
🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Malam kedua rasa malam pertama begitu nikmat di rasakan oleh Andra meski masih terasa asing bagi Viana yang kini terisak dalam pelukan sang suami dalam keadaan polos tanpa apapun.
"Masih sakit, Vi? padahal pelan banget loh," ujar Andra merasa bersalah pada istrinya, ia kira semua akan aman karna ini bukan yang pertama tapi nyatanya Andra salah sangka.
"Iya, pelan tapi pas di masukkinnya sakit banget," keluh nya lagi di sela isak tangis yang entah kenapa membuat Andra justru gemas dan ingin mengulangnya lagi.
Tidak, ini tak boleh terjadi lagi, Andra tak boleh egois hanya demi hasratnya saja karna yang utama adalah kenyamanan Viana sekalipun itu saat mereka sedang berhubungan.
Ini sudah lebih dari cukup bagi Andra karna mereka satu langkah lebih maju dalam keintiman, masih ada malam esok dan malam seterusnya asalkan tidak malam ini, lagipula ada aktivitas yang harus di lakukan mereka esok pagi termasuk Andra yang akan ke sekolah, ia tak mau kurang tidur karna satu ronde saja rasanya sudah menguras energinya karna ia melakukannya cukup lama.
"Ya udah, tidur ya. Besok udah gak sakit lagi kok," ujar Andra yang merasa kasihan tapi jika ingat betapa nikmatnya ia jadi gemas sekali pada Viana.
Ini pelepasan ter nikmat yang dirasakan Andra seumur hidupnya termasuk saat pertama dan juga selama main dengan si sabun sabun dalam kamar mandi, ia Melakukannya dengan sangat tenang menurut instingnya sebagai laki-laki dewasa yang normal dimana tak perlu ada yang ia takut kan kecuali mengkhawatirkan kondisi Viana. Tapi semua masih aman karna yang di keluhkan Viana hanya rasa sakit di bagian inti miliknya saja yang sedang di obrak-abrik bukan bagian perut yang mungkin membahayakan janin di dalam sana.
"Kaya ganjel, gak enak banget"
"Gak apa-apa, aku usapin ya," ujar Andra yang meletakkan tangannya di bagian Rawa basah areanya penuh dengan perbulUAN.
"Ish, apaan sih!"
Andra pun tertawa, Viana yang kesal namun hatinya yang berantakan. Wanita benar benar pelangi bagi Andra, semua yang di lakukannya begitu indah termasuk saat marah-marah.
Entah cinta jenis apa yang di rasakan Andra kali ini karna saat bersama Haura tak seperti sekarang yang semuanya lepas dan bebas. Padahal gadis itu begitu baik dan tak pernah menancing emosinya untuk bertengkar.
"Terima kasih ya, Vi. Udah mau percaya lagi sama aku, awalnya aku takut kita gak akan bisa lakuin ini lagi karna kamu benci sama aku," kata Andra sambil mengecup kening Viana.
"Maaf, harus gak selama ini," balas Viana yang sudah berurai air mata.
Banyak pertimbangan yang di lakukan gadis itu saat rasa takut kehilangan Andra mulai menghantuinya. Laki-laki tak hanya butuh perhatian tapi juga sentuhan biologisnya yang harus terpenuhi dengan baik. Viana tak ingin gagal menjadi istri yang bisa menyenangkan suaminya karna yang dianggapnya sepele ternyata berpengaruh bagi sang suami. Mungkin sekarang Andra bisa bermain main dengan sabun tapi siapa yang bisa menjamin jika ia bisa saja mencari lawan main sungguhan di atas ranjang. Apalagi Sang mantan masih ada di dekatnya hingga saat ini, ancaman masa lalu lebih membahayakan di banding wanita lain di luar sana karna bagaimana pun Viana yakin jika Andra belum sepenuhnya bisa melupakan sosok gadis itu yang masih satu kelas dan satu sekolah dengan Andra.
"Tak apa, dari pada tak sama sekali. Kamu nikmat, Vi," puji Andra tepat di telinga Viana yang membuat aliran darah wanita itu berdesir hebat.
Rona merah di pipi Viana jelas terlihat dan itulah yang membuat Andra ingin terus menciuminya.
"Udah, katanya tadi suruh tidur, kenapa masih di gangguin aja," protes Viana yang lagi lagi merengut kesal.
"Ok, tapi berikan aku ciuman selamat malam dulu," pinta Andra.
Mereka pun kembali berciuman dengan sangat lembut dengan tangan Andra yang iseng mereMaAAs salah satu daging kenyal istrinya.
"Yah, bangun lagi dia, Vi."
.
.
.
.
"Ada apa?" tanya Andra bingung, tentunya ia tak menyangka jika kebahagiaannya akan di rasakan juga oleh orang lain.
"Laen banget? punya pacar baru ya?" ledek teman Andra sambil tertawa
"Wah, udah beneran bisa move on nih dari Haura, keren," timpal yang lain yang hanya di balas dengan senyuman kecil.
"Beneran pacaran sama Viana?"
"Enggak," sahut Andra cepat.
Ia bukan mengelak apalagi berbohong karna nyatanya ia memang tak pernah berpacaran dengan Viana, berbeda jika di tanya tentang status pernikahan mereka, Andra pun akan dengan lantang mengiyakan dan jujur sejujur jujurnya.
"Yakin? gue kan pernah liat kalian dulu, awal awal lo baru putus dari Haura, Ndra."
"Iyakah? lagi kebetulan atau salah liat mungkin," jawab Andra. Padahal ia ingin sekali mengakui Viana di depan teman temannya tapi istrinya tetap melarang dan ingin semuanya masih di rahasiakan.
"Cantik sih, yang penting juga satu Iman."
"Do'ain aja yang terbaik, apapun itu buat kita semua," balas Andra.
Jawaban jawaban yang seperti ini lah yang membuat banyak orang penasaran, bagi yang tak suka atau tak kenal Viana pasti sangat menyayangkan, tapi yang mengerti alasan putusnya Si Best Couple Andra dan Haura tentulah Paham jika benteng itu terlalu tinggi untuk keduanya lewati.
"Pasti, Ndra. Tapi syukur syukur sih gak jadian sama Viana, biar buat gue aja, manis anaknya tapi jarang masuk sekolah ya, katanya sakit, bener gak sih?"
Satu yang bertanya namun semua mata yang tertuju pada Andra seolah mencari jawaban.
"Apa? kok liatin gue semua?" tanya Andra pura pura bingung, ia yang hendak pergi untuk menghindar tentu tak di izinkan oleh teman temannya.
"Lo pasti tahu kan?"
"Kurang sehat aja mungkin," jawab Andra sangat hati-hati lalu ia benar-benar kabur ke kursinya dan sempat melewati Haura yang duduk sendiri.
.
.
.
Hai, Ra...