Let's, Divorce

Let's, Divorce
Part 45



🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Seperti yang sudah di bicarakan oleh Andra tadi, kini ia dan Viana akan pergi ke salah satu pusat perbelanjaan di pusat kota, tak hanya mencari susu tapi apapun juga yang di inginkan oleh Viana yang kini sedang hamil muda. Andra hanya takut jika istrinya akan lapar pada tengah malam nanti sedangkan ia tak ada.


"Vi, buka masker sama kaca matanya," titah Andra sambil menarik Hoodie di kepala Viana.


"Heh, jangan pegang pegang."


Kini wanita itu seperti orang yang sedang demam, berpakaian rapi sampai hanya sedikit keningnya saja yang terlihat. Andra yang heran terus meminta Viana membukanya.


"Aku gak mau ada yang lihat aku pergi sama kamu."


"Emang kenapa? aku suami kamu, Vi," protes Andra yang tak suka dengan ucapan istrinya barusan.


"Gak! cukup hari ini aku di Bully temen-temen," ujarnya yang merasa kesal jika ingat kejadian di sekolah dimana begitu banyak pertanyaan yang di lontarkan padanya.


Viana yakin, jika semua itu akan terus berlangsung sampai semua isi kelas mendapatkan jawaban yang mereka mau, sedangkan apapun yang di katakan Viana akan selalu salah bagi yang tak suka dengannya.


Kini, pasangan suami istri muda itu sudah ada di bagian rak khusus susu ibu hamil, terlalu banyak merk dan rasa membuat keduanya belum mengambil satu pun.


"Mau yang mana?" tanya Andra.


"Entah, aku bingung," jawab Viana tanpa menoleh, matanya fokus pada apa yang ada di depannya saat ini.


"Rasa Coklat, Vanilla, Mocha, Mangga, dan Strawberry, suka yang mana, Vi?"


"Gak ada yang disuka," jawab Viana.


"Coklat ya, gak mungkin perempuan gak suka Cokelat," sahut Andra lagi.


Tapi, Andra justru mengambil semua rasa dengan alasan agar Viana tak bosan setiap pagi dan malam terus meminumnya hingga usia kandungannya 9 bulan nanti.


"Harus dua kali?" tanya Viana tak percaya, ia sama sekali tak pernah tahu apa saja yang harus di lakukan Bumil selama masa mengandung.


Di usia muda tentu bukan ini yang harus mereka pikirkan, terutama bagi Viana yang semua terasa tak adil baginya.


"Hem, biar babynya sehat," jawab Andra sambil menarik tangan Viana ke tempat yang lain.


Tapi, itu semua di tepis oleh istrinya. Andra cukup paham dan maklum tapi semua di lakukan olehnya benar-benar bukan semata napsu lagi seperti yang di tuduhkan Viana saat ia mulai mendekat. Andra sudah berjanji tak akan pernah lagi menyentuh Viana entah sampai kapan.


Meski rasanya bohong jika hasrat itu tak ada, apalagi saat ingat betapa nikmatnya pelepasan yang di rasakan Andra untuk yang pertama kalinya dengan sensasi berbeda dan yang pasti di tempat yang seharusnya.


Ice cream pun menjadi salah satu yang di pilih dan Andra masukan ke dalam keranjang belanjaan yang di bawanya sekarang.


"Mau apa lagi? kebutuhan kamu yang lain masih ada gak?" tanya Andra sebelum mereka ke tempat pembayaran.


Viana hanya menggelengkan kepalanya, semua masih ada dan ia tak perlu apa-apa lagi sekarang.


.


.


.


Puas berbelanja, kini saatnya mereka pulang dengan tak lupa membelikan makanan juga untuk Ayah dan Bunda di rumah. Viana yang tak mau pusing hanya mengatakan TERSERAH pada suaminya tersebut.


Hingga saat sampai di rumah, Andra menemui ART di dapur untuk meminta tolong membereskan semua barang belanjaan yang ia bawa tersebut, dan setelahnya ia menyusul Viana di kamarnya.


"Vi, mau minum susunya rasa apa? biar ku buatkan," tanya Andra.


"Terserah, kan itu buat anakmu, bukan buat aku," jawabnya karna lelah, terbukti kini ia sudah berbaring di tengah ranjang.


Tak ingin ada perdebatan, Andra kembali turun dan bergegas ke dapur, ia buatkan satu gelas susu ibu hamil untuk Viana, dan rasa coklat pun di pilih nya karna rasa itu umum di sukai oleh para wanita dan mungkin juga Viana karna selama ini ia tak tahu apa kesukaan istrinya tersebut.


Cek lek..


"Vi, di minum dulu ya, mumpung masih anget abis itu minum juga obatnya," ujar Andra yang sudah duduk di tepi ranjang.


Viana mengerjapkan mata lalu membuang napas kasar, ia tak suka dengan semua yang katakan oleh Andra jika harus meminum susu dan obat selama ia hamil dan itu bukan satu dua hari tapi 9 bulan lamanya.


"Ayo bangun." Andra pun langsung membantu Viana untuk duduk dan bersandar pada beberapa bantal di balik punggungnya.


Satu gelas susu kini sudah berpindah ke tangan Viana, ia tak langsung meminumnya karna ada satu kenangan yang terlintas begitu saja.


"Vi, kenapa? nanti keburu dingin," kata Andra lagi saat ia melihat ada satu tetes air mata jatuh di pipi mulusnya.


.


.


Kenapa, kenapa harus aku? apa dia akan sama sepertiku?