Let's, Divorce

Let's, Divorce
Part 53



🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Viana yang sudah terlanjur kesal langsung bangun dan keluar lebih dulu, bagaimana bisa pria itu memintanya datang ke rumah yang sudah memberinya kenangan buruk, merelakan kesuciannya dengan cara di paksa setelah puas bertengkar.


Ini bukan masalah sepele bagi Viana apalagi dampaknya sampai membuat ia langsung hamil di saat ujian kelulusan sudah di depan mata.


"Vi, tunggu!"


"Aku gak mau, kalau Mami mau ketemu, kita bisa ketemu di luar atau Mami yang ke rumah Ayah, tapi untuk datang dan masuk lagi ke kamarmu, Terima kasih banyak, Andra." Viana sengaja bicara begitu lantang dengan penuh penekan agar suaminya itu tahu se menyedihkan apa hidupnya sekarang.


"Ya sudah, nanti aku bilang Mami ya, aku antar kamu pulang," kata Andra yang pasrah dan harus kembali mengalah.


Mereka pulang, tapi di rumah sepi karna hanya ada Bibi sedangkan Bunda ternyata ke rumah temannya yang tak jauh dari sana.


Viana yang masuk kedalam kamar di susul oleh Andra setelah meletakkan kecap di atas meja makan.


"Vi, aku pulang, kamu istirahat ya, apa mau ku buatkan susu dulu?" tawar Andra saat ia pamit.


"Gak!" tolak nya cepat yang sudah meringkuk diatas ranjang dengan bantal menutupi wajahnya.


"Ya sudah, aku pulang ya, besok pagi aku kesini lagi, kamu baik baik di rumah ya,", pamit Andra sambil memberikan banyak pesan untuk istrinya.


Viana tak menjawab, ia juga tak menepis bahkan protes saat tangan Andra mengusap kepalanya lalu di ciumnya juga sekilas, wangi rambut Viana entah kenapa begitu lain bagi suaminya itu.


.


.


"Iya, Mas Andra, ada apa?" tanya Bibi saat menantu majikannya itu memanggil dengan begitu sopan padahal ia anak orang kaya raya meski yang paling kata tetap Rahardian Wijaya 🤭


"Bi, tolong ya nanti Viana kalau mau apa-apa di ambilin jangan naik turun tangga terus takut perutnya sakit, ingetin makan sama obatnya takut Bunda lupa," pesan Andra yang sangat mengkhawatirkan istrinya jika Bunda sedang tak di rumah seperti ini.


"Oh, iya. Siap, Mas Andra, tapi--, "


"Tapi apa, Bi?" tanya Andra saat wanita baya di depannya itu memotong ucapannya.


"Kenapa gak tinggal sini saja, Mas, kaya kemarin kemarin?" Bibi memberikan pertanyaan tersebut sambil menunduk kan kepala karna sudah lancang, tapi sebagai yang paling tua dan berpengalaman ia bisa menyadari satu hal yang mungkin Viana saja pasti tak peka.


"Belum waktunya, Bi. Doakan saja hubungan kami baik baik saja. Tak apa berpisah dulu di awal semoga bisa bersama sampai akhir," jelas Andra sambil tersenyum kecil, tentu ini juga tak mudah baginya apalagi menjadi sosok yang paling bertanggung jawab atas Viana dan anak mereka.


"Aamiin, Mas. Semua yang terbaik untuk keluarga ini selalu Bibi panjatkan. Mbak Viana sehat selalu beserta bayinya karna jika sedang bersama Mas Andra justru Mbak Viana gak muntah muntah terus," kata Si Bibi yang langsung membuat kedua alis Andra saling bertautan.


"Ma--maksud Bibi apa?" tanya Andra.


Wanita baya itu pun mulai bercerita dimana ada perbedaan saat Viana bersama Andra ataupun tidak dan yang paling jelas tentu di mual muntah nya. Mendengar itu Andra langsung naik lagi ke lantai dua menuju kamar Viana, dan..


.


.


.


Oooeeeeek...