
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Usia kandungan yang kini kian membesar membuat Viana semakin sulit bergerak, sudah satu minggu usai acara 7 bulanan di kediaman Bramasta nyatanya ia belum juga pulang kerumah orang tuanya karna tak enak pada Mami yang masih ingin di temani.
Viana pun menurut, tak ada alasan lain yang bisa membuatnya menolak dan memaksa untuk pulang.
Padahal ia kasihan pada Bunda karna di tinggalkan, ia tak bisa membayangkan sepinya rumah saat Bunda tak ada teman untuk mengobrol kecuali dengan Bibi.
Tapi, mertuanya juga punya hak atasnya sebagai menantu karna orangtua Andra adalah orangtuanya juga, apalagi mengingat Andra begitu baik pada Ayah dan Bunda selama ini, Andra begitu menghormati dan sangat menghargai mertuanya tersebut.
"Besok kita shoping untuk beli perlengkapan untuk bayimu ya," ucap Mami usai makan siang.
"Kata Andra suruh pesen aja, Mih."
"Oh, gitu? iya sih lebih praktis ya pastinya dan kamu gak akan capek kalau muter muter toko di Mall," sahut Mami membenarkan permintaan Andra.
"Iya, Mih. Aku juga belum bisa keluar rumah lama lama," tolak Viana yang kadang masih takut jika bertemu orang lain yang mungkin mengenalinya.
"Mami paham, Nak. sangat-sangat paham dengan apa yang kamu rasakan saat ini, kamu yang sabar ya. setelah anak ini lahir kamu bisa melanjutkan aktifitasmu seperti biasa," ujar Mami sambil mengusap punggung menantunya yang kadang datang tanpa menginap, padahal Mami juga sangat kesepian sebagai seorang ibu yang tiga anaknya kini sudah besar semua, jadilah anak Andra dan Viana harapan wanita paruh baya itu untuk meramaikan kediaman Bramasta.
"Aku belum berpikir ke sana, Mih. Entah kapan mau lanjut kuliah, aku mau lihat kondisiku dulu," jawab Viana yang memang belum merencanakan apapun.
Mungkin, ia akan meneruskan pendidikannya itu di tahun depan atau saat anak mereka nanti bisa ditinggalkan. Tak ada yang tak mungkin karna semua keputusan ada pada diri Viana sendiri. Andra tak banyak menuntut apalagi meminta istrinya itu untuk fokus pada ia dan anak mereka. Andra tentu tak masalah karna ia bisa meminta pengasuh untuk menjaga anaknya saat Viana mungkin sibuk di kampus meski nyatanya Bunda dan Mami pasti tak mengizinkan mengingat anak dalam rahim Viana sedang sangat sangat di nantinkan kelahirannya.
"Ya sudah, senyamannya kamu saja, kamu sudah punya list belanjaan untuk perlengkapan bayimu?" tanya Mami lagi.
"Sudah, tapi belum semua, nanti ku pikir pikit lagi, Mih. Masih cari cari juga mana yang harus di dahulukan dan yang penting," jawab Viana, meski kedengarannya mudah tapi nyatanya membuat pusing kepalanya sampai rasanya ingin muntah.
"Mami bangga padamu, di saat anak seumur mu hanya mementingkan yang lucu lucu untuk di beli tapi kamu tetap ingat mana yang harus di dahulukan, tak salah jika Mami sangat menyayangimu, Viana." Mami pun lama memeluk menantunya tersebut saking tak percayanya dengan semua yang terlontar dari bibir istri putra bungsunya.
"Mih, aku sama saja, hanya aku tak ingin segala sesuatunya jadi mubazir," sahut Viana yang memang kian hari kian dewasa sampai membuat suaminya itu semakin tak bisa jauh dan ketergantungan pada sosok Viana.
"Tidak, Sayang. Kamu sangat luar biasa, Mami selalu berdoa demi kebahagiaanmu dan Andra juga anak yang sedang di kandung
.
.
.
Viana yang sudah masuk kamar kini sedang menunggu suaminya pulang, Andra memang izin pergi dengan teman-temannya untuk melakukan kegiatan dari sekolah tapi ia akan berjanji pulang setelah semua selesai. Ucapan pria itu memang sangat bisa dipegang jadi tak salah jika kini mereka semakin jarang sekali bertengkar.
Ceklek
Bunyi suara pintu terbuka membuat Viana menoleh dengan cepat. Senyum terbaiknya ia berikan manakala sang suami kini sedang berjalan mendekat kearahnya.
"Cape ya?" tanya Viana saat Andra langsung menjatuhkan kepalanya diatas pangkuan Viana.
