
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Perbincangan konyol penuh teka teki karna Andra memakai bahasa planet pun membuat Pangeran pusing tujuh keliling. Mungkin jika dengan kalimat yang baik dan benar anak itu akan paham. Tapi sayangnya, untuk kearah satu tujuan saja Andra memutar omongan 180 derajat naik ke 7 tanjakan 9 pengkolan kanan 10 pengkolan kiri dan menurunkan 24 anak tangga.
"Daddy bikin otakku mau meledak!" Pangeran bangun dari baring lalu bergegas ke kamarnya meninggalkan Andra yang tertawa.
"Polos banget sih Si hasil pemerkosaan halal," kekeh Andra pelan namun ia cukup bangga dan berdoa semoga Pangeran tak salah langkah mengingat pergaulan semakin bebas jika tak kurang kurang bimbingan.
Tak ingin seorang diri, akhirnya Andra bergegas juga masuk kedalam kamarnya. Kamar yang sudah kurang lebih 20 tahun ia dan Viana isi. Jangan tanya sebanyak apa kenangan disana karna semua rasa pernah mereka rasakan bersama.
"Mom, kangen." Andra yang sudah naik keatas ranjang langsung memeluk wanitanya dari belakang.
Rutinitas selama 2 dekade yang tak pernah bosan ia lakukan, bau harum Viana yang tak berubah, rasa yang selalu membuat ia takluk serta kenikmatan di ujung pelepasan yang tiada tara. Ia bisa mengatakan itu sebab hanya tak pernah berpaling dan tak berniat melakukannya.
Tujuannya hanya satu, jika lelah dan jenuh cukup berhenti sejenak bukan singgah di tempat dan mencicipi yang lain.
Pernikahan bukan sekedar terus mencintai, tapi juga harus berkali-kali merasakan jatuh cinta dengan orang yang sama, sulit memang, bahkan tak semua pasangan bisa melakukan itu jika cintanya tak benar-benar tulus.
"Cepet tidur, kepalaku sakit nih," titah Viana saat ia merasa tangan pria di belakangnya sudah berselancar ke tempat yang paling di sukainya.
"Sama, kepalaku juga sakit dan besaaaaar," kekeh Andra.
Viana yang masih memejam mata pun tersenyum mendengarnya. Andra yang ia cintai tanpa sadar tak pernah berubah sama sekali sampai kadang berpikir, perbuatan baik apa yang sudah di lakukannya hingga Tuhan memberi jodoh yang teramat baik dan setia.
.
.
.
"Jangan di liatin terus, samperin sana," ledek Rival saat tahu tatapan mata sahabatnya tertuju pada Senja.
"Pengennya, tapi nanti dia kabur," jawab Pangeran, sebagai pemuja yang buka sebulan dua bulan ia tentu paham dengan sikap Senja yang akan menghindar jika sedang di dekati.
Dan untuk mencari jalur Aman, ia tentu memilih memandangnya dari jauh.
Drama pandang memandang pun ia alihkan saat bell masuk berbunyi, kini mata Pangeran hanya fokus pada seorang pria yang sedang mengajar dengan sangat Lantangnya. Tak hanya dia, tapi semua siswa dan siswi pun melakukan yang sama, hingga tak terasa kini saatnya jam istirahat tiba.
"Kantin yuk, udah laper pake banget," ajak Rival sambil melengos pergi tak menunggu Pangeran.
Ia yang tahu kelakuan Rival tentu tak ambil pusing sebab pemuda itu memang punya penyakit Magh yang cukup parah.
"Lo gak keluar, Sen?" tanya Pangeran saat dengan sengaja lewat di depan Senja.
"Duluan, belom pengen."
"Terus pengennya apa?" tanya lagi yang malah duduk di depan gadis itu.
"Gak pengen apa-apa, Ran."
.
.
.
Oh.. ya kali pengen jadi calon makmum gue gitu?