
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
"Uang? buat apa?" tanya Andra heran karna ini pertama kalinya Viana meminta, padahal biasanya ia tak pernah perduli.
"Buat beli sesuatu, cepetan."
"Iya, apa? pesen aja barangnya nanti aku yang bayar," kata Andra yang perasaannya mendadak tak enak meski tak curiga apapun.
"Kok gitu? gak percaya sama istrimu ini, hem?!"
"Cih, bagian minta uang nyebut istri, kemarin kemarin kemana aja, Bumil?" sindir Andra sambil mencubit gemas hidung Viana.
"SAKIT!"
Andra hanya terkekeh, ia meletakkan nampan dan piring kosong ke atas nakas lalu meraih ponselnya di saku celana.
"Berapa?" tanya Andra dan beberapa detik kemudian langsung mengernyitkan dahi saat Viana menyebutkan angka yang ia inginkan.
"Ini seharga sepeda motor, Vi."
"Ish, Pelit!"
Viana sengaja meminta lebih karna ia pun butuh ongkos dan lainnya nanti selama di klinik yang mungkin ada biaya tambahan. Ia tak berani bertanya pada siapapun, semua ia tahu dari pencariannya di sosial media barusan.
Andra yang awalnya hanya tak enak hati kini sedikit curiga, karna dua hari lalu ia juga baru mentransfer uang ke rekening istirinya tersebut. Andra pikir ia tak mau menunggu Viana meminta jadi saat ada rejeki lebih ia langsung memberi sebagian, dan sebagian tentu untuknya sendiri.
Tapi, berbeda dengan hari ini, tak jelas untuk apa tapi Viana langsung meminta dengan jumlah yang cukup menguras isi tabungan Andra yang ia simpan untuk biaya lahiran anaknya nanti. Andra sudah bertekad untuk menanggung semuanya tanpa merepotkan orang tua dan mertuanya.
"Bukan pelit, tapi bilang dulu mau apa?" desak Andra.
"Ya aku gak tahu, minggu nanti aku mau pergi ke Mall, aku mau Me Time sambil belanja," jawab Viana dengan alasan yang cukup umum bagi wanita seusianya, ia juga bukan orang yang sederhana karna terbukti gayanya yang memang kekinian dan modern, terlebih sampai detik ini ia masih menyandang status anak tunggal keluarga yang cukup kaya.
Begitulah Viana, kini ia tertawa padahal saat di sekolah tadi istirinya itu bagai seekor Macan yang siap menerkamnya dengan menyebut nama Mantan.
"Vi, kalau punya keluhan tolong bilang sama aku ya, jangan libatkan orang lain dalam pernikahan kita," mohon Andra.
"Maksudmu apa?" tanya Viana belum paham.
"Kalau sakit, atau apapun itu tolong bilang ke aku, jangan ke Mas Daffa," jelas Andra.
"Kenapa? dia kakakmu yang calon dokter juga, lalu dimana salahku?! harusnya aku yang memohon itu padamu karna kamu sudah menceritakan kehamilanku pada Haura!" teriak Viana.
Andra lupa jika sosok di depannya kini adalah wanita yang begitu sensitif dan mudah terpancing emosinya.
"Viana--"
"Apa? kaget, iya! buat apa kamu bilang ke Haura aku hamil? untuk menunjukan padanya jika aku gadis murahan yang mau kamu tiduri hanya karna napsu, bukan cinta. Begitu kan? dia dan semua orang pasti menertawakanku Andra."
"Kamu salah, Vi. Aku memang bilang kamu hamil tapi bukan itu maksudku, Haura juga gak mungkin punya pikiran seperti itu, ia tahu hak dan kewajiban suami istri, dia gak pernah mandang rendah kamu," balas Andra.
"Alah, Bullshit! omong kosong."
Viana yang kembali berteriak mencoba di tenangkan, tapi nyatanya Viana malah semakin mengamuk dengan melempar nampan dan piring bekasnya makan.
.
.
.
Bela saja terus, aku cukup tahu diri kok, sebaik apapun aku di depan mata kamu pastinya akan selalu kalah dengan yang ada di hati kamu...