"Hem, lumayanlah."
Viana langsung mengusap usap rambut Andra yang sekarang tengah mengajak mengobrol anaknya yang masih dalam perut.
"Besok Mami ngajak beli perlengkapan bayi tapi katamu pesen aja kan?"
"Iya, memang kamu mau pergi?" tanya Andra.
"Enggak, liat tuh kaki aku masih bengkak," jawab Vians sembari mengarahkan Pandangannya ke arah ujung dari tubuhnya tersebut.
Andra pun menoleh dengan cepat, dan memang benar saja jika kaki Viana masih saja besar meski tak sebesar kemarin-kemarin, walau tak terlalu mengkhawatirkan dan kayanya itu hal biasa namun tetap saja membuat Viana sedikit uring-uringan karena malu dan tak percaya diri.
"Ya udah diem diem di rumah ya, kalau mau jalan-jalan jangan pas belanja banyak, kamunya makin capek. Buat perlengkapan baby, pesen aja dulu apapun yang kamu mau dan di butuhin," ujar Andra yang tentunya langsung di iyakan oleh sang istri sambil tersenyum.
Beberapa saat Andra menceritakan banyak hal sambil tangannya tetap memijit kaki. Mulai dari tugas sekolah, rapat siswa hingga keseruan teman-temannya, rasa iri dan rindu pun kini bersatu jadi satu tapi semua itu tersisihkan saat Viana mengusap pelan perutnya yang hanya ada pergerakan kecil, sang calon bayi memang senang jika Andra sudah bercerita.
"Mandi yuk, Vi," ajak Andra tapi ia tak langsung mendapatkan jawaban, Viana berpikir sejenak sebelum akhirnya ia mengangguk.
Andra yang senang langsung mengulurkan tangan, disini mereka tak hanya bisa mandi berdua di bawah guyuran air shower tapi juga berendam di bathtub yang besar hingga cukup untuk mereka berdua.
Tangan yang saling menggenggam dari ranjang hingga masuk kamar mandi kini terlepas saat Andra menarik baju model dress sebatas lutut, tak hanya itu saja tentunya karna Br4 dan kain tipis di bagian inti Viana pun satu persatu di lepasnya juga. Kini wanita hamil itupun sudah polos tanpa apapun dan sekarang giliran Andra yang melakukan hal yang sama
Dulu, mana pernah terbersit dalam benak Andra akan bisa melakukan hal yang seperti ini di usia yang masih sangat muda, tapi nyatanya hal yang tak ia duga ia rasakan bersama Vian, Si pelangi hidupnya yang membawa warna lain dalam setiap hari yang mereka lalu selama kurang dari satu tahun tersebut. Kejutan ini sungguh luar biasa baginya meski harus dewasa di sebelum waktunya yang tak lagi bisa egois sebab kebahagiaan istri dan anaknya jauh lebih penting.
Andra dah Viana sudah masuk kedalam Bathtub yang di isi air hangat dan sedikit aromaterapi. Jangan harap tangan Andra akan diam jika sudah begini karna buktinya sang istri entah berapa kali memarahinya.
"Colek dikit, Mom." kekeh Andra yang sudah meraba-raba bagian Rawa basah.
"Geli ih."
"Main yuk," ajak Andra, kadang isengnya memang sering di luar batas hingga membuat ujung-ujungnya harus ada penyatuan tubuh yang membawa kenikmatan tiada tara.
Kini, Viana jarang sekali menolak jika bukan karna perutnya yang sakit, entah karna memang ia suka dengan sentuhan Andra yang kini begitu lembut atau memang hormon hamilnya yang membuat ia terus berhasrat yang jelas ia juga senang melakukannya apalagi jika mereka mendapat kenikmatan di puncak pelepasan Bersama-sama.
"Enggak ah, di kamar aja," tolak Viana, akan selama apa ritual mandinya nanti.
Karna yang ia rasakan selama ini pria itu tak pernah kurang dari 20 menit meski dalam keadaan apapun termasuk yang kadang cuma iseng seperti ini, berbeda lagi jika sudah di niatkan dengan berbagai cumBUan di menu pembuka, kadang Viana sampai sering kesal sendiri karna lamanya permainan sang suami yang tak kunjung selesai sedangkan ia sudah lemas karna lebih dulu mereguk manisnya surga dunia yang rasanya tak bisa di ungkapkan dengan kata-kata.
.
.
.
