Let's, Divorce

Let's, Divorce
part 59



🍂🍂🍂🍂🍂🍂


"Kamu?!" pekik Viana yang kaget dan langsung membalikkan tubuhnya karna ada suara yang ia kenal di belakangnya.


"Apa? bukannya ke sekolah malah melimpir ke tukang gado gado," sindir Andra dengan tangan melipat di dada.


"Loh, kamu sendiri mau apa ikut ikut aku?" balas Viana balik bertanya.


"Aku cuma mastiin kamu aja, Vi."


Viana yang tertangkap basah sudah melimpir ke tempat lain, langsung melanjutkan lagi langkahnya, ia berjalan lebih dulu sedangkan Andra di belakangnya, entah kenapa pria itu tetap disana tak berjalan sejajar dengannya.


"Mobilmu mana?" tanya Viana sambil menoleh ke belakang setelah mereka sudah keluar dari gang kecil dan kini sudah di jalan raya.


"Di parkiran sekolah, aku kesini tadi di antar sama Mang Paid naik motornya," jawab Andra.


"Terus, kita--,?"


"Terserah kamu deh kalau udah gini, aku ngikut aja."


"Balik ke sekolah aja ya, sebentar lagi istirahat lumayan masih ada waktu buat ngumpet," kata Viana sambil menunduk dan sumpah demi apapun Andra begitu gemas dengan ibu dari anaknya itu.


Begitu banyak hal yang ia lewati bersama Viana termasuk hari ini yang tak pernah ia lakukan selama ia sekolah termasuk saat bersama Haura, mereka yang memang pasangan terbaik tentu sejak lama jadi teladan bagi teman-temannya yang bukan berarti berpacaran bisa mengganggu nilai pelajaran, keduanya bisa berjalan seimbang asal bisa membagi waktu dengan tepat, dan terbukti sepasang mantan kekasih itu tetap meraih penghargaan siswa siswi dengan peringkat 10 besar dari seluruh murid SMA Pelita Harapan.


.


.


.


Selama perjalanan menuju sekolah, hanya sesekali mereka mengobrol karena Viana masih saja tak nyaman dan takut jika berdua dengan Andra di luar seperti ini, sebab ia tak pernah tahu mata siapa yang bisa saja secara tak sengaja melihat mereka.


"Masuk duluan sana, mau ke kantin kan?" tanya Andra saat sudah hampir sampai.


"Perpus"


Viana mengangguk paham, mereka memang jangan sampai terlihat bersama saat masuk ke area sekolah karna itu sama saja bunuh diri untuk Viana karna ia pernah sudah dengan lantang mengelak ada hubungan dengan Andra, lalu apa kata teman-temannya jika melihatnya bersama pria itu, bisa-bisa ia di sebut menjilat ludah sendiri, membayangkannya saja sudah sangat mengerikan bagi Viana.


Andra tetap di posisinya melihat Viana melanhkah lebih dulu, ia tatap punggung wanita yang kini sedang membawa buah hatinya itu, semakin lama semakin jauh dan akhirnya perlahan hilang dari pandangannya.


"Sehat-sehat ya, Vi. Aku cuma mau mastiin kamu selalu aman dan nyaman bagiku karna untuk membahagiakanmu masih terus ku usahakan semampuku," ucap lirih Andra yang kemudian menghela napasnya.


.


.


.


Viana yang mendapat keistimewaan saat tahu sedang hamil oleh pihak sekolah karna permintaan mertuanya juga, tentu di persilahkan masuk meski harus tetap diam diam dan menyelinap jangan sampai ada murid lain yang melihat kelakuan tak terpujinya tersebut.


Viana yang lewat jalan lain yang di antar satpam langsung sampai di belakang kantin, ia langsung duduk di bagian paling pojok setelah memesan salad buah dengan porsi yang tak biasa untuknya, jalan kaki menuju sekolah membuatnya kembali merasa sangat lapar.


Tapi, ia kaget saat tiba-tiba Haura datang dan duduk di depannya tanpa izin dari Viana.


"Ada apa?" tanya istri dari mantan kekasihnya itu.


.


.


.


Jangan jadikan kehamilanmu itu alasan untuk Andra berkali-kali bolos, Vi...