Let's, Divorce

Let's, Divorce
Part 82



🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Andra yang melamun di teras depan rumah di hampiri oleh Viana, satu jam lalu mereka baru saja pulang dari rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan kandungan yang kini sudah menginjak usia 5 bulan, yang artinya sudah masuk trimester kedua di kehamilan anak pertama mereka saat ini.


"Andra, ada apa? apa dokter bilang sesuatu tentang kehamilanku barusan?" tanya Viana yang penasaran dengan arti diamnya Andra.


Ya, pria tampan yang kini terlihat semakin dewasa itu sedikit aneh saat sampai rumah dan ada senyum yang di paksakan selama perjalanan pulang. Viana bisa menangkap semua itu karna kini mereka sepakat untuk tinggal bersama tanpa Andra bolak balik ke rumahnya meski belum satu ranjang.


"Gak apa-apa, kan dokter semua bilang baik-baik aja. Tak ada yang aku khawatirkan tentangmu dan anak kita, tenang saja ya," jawab Andra yang tak mau Viana punya pikiran yang macam macam.


"Kok diem aja?"


"Aku lagi mikirin ujian, Vi." Andra akhirnya memberi alasan lain.


"Ya ampun, aku aja yang pinternya standar gak mikirin, kamu santai aja kali, kan pinter," sahut Viana sambil terkekeh.


Andra membuang napas kasar, otaknya penuh dengan semua yang belum terjadi, tak ada rencana apapun karna ia takut semua tak sesuai dengan yang di inginkan.


"Kamu yakin mau lahiran disini?" tanya Andra karna orang tuanya memberi penawaran pada Viana untuk tinggal sementara di luar kota, pasangan paruh baya itu tak tega jika Viana tak bisa kemana-mana karna takut ada yang mengenalinya dengan perut yang bukan lagi buncit tapi besar.


"Hem, aku di sana sama siapa? kamu pasti disini kan?"


Andra mengangguk, mereka memang tak bisa kemana-mana karna waktunya benar-benar tak memungkinkan sama sekali.


"Jalan-jalan nanti, aku udah lahiran ya?"


"Aku gak akan pergi, Vi," jawab Andra langsung sambil meraih tangan istrinya.


Andra tetap menggeleng kan kepalanya, mana mungkin ia pergi disaat istrinya baru saja melahirkan jika memang mengikuti HPL yang sudah di hitung team dokter sejak awal.


Di hari bahagia itu tentu Andra hanya ingin bersama anak dan istrinya, tak perduli dengan jalan-jalan di acara perpisahan nanti.


"Luar negeri loh, Ndra."


"Kenapa? nanti kita nyusul ya," jawab Andra yang membuat Viana tak percaya dengan yang di katakan suaminya barusan.


"Serius? kamu beneran mau ajak aku ke luar negeri," tanya Viana dengan mata yang berbinar senang.


Acara kelulusan sekolah nanti termasuk salah satu impiannya untuk keluar negeri secara mandiri meski masih terbilang negeri tetangga tapi itu akan menjadi pengalaman pertamanya. Tapi, Lagi-lagi semua itu terpatahkan dengan kondisinya sekarang, jika memikirkan itu rasanya hati Viana akan terasa sakit. Namun, ia sudah berjanji untuk tidak menoleh lagi ke belakang tentang kejadian yang sudah berlalu, bayi yang kini sudah terasa bergerak aktif jadi hiburan tersendiri yang tak bisa di tukar dengan apapun dan tak bisa di bayangkan dengan kata-kata.


"Iya, aku serius, setelah nanti kamu melahirkan dan anak kita bisa di tinggal," jawab Andra yang membuat kening Viana mengernyit.


"Di tinggal? maksudmu apa? kita pergi berdua, kenapa?" tanya Viana.


.


.


.


Anggap itu Honeymoon untuk kita, Sayang...