Selesai mandi, mereka yang hanya memakai handuk berjalan kearah ranjang. Viana yang sudah berbaring tentu langsung di datangi oleh Andra dengan perasaan tak sabar, semakin int!M hubungan mereka semakin kuat juga rasa nyaman yang mereka rasaka kini, terutama Viana yang memang sangat butuh perasaan itu di trimester ketiga atau akhir di kehamilannya ini.
Sentuhan lembut dari leher hingga dada terus diberikan oleh Andra hingga suara desahaAN lolos begitu saja, kini Viana hanya bisa mencengkram rambut, bahu atau punggung suaminya itu mana kala lidah dan gigitan gigitan kecil Andra lakukan di kedua bagian sensitif istrinya. Serangan yang tak ada habisnya itu membuat Viana kadang menyerah sebelum waktunya.
"Sekarang ya," pinta Andra.
"Pelan-pelan," pesan Viana yang masih saja takut Andra menerobosnya dengan kasar lagi seperti saat pertama kar'na momen seperti itu begitu sulit ia lupakan.
Andra bermain dengan cukup pelan, ia begitu menikmati semua yang ia lakukan dan ia rasakan. Jika mungkin teman-temannya bisa sama pernah atau sering melakukannya dengan teman kencan atau kekasihnya, Andra justru sangat sangat beruntung sebab ia bisa menuntaskan hasratnya dengan istri sendiri yang pastinya halal dan justru berdosa jika tak di sentuh karna bagi Andra dan Viana ini tak hanya tentang kebutuhan bathin tapi juga gak dan kewajiban sebagai suami istri yang sah.
Aaaaaaaarghh.
Lenguhan dahsyat dari pasangan itu membuat keduanya kini terkapar karna lelah. Mereka bagai seekor ikan yang terdampar karna kekurangan oksigen.
"Capek ya, Mom?" bisik Andra yang langsung mendekat dan memeluk isterinya di saat tenaganya sedikit pulih kembali.
"Hem, begini terus kalau abis selesai," jawabnya dengan napas tersengal
Bukan hanya Viana yang kadang takut suaminya mencari partner lain, karna Andra pun merasakan hal yang sama. Ia kadang berpikir sampai sangat jauh hingga satu pertanyaan muncul dalam benaknya.
'Bagaimana jika aku tak bis memuaskanmu?'
Hal itu juga yang di takutkan oleh Andra mengingat mereka masih muda yang kadang jiwa penasarannya sering meronta ronta untuk tahu hal yang baru dan sensasi yang berbeda.
Slama ini Andra selalu berusaha untuk tak mudah terangsang dengan oleh siapapun kecuali hanya dengan Viana. Jadi saat ada gadis lain mendekat ia akan lebih memilih membuang pandangan atau menundukkan kepalaku. Apapun ia lakukan demi menjaga harga dirinya sebagai suami sebagai mana yang sudah di ajarkan oleh orangtuanya.
Sulitkah?
Tentu, karna jika ingin mencari yang lebih cantik mulus dah seksi dari Viana tentunya sangat banyak bahkan tak perlu mencari karna selama ini banyak gadis yang terbukti datang menghampiri.
Tapi apa akan senyaman bersama dengan sang istri?
Apa akan ada candaan dan ungkapan cinta setelah melakukannya sama seperti saat ia bersama dengan sang istri?
Karna yang di cari tentu bukan hanya kepuasan semata tapi rasa nyaman saat sebelum dan sesudah sambil mengalirkan lagi energi positif dan cinta dari tubuh masing-masing saat berpelukan.
Dan, seperti biasa Viana akan tidur setelah dirasa ia sudah begitu lelah. Andra langsung merapihkan selimut untuk menutupi tubuh polos mereka yang sempat banjir keringat padahal jelas keduanya baru selesai mandi.
.
.
.
Lebih dari satu jam, Viana bergeliat kecil karna rasa lapar yang mendadak seperti biasanya. Ia tak lagi memikirkan bentuk tubuhnya yang kian berisi karna yang ia pikirkan bagaimana perutnya kenyang dan anaknya diam. Masalah langsing bisa ia pikirkan kembali nanti pada saat waktunya tiba.
"Mau kemana, Vi?" tanya Andra saat ia merasa pelukannya di lepaskan
"Bersih-bersih lagi, habis itu mau makan," jawab Viana yang baru saja ingin turun dari ranjang.
"Mau makan apa? mau makan yang di rumah atau beli, Mom?? " tawar Andra yang tahun jika jajan adalah rutinitas wajib Viana selama mas Kehamilan.
"Hem, apa ya," sahutnya masih nampak berpikir.
.
.
.
Bubur kacang pakai Es, boleh juga tuh.