
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
"Cemburu? apa aku tak salah dengar?" cebik Viana yang tentunya untuk menutupi rasa kaget karna tanpa hujan dan angin ia di tembak dengan pertanyaan yang di luar dugaannya.
"Hem, kamu cemburu pada Haura, makanya selalu menyebut namanya terus menerus padahal jelas aku sedang berusaha memikirkannya," kata Andra yang sebenernya kecewa dengan sikap Viana yang selalu menyangkut pautkan segala hal pada masa lalunya itu.
Andai Viana tahu betapa beratnya melupakan cinta pertama yang selalu diharapakan menjadi cinta terakhir juga, dimana tak ada restu bukan hanya dari orang tua tapi dari semesta.
Sakitnya luar biasa, karna harus melepaskan secara terpaksa saat cinta tentunya masih indah bertahta.
"Aku tak mungkin cemburu, karna aku tak cinta padamu," jawab Viana dengan hati yang terasa tercubit sendiri.
"Lalu bagaimana jika aku jatuh cinta duluan padamu, hem?"
Viana diam tertegun, jujur ia tak pernah mencoba untuk mencintai dan berharap di cintai karna meski tak pernah berpacaran ia cukup paham jika melupakan tak semudah jatuh cinta. Dan Viana tak mau memaksa hingga ia memilih untuk menjalani hubungan mereka sewajar mungkin, tapi takdir justru berkata lain, Andra merapas hal yang paling berharga miliknya dan untuk menebus hal tersebut pria itu menukarnya dengan Cinta.
.
.
Tak ada lagi obrolan dari mereka karna Viana merasa ia terus di sudutkan dengan segala ucapan dan pertanyaan dari Andra yang tanpa sadar membuatnya salah tingkah.
Menjelang makan malam, keduanya keluar dari kamar dan turun ke lantai bawah menuju ruang makan, disana sudah ada Ayah dan Bunda yang nampak senang dengan kehadiran menantunya itu, bagaiamana pun mereka tahu jika Viana memang butuh pendampingnya sendiri karna sebaik apapun orang-tua kadang tak bisa menjadi sosok suami untuk bermanja.
"Kamu nginep kan, Ndra?" tanya Ayah saat mereka sudah menikmati hidangan di atas meja.
"Kalau Viana izininin, Yah," sahut Andra sambil melirik kearah istrinya.
"Memang sejak kapan aku larang? dianya aja yang pulang-pulang terus," cetus Viana pada kedua orangtuanya sembari memicing kan mata kearah sang suami bukti balas dendam.
Andra yang peka langsung membuang pandangan untuk menahan tawanya, dan itu menjadi pemandangan manis dan menggemaskan bagi kedua orang tua Viana, meski mungkin mereka bersalah sudah menjodohkan putri semata wayangnya itu tapi ada yang membuat mereka lega karna bisa menjaga Viana sampai ke tangan jodohnya.
Usai makan dengan beberapa obrolan biasa, Andra menghampiri Ayah yang berada di teras.
"Rokok, Ndra," tawar Ayah basa basi karna ia tahu jika menantunya bersih dari hal tersebut.
"Iya, Yah, Terima kasih," tolak Andra sopan.
"Dimana Viana?"
"Di kamar, Yah. Ayah, Andra minta maaf sekali lagi, Andra tak bermaksud menghancurkan masa depan Viana seperti ini. Andra tak akan meninggalkan Viana dan akan tetap bersamanya, jangan ragukan niat Andra ya, Yah." Andra yang merasa tak enak hati terus meminta maaf pada Cinta pertama istrinya itu.
"Tak perlu bicara seperti itu, semuanya sudah hak dan kewajiban kalian, lalu masalahnya dimana?" kata Ayah sambil tersenyum dan sudah tak mempermasalahkan hal itu lagi meski awalnya ia sangat kaget luar biasa.
"Andra akan menjaganya, Yah."
.
.
.
Ayah tak akan meminta atau menuntun apapun darimu, cukup kamu bersyukur karna sudah memiliki putri Ayah yang jauh dari kata sempurna.