
🍂🍂🍂🍂🍂
"Udah ceritanya, Vi?" tanya Andra sambil membuka kedua matanya yang sedikit merah.
Glek
Viana hanya bisa menelan salivanya kuat kuat sambil berdoa dalam hati jika yang di ucapkannya barusan tak di dengar oleh Andra. Tapi rasanya ia salah karna terbukti pria di depannya itu malah bertanya tentang kelanjutan apa yang sedang ia utarakan barusan.
"Kamu--," kata Viana yang langsung salah tingkah.
Andra tersenyum kecil lalu menarik tangan wanita itu untuk lebih dekatnya bahkan justru masuk kedalam pelukannya sekarang juga.
"Bicara apa tadi? panjang banget," ledek Andra yang kini membuat kedua pipi Viana merah merona menahan malu dan takut Andra marah.
Tapi, disisi lain ia seolah semakin tenang karna apa yang tersimpan dalam hati bisa ia ucapkan meski harus sembunyi sembunyi seperti tadi
Tidak, ini justru terang-terangan karna Andra sepertinya tadi hanya pura pura terlelap.
"Kamu mendengar semuanya?" tanya Viana yang akhirnya memberanikan diri bertanya.
"Hem, sepertinya begitu," jawab Andra santai dan malah mengeratkan pelukan.
"Aku---," Viana pun bingung entah harus mengatakan apa pada Andra untuk mencari alasan lain yang bisa di terima pria itu tanpa ada rasa tersinggung sebab tadi ia sudah sangat jelas membahas Si masa lalu serta meragukan sikap sang suami yang jauh lebih baik dan perhatian padanya.
"Tadi, kamu tanya apa dia masih disini? iya kan?" Andra menanyakan hal tersebut sambil meraih tangan Viana untuk di letakkan di dadanya.
"Ku akui, sulit membawanya keluar dari hati ku, menggantinya denganmu saja aku harus sangat berjuang hingga rasa-rasanya kadang aku berpikir untuk menyerah, tapi aku selalu ingat ucapanmu untuk tak menggenggam keduanya secara bersamaan. Aku memilih ikhlas dibanding memaksa melupakannya, saat senyumnya terlintas aku ingat jika ada kamu yang jauh harus ku pikirkan kebahagianya sebab kamu tanggung jawabku secara utuh lahir dan bathin. Dalam hati sering terbesit rasa rindu tapi otakku selalu mengatakan LUPAKAN."
"Andra--," panggil Viana yang kini mencelos hatinya.
"Percaya atau tidak, itu urusanmu. Tapi sejauh ini aku sudah melakukan apapun yang ku bisa semampuku, Vi."
Viana yang ikut mengeratkan pelukan membuat Anda tertawa kecil, semalam ini saja wanita halalnya itu malah membuat drama. Bagaimana Andra tak gemas padanya, coba?"
"Tetap bersamaku ya, Vi. Kita lanjutkan semua yang sudah kita lewati bersama. Baik buruknya kamu sudah ku terima bukan saat kamu hamil tapi semenjak aku mengucapkan ijab qabul di hadapan Ayah dan Tuhan."
Viana mengangguk paham, semua yang ia tanyakan di jawab sudah oleh Andra dan itu membuat ia sedikit jauh lebih tenang. Viana tak keberatan jika harus menemani dan menunggu hati Andra sampai untuh untuknya seorang, ya hanya untuknya saja di kemudian hari.
"Aku sayang kalian, Vi. kupastikan kamu satu-satunya yang menjadi istriku, Vi--, Viana, Sayang...?" panggil Andra saat tak ada pergerakan sama sekali dari wanita itu di dalam pelukannya.
.
.
.
Kebiasaan, udah bangunin atas bawah malah di tinggal tidur. Hobby banget bikin laki sakit kepala.