali aku bicara tapi tak sedikit pun kamu menoleh padaku. Fokus mu tetap pada layar ponsel yang entah kamu berkirim pesan dengan siapa saat itu," ungkap Viana dengan semua hal yang membuat ia dengan bodohnya menangis seharian.


Pikirannya kacau, hatinya lelah karna terus menebak-nebak apa yang terjadi dengan suaminya dan keputusan apa yang akan ia ambil juga untuk masa depan rumah tangganya nanti jika saja ada orang ketiga terselip diantara mereka berdua. Viana tak akan bertahan saat Api sudah membakar habis rasa percayanya sebab adanya perselingkuhan, karna itu bukan sebuah ke khilafan yang bisa di maafkan begitu saja.


"Kemarin? aku berkirim pesan?" gumam Andra masih mengingat ingat kejadian yang di ceritakan istrinya itu.


"Oh, ituuuuuu, aku bukan sedang berkirim pesan, Sayang." Andra tertawa lalu meraih tubuh Viana untuk ia peluk, tak lupa ia juga menenggelam wajahnya di ceruk leher sang istri.


"Lalu kamu ngapain? gak mungkin nonton Film!" ucap Viana tak percaya.


.


.


.


.


Aku--- aku lagi milih Lingerie dan pesan hotel untuk kita di luar kota, Mom....