Let's, Divorce

Let's, Divorce
Part 48



🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Viana yang baru saja di tinggal oleh Bibi kini hanya seorang diri di kamarnya, ucapan terakhir wanita baya itu terus terngiang dan menusuk ke dalam dada, dimana ia mengatakan jika Si calon jabang bayi rindu ayahnya.


"Gak mungkin, dia mana paham hal itu," sergahnya yang tak mau percaya dengan yang di katakan ART rumahnya barusan.


Tapi, hatinya berkata lain, Viana menoleh kearah nakas samping ranjang dimana ponselnya tergeletak disana. Di ambilnya si benda pipih lalu dicarinya kontak bernama Andra. Tak ada panggilan spesial pada suaminya itu karna bagi Viana pria itu tak ada istimewanya meski sudah berkali-kali menggetarkan hatinya lewat ucapan dan sikap.


Nomer yang sudah beberapa waktu di blok itu hanya di tatap nya dengan perasaan bingung, ia tak punya alasan untuk menghubungi Andra seperti yang di katakan Bibi, sebab alasan yang itu cukup tak masuk akal dan sangat memalukan, Viana hanya takut Andra besar kepala dan akan seenaknya lagi padanya.


"Enggak, semua akan baik baik tanpanya," ujar Viana yang meletakkan lagi ponselnya itu di tempat semula.


Waktu yang lambat berjalan membuat Viana rasanya ingin menangis histeris, ia tak kuat dengan apa yang di rasakannya sekarang karna ia terlalu lelah hanya untuk sekedar bolak balik ke kamar mandi.


Entah sudah sebanyak apa ia melakukan itu yang jelas tubuhnya mulai lemas dengan keringat yang sudah banjir di kening dan tengkuk.


Waktu yang sudah menunjukkan jam 5 pagi membuat Viana semakin kesal sebab satu jam lagi ia harus bersiap untuk sekolah.


Cek lek


"Vi, Viana," panggil Andra yang langsung masuk kedalam kemar istrinya yang beruntung tak di kunci.


Andra sangat panik saat ia tahu cerita dari Bibi tantang yang terjadi pada Viana, karna yang ia tahu Viana baik baik saja saat di ditinggal kan semalam.


"Hem," sahut Viana yang hanya berdehem kecil, ia tahu siapa yang datang tapi tetap tak ingin menoleh karna lemas.


Rasa tak tega semakin di rasakan Andra saat ia melihat ada kain di lantai yang sudah basah, dan Andra yakin itu adalah alas untuk muntahan Viana agar ia tak terus bolak balik ke kamar mandi karna jika terlalu sering bawah perutnya akan terasa sakit dan keram.


"Gak mau, aku mau tidur aja," ucapnya pelan tak bertenaga tapi sialnya rasa mual itu mendadak hilang dan hanya menyisakan pusing saja di kepalanya..


"Ya sudah kamu tidur ya, biar aku temenin," jawab Andra yang tak di jawab apapun oleh istrinya.


"Bangunkan aku jam 6 ya, aku harus siap siap ke sekolah," pintanya dengan mata sudah terpejam seakan sudah sangat siap sekali mengarungi mimpi indah.


"Hem, iya."


Andra serasa tak tega jika menuruti mau istrinya untuk di bangunkan satu jam mendatang untuk bersiap ke sekolah, mengingat kondisinya yang begitu lemas dan tak ada tenaga. Akan beresiko jika sampai Viana terus memaksakan kehendaknya itu.


Andra yang masih duduk di bawah mulai menyeka sisa keringat, Viana memang tak demam suhu tubuhnya pun normal tapi karna lelah ia harus banjir keringat seperti ini.


Tangan yang awalnya di kening kini turun ke perut, ia usap bagian tengah tubuh Viana yang masih rata itu seraya berbisik..


.


.


Dede baik baik ya, jangan nakalin Mommy, Ok...