Let's, Divorce

Let's, Divorce
Part 96



🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Andra yang turun dari ranjang langsung berjalan kearah lemari untuk mengambil pakaian ganti, tapi matanya tetap memperhatikan Viana yang masih duduk di depan Pangeran yang bergeliat kecil di atas ranjang. Tak ada yang di lakukan wanita itu kecuali hanya menatap Sang buah hati dengan begitu banyak rasa dalam hatinya hingga beberapa menit berlalu. Andra yang sejak tadi berdiri di depan pintu kamar mandi pun akhirnya mendekat dan duduk di samping istrinya.


"Kok cuma di liatin aja," ujar Andra sambil mencium pipi Viana sekilas.


"Bingung mau di apain," jawab Viana yang malah berhambur memeluk Andra, pergerakannya itu justru membuat Pangeran kaget lalu bangun, ia merengek tapi Andra membiarkannya.


"Ssst, diem jangan takut ya," bisiknya pada Viana saat istrinya itu ingin menjauh.


Ya, Viana selalu saja kabur saat Pangeran menangis, ia tak berani menggendong karna takut menyakiti makhluk kecil itu dengan sentuhannya yang tak bisa apa-apa, padahal tanpa ia sadar justru Sang putra malah butuh tangan dan dekapannya.


"Sini gendong bareng sama aku, percaya gak kalau nanti di akan diem?"


Tak ada jawaban dari Viana, ia melihat Andra meraih tubuh mungil Pengeran lalu di letakkan di atas pangkuannya.


"Coba peluk deh," titah Andra yang langsung membuat Viana menggelengkan kepala.


"Mau coba susuin lagi gak?"


"Kan gak keluar, aku gak bisa susuin dia kaya orang-orang, Ndra."


Kini, tak hanya Putranya yang ada dalam pelukan, karna Viana juga sudah ikut masuk dan bergabung, disaat seperti inilah beban Andra begitu nyata tapi ia juga senang karna semua ini serasa mimpi baginya. Orang yang tahu, pasti akan terkejut dengan semua yang sudah ia lewati di usia muda yang bahkan belum lulus SMA.


Anak bungsu dari keluarga kaya raya yang biasanya manja, egois dan keras kepala itu justru dewasa sebelum waktunya. Tanggung jawab besar kini ada pundak Andra yang harus memikirkan bagaimana orang-orang yang di cintainya itu bisa terus tersenyum bahagia.


Kini, ia hanya bisa ikut sabar mendampingi rasa cemas dan takut yang sedang di alami Viana, tak ada obat yang bisa menyembuhkan kecuali dirinya dan pikirannya sendiri.


.


.


.


Mami yang sekarang datang setiap sore tentu langsung menemui Viana, tapi semuanya berkumpul di ruang tengah lantai dua, ada TV dan satu sofa saja disana yaoo mereka semua memiliki duduk di karpet agar Pangeran juga bisa di tidurkan bersama. Bayi yang baru menyapa dunia itu terlihat sangat menggemaskan dengan sesekali membuka mata lalu tertidur lagi membuat Mami ingin membawanya pulang.


"Via, Baby mu lagi liatin aja kamu aja nih, kangen Mommy kayanya," ujar Mami..


Viana yang berada dalam pelukan Andra pun langsung mendongakkan wajahnya tanpa ekspresi tapi Andra paham apa yang ada di kepala istrinya.


"Enggak, nanti aja. Tangannku gemetaran nanti," tolak Viana, di depan Bunda dan Andra saja ia tak berani apalagi di depan ibu mertuanya.


Mami hanya tersenyum meski jauh di dasar hatinya ia begitu sedih melihat Sang cucu belum merasakan dekapan ibunya. Mami yang menawarkan Viana ke psikiater jelas di tolak oleh. Andra karna jelas istrinya baik-baik saja.


"Saat kamu sudah libur, menginaplah dirumah, Ndra," pinta Mami yang sedih jika harus menahan rindu.


"Iya, nanti aku cari waktu yang pas ya, Mih."


Dan saat malam mulai larut Mami pun berpamitan pulang meski rasanya ia begitu berat meninggalkan Pangeran.


"Hati-hati ya, Mih." Andra yang mengantarkan


sampai teras pun meminta wanita tersebut cepat mengabarinya.


"Tentu, Nak. Main lah kerumah jika semua sudah baik baik saja, Ok."


Andra hanya tersenyum sembari mengangguk, ia paham dengan yang di dirasakan Mami nya, tapi ia benar-benar tak bisa salah sedikit pada Viana saat ini.


Mami yang sudah pergi pun membuat Andra memilih untuk masuk karna tadi Pangeran dan Viana masih di ruang tengah bersama dengan Bunda.


"Aku mau tidur, Ndra."


"Hem, iya. Ini anaknya gak di bawa sekalian?" tanya Andra saat Viana berhambur memeluknya.


"Enggak, kamu aja," tolak Viana yang kemudian berlalu lebihh dulu ke kamar stelah Andra mencium gemas pipinya.


.


.


.


Mommy lagi dendam sama Daddy, Pangeran Sabar ya..