
🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Braaaak...
Semua yang ada di dalam ruang UKS langsung menoleh ke arah pintu yang di buka cukup kuat oleh seorang pemuda yang jelas sangat di luar dugaan mereka.
Andra, ia yang memang berada dalam kelas langsung keluar saat temannya yang baru kembali dari ruang guru menceritakan keramaian di lapangan, nama Viana yang di sebut jatuh dan berdarah pun tak membuat suaminya itu berpikir dua kali untuk keluar dan mendatangi istrinya.
"Via, kamu kenapa? Viana kenapa?" sentak Andra panik dan khawatir, tak ada satupun yang menjawab pertanyaan pemuda itu, semua malah saling pandang termasuk orang yang sedang menangani Viana.
"Sakit, sakit banget," ucap lirih Viana terus merintih, dengan kedua matanya sendiri Andra melihat istrinya kesakitan dan tanpa pikir panjang ia angkat tubuh Viana untuk di bawa ke rumah sakit.
Ia yang sempat pingsan untungnya saja cepat sadar dan untuk pendarahan awalnya hanya mengira Viana sedang datang bulan karna gadis itu tak jatuh atau tersandung apapun sama sekali.
"Kamu mau bawa ke mana?"
"Rumah sakit lah, lo kira gue akan diem aja liat di kaya gini, hah?!" sentak Andra saat menjawab.
Perdebatan Andra dan petugas di UKS ternyata menjadi pusat perhatian siswa dan siswi lain termasuk teman satu kelas Viana yang masih berkumpul di lapangan, dan sepeninggal Andra yang membawa Viana pergi kini. semua langsung tertuju pada Haura.
Entah berapa kali gadis itu mendengar kata KENAPA...
"Kenapa Andra sama Viana?"
"Kenapa mereka berdua?"
"Sejak kapan deket?"
"Kok bisa?"
Dan...
"Wah, Viana ternyata orang ketiga antara Andra dan Haura ya" .
Hanya satu kalimat itu yang akhirnya membuat hati Haura sakit, dan Viana pasti akan lebih sakit jika ia mendengar ini semua. Mereka hanya melihat dan menyimpulkan lalu menelan bulat-bulat apa yang hanya sekedar tahu lalu menjadi sok tahu. Padahal jelas selama ini Viana tak pernah mendatangi Andra sejak atau tak lagi bersama Haura.
Pemuda itu sering terlihat sendiri atau bersama teman-teman yang lain padahal awalnya Haura menyangka jika mantan kekasih nya itu akan terbuka dengan hubungannya bersama Viana. Tapi, tebakan Haura salah, mereka tetap sendiri sendiri bagai tak saling kenal meski di luar sekolah Haura juga tak tahu tapi yang Haura dengar jika Viana tetap dirumahnya karna ada salah satu temannya yang satu komplek dengan gadis itu.
Haura tetap diam, tak ada satu pertanyaan pun yang ia jawab karna akan panjang urusannya jika ia sampai buka suara terlebih itu bukan urusannya dan ia pun tak punya hak untuk menceritakan hubungan sang mantan kekasih.
.
.
Andra sama sekali tak beranjak dari sisi Viana yang masih merintih menahan sakit, ia sampai bingung harus berbuat apa sekarang selain menyerahkan segalanya pada tim Dokter. Sampai ia juga rasanya lupa menghubungi Bunda dan Mami dirumah.
"Sabar ya, Vi. Kamu kuat kok."
Dan hampir satu jam melewati proses pemeriksaan akhirnya Viana di pindah ke ruang rawat inap biasa, ia tak di izinkan pulang dan Andra di minta untuk datang ke ruang dokter karna ada yang ingin di bicarakan.
"Bagaimana, Dok?" tanya Andra setelah ia di persilahkan untuk duduk.
"Sudah jauh lebih baik, pendarahan nya pun sudah berhenti, Nona Viana hanya tinggal istirahat cukup untuk masa pemulihannya nanti," ujar Dokter yang langsung membuat Andra lega.
"Tapi, mohon maaf sebelumnya boleh saya bertanya sesuatu?"
"Si--silahkan, Dokter," jawab Andra yang kembali tak enak hati.
"Apa Anda teman atau saudara Nona Viana?" tanya Dokter.
"Saya--, saya suaminya, Dok."
Ekspresi pria paruh baya di hadapan Andra pun terlihat bingung dan tak percaya, masalahnya mereka berdua memakai seragam sekolah yang sama-sama anak SMA, jadi wajar jika Dokter merasa ragu dengan pengakuan Andra barusan. Jika saja ia mengatakan mereka adalah sepasang kekasih mungkin akan jauh terdengar masuk akal.
"Kalian sudah menikah?"
"Hem, iya, kurang lebih tiga bulan, Dok," jelas Andra yang semakin di buat penasaran oleh sikap dokter padanya itu.
"Hem, saya ada bukti, tunggu," ucap Andra kemudian, ia langsung mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan sebuah foto pernikahan mereka.
Dokter menganggguk paham, ia membenarkan posisinya lalu berdehem sekali sebelum bicara ke inti masalahnya.
"Dokter, istri saya kenapa?" desak Andra saat pria itu tak kunjung bicara.
.
.
.
Selamat, istri anda sedang mengandung.