Let's, Divorce

Let's, Divorce
Part 74



🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Ceklek


Andra yang begitu sangat penasaran langsung pulang kerumah mertuanya dimana sang istri selama ini berada, ia bahkan melajukan mobil mewahnya dengan kecepetan tinggi agar cepat sampai tanpa memperdulikan keselamatannya sendiri, sedangkan Viana yang melihat suaminya pulang dengan membuka pintu kamar sedikit kasar tentu heran atas sikap pemuda tampan, kaya raya dan pastinya seorang calon pengusaha penerus kerajaan bisnis Bramasta Group.


"Ada apa?" tanya Viana masih dengan ekspresi bingungnya.


Bukan menjawab pertanyaan Sang istri, Andra malah melanjutkan langkahnya lalu menarik tangan Viana dengan cepat dan tiba-tiba, cara itu tentu membuat si ibu hamil kaget dan berhasil masuk kedalam pelukan Andra.


"Apa yang dia lakukan padamu, Hem? kenapa tak cerita padaku?" tanya Andra langsung tanpa basi basi lagi karna ia cukup sangat khawatir dan tak bisa membayangkan perasaan Viana saat itu.


Ancaman Haura di kelas tadi ternyata memancing kemarahan Andra yang tak menyangka jika gadis yang nyaris sempurna di matanya selama ini akan berlaku nekat karna rasa cemburu, Andra paham dengan ketakutan Haura, ia juga tahu jika ini semua adalah bentuk protesnya yang seharusnya di layangkan langsung pada Andra bukan pada Viana yang dalam kondisi hamil muda di mana benar saja selalu salah apalagi ketika dengan lantang di salahkan.


"Apa? siapa maksudmu?" Viana balik bertanya dengan menekan nada bicaranya berharap tebakan yang kini ada dalam hati dan pikiran salah.


"Dia, Vi." Andra tak sengaja tak menyebut nama sang mantan untuk menjaga hati istrinya.


"Apa yang kamu ceritakan lagi padanya? apa kamu bilang jika aku istri yang bodoh dan ibu yang jahat karna nyaris membunuh anaknya sendiri dengan cara aborsi, begitu?"


"Enggak, Vi. Kamu salah besar jika menyangka aku melakukan itu. Bukan," kata Andra meyakinkan jima tuduhan Viana tak benar.


"Apa dia melukaimu, Vi? Katakan padaku, aku takut," mohon Andra yang ingin Viana jujur karna ia hanya ingin mendengar dari kedua belah pihak.


"Aku hanya tersinggung saat ia menyalahkan anak kita sebab dari tak masuknya kamu ke sekolah, apa anakku sejahat itu baginya? sampai dengan ketusnya ia menyudutkan ku sebagai orang yang membuatmu tak lagi mementingkan pendidikan. Tak perlu di tekankan olehnya aku pun tahu kita akan lulus sebentar lagi, tapi apa aku tahu jika aku akan mengandung sekarang? bukankah dia juga tahu jika kamu yang membuat ku hamil, lalu salahnya aku dan kamu dimana?" ungkap Viana yang masih dalam pelukan Andra.


"Maaf, dan ku harap ini bukan salah satu yang menjadi alasan kamu untuk--,"


"Ya, kamu memang benar. Sakit rasanya disalahkan oleh orang yang tak tahu apa-apa tapi malah datang secara tiba tiba segala omongan yang benar menurut pemikirannya saja," jawab Viana yang kini di barengi dengan jatuhnya air mata, bodoh sekali cara yang ia pilih saat itu hanya karna akibat sebuah rasa tertekan.


"Aku tak akan membuat mu jatuh lagi, Vi. Tapi ku mohon setalah ini ceritakan semua yang membuat hatiku terluka, tak perduli dia orangnya."


.


.


.


Untuk apa? buktinya tak perlu aku menunjukkan jahatnya, malah ia sendiri yang memperlihatkannya padamu. Bibirku terlalu manis hanya untuk menceritakan kebusukan orang lain