Let's, Divorce

Let's, Divorce
Part 109



🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Drama sentil menyentil tentu di ganti dengan elus mengelus manjah di dalam kamar mandi, Viana yang sedang tak mood melayani langsung menawarkan jalur ninja padahal Andra tak masalah jika harus dengan gaya Terima beres seperti saat sedang tak punya waktu banyak, contohnya saat mereka curi curi waktu dari Pangeran yang sedang main.


"Kamu gak mau, Mom?" tawar Andra saat Viana sedang mencuci tangannya dari lahar cinta pria yang kini duduk lemas diatas closet.


"Enggak, aku mau mandi."


Mereka yang tadi melakukannya dengan keadaan polos memang tinggal membersihkan diri saja, kamar mandi Andra yang luas memang pas untuk mereka melakukan apa saja termasuk bercinta.


"Aku duluan ya." Viana yang sudah selesai lebih dulu langsung meraih handuk kimono nya, tapi sebelum ia keluar, Viana sekilas mencium pipi Sang suami yang langsung membuat Andra tersenyum.


Mungkin, jika dengan Haura ia harus menunggu kurang lebih tiga tahun lagi untuk bisa melakukan hal yang menyenangkan, itupun jika mereka berjodoh di satu Iman yang sama. Tapi, buktinya Andra justru bisa merasakan hal-hal luar biasa seperti ini jauh dari dugaannya. Umur yang menginjak 20 tahun saja, ia sudah punya anak yang kadang orang lain kira itu adalah adiknya sendri.


Berbeda dengan Andra yang masih betah di kamar mandi, Viana justru sudah rapih berpakaian dengan sedikit make up tipis di wajah cantiknya.


Viana yang keluar dari kamar Sang suami langsung turun ke lantai bawah mencari Pangeran yang entah ada dimana.


"Bi, anakku mana ya?" tanya Viana pada salah satu ART di kediaman Bramasta.


"Ada di teras samping bersama Nyonya dan Tuan Muda Daffa, Nona."


Viana hanya mengangguk pelan sambil tersenyum simpul, ia melanjutkan langkahnya menuju tempat yang di sebutkan ART tadi.


"Pagi, Mih," sapa Viana pada ibu mertuanya, ia juga tak lupa menyapa kakak iparnya yang masih lajang sampai sekarang.


"Pagi Sayang, Pangeran belum Mami mandikan, dia masih asik main dengan Unclenya," ucap wanita paruh baya itu seraya melirik kearah putra keduanya.


Ketiganya mengobrol beberapa hal termasuk basa basi Daffa pada Viana yang jarang sekali bertemu mengingat adik bungsunya itu tetap tinggal di rumah mertuanya di banding tinggal di kediaman Bramasta.


"Aku bawa Pangeran dulu ya," pamit Viana sambil bangun dari duduknya.


Ceklek


Viana kembali ke kamar Sang suami dengan Pangeran ada dalam gendongan, ia dudukan putranya itu di tengah ranjang tepat di sini Andra yang sudah selesai mandi dan kini malah sedang bermain ponsel.


"Dede mau mandi?" tanya Andra.


Iyah


"Sikat giginya ya, keteknya sabunin nih," goda pria itu dengan gemasnya sambil mengajak bercanda Pangeran hingga batita itu tertawa geli.


Viana yang melihat dan mendengar suara dua pria kesayangannya itu hanya tersenyum simpul, jangan tanya betapa bahagianya ia sekarang yang sudah menyandang status istri dari pria setia dan ibu dari anak pintar, lucu dan menggemaskan meski di usia yang masih sangat muda.Hingga rasanya Viana enggan menukar semua itu dengan segala isi dunia yang mungkin di tawarkan untuknya.


.


.


.


Tuhan, tolong jangan di ganti dengan yang lain ya, karna hanya dengan mereka berdua saja aku sudah sangat bahagia.