Let's, Divorce

Let's, Divorce
Part 128



🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


"Aku--- aku lagi milih Lingerie dan pesan hotel untuk kita di luar kota, Mom," jawab Andra pelan namun masih bisa di dengar oleh Viana.


"Lingerie, hotel?" tanya Viana bingung.


"Nanti kan libur, Mom. Kita ke luar kota ya, nginep 2hari satu malam buat honeymoon, Ok." kali ini Andra benar-benar berbisik karna sangat takut terdengar oleh Pangeran.


Entuuuuut... malas sekali rasanya mendengar kata itu jika hasrat sedang menggebu dan ingin bermanja hanya berdua saja.


Jahat?, mungkin. Tapi, Andra dan Viana tetap anak muda yang masih ingin berdua di tengah godaan pihak ketiga, keempat bahkan deretan penggoda lainnya.


"Yakin hanya itu? tak main api dibelangku?" tanya Viana lagi memastikan jika jawaban Andra jujur dan bukan hanya sebuah alasan untuk menenangkannya.


"Aku masih ingat bagaiamana senyummu, Dadd," tambahnya lagi, bukan wanita rasanya jika tak terus mengungkit padahal jelas Si pria sudah jujur hingga ke akarnya.


"Aku senyum?"


"Hem, bibirmu ini melengkung indah bagai sedang jatuh cinta," sindir Viana.


"Viko memberiku banyak model Lingerie, Mom, otakku tak kuat jika tak sambil membayangkanmu memakainya. Banyak warna tapi hanya tiga yang ku pilih," jelasnya lagi malu malu.


"Untuk apa sebanyak itu?"


"Aku tak mau kamu memakai baju lain selain Lingerie yang nanti aku belikan," jawab Andra dengan nada tak ingin di gangu gugat.


Viana yang mendengar perintah aneh konyol dan tak masuk akal itu pun akhirnya menjewer telinga Andra hingga pria itu merintih kesakitan. Tak perduli Andra memohon ingin di lepaskan nyatanya tangan Viana tetap setia di sana.


Niat hati ingin memberi Lingerie pesanannya di hotel nanti saat liburan pun akhirnya kandas karna Viana justru menyimpan rasa curiga yang berbuntut cemburu tak jelas padanya. Andra tak menyangka jika senyum yang tersungging mana kala otaknya yang sedang traveling justru membuat Viana se terluka ini hingga mendiamkannya lebih dari sehari.


"Jangan pernah berpikir di luar nalar, Mom. Maafkan aku, aku tak serendah itu memainkan seorang wanita yang akupun lahir dari wanita, aku menyakitimu sama saja aku mengecewakan Mamih. Sedangkan kamu, kamu adalah pemilik Surga Pangeran, aku tak sanggup melakukannya."


Rasa haru yang di dengar Viana membuat tangisnya pecah, ungkapan perasaan yang Andra berikan padanya bukan sekedar kata cinta tapi lebih ke apa yang pria itu rasakan, pria itu pikirkan dan pria itu harapkan.


"Aku yang harusnya minta maaf, aku sudah lancang menuduhmu berkhianat. Aku cukup tahu diri aku tak secantik wanita di luar sana, Dadd."


"Jangan bicara tentang Cantik, semua akan usai pada masanya. Aku mencintaimu bukan di pandangan pertama yang artinya aku tak melihat fisikmu, Sayang. Aku mencintaimu secara perlahan namun pasti. Dan itu butuh proses dan perjuangan yang luar biasa," jawab Andra sambil menghapus air mata yang membasahi wajah wanita cinta terakhirnya.


Berbanggalah akan hal itu, karna yang pertama belum tentu yang terbaik dan yang jadi pelabuhan akhir, tapi yang kini bersama sudah pasti di cintai tanpa ada sisa.


"Aku paham, tapi ku mohon jangan di ulang lagi karna aku terus berpikiran buruk tentangmu hingga ajakan keramat itu ingin ku layangkan lagi padamu," kata Viana masuk terisak sedih.


"Apa?" tanya Andra.


.


.


.


Let' Divorce...