
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Di ruang rawat inap, Andra yang baru kembali dari ruang dokter langsung duduk di sebelah Viana, keduanya ada diranjang pasien sedangkan orang tua mereka ada di sofa panjang dan kursi biasa.
"Jadi Via akan tetap pulang kerumah?" tanya Ayah memastikan keputusan yang di buat putrinya, ia hanya tak ingin besannya salah sangka dan mengira ia menahan menantu mereka untuk kembali ke kediaman Bramasta.
"Iya, boleh kan?"
"Boleh, Sayang, nanti Mami dan Papi yang sesekali kesana menjengukmu," timpal wanita paruh baya yang teramat menyayangi istri dari putra bungsunya tersebut.
"Maaf," ucap lirih Viana yang sedari tadi menunduk, masih saja ada perasaan malu dan tak enak hati karna sudah melakukan hal bodoh seperti kemarin yang mungkin saja akan berakibat fatal untuknya dan juga bayi di kandungannya tersebut.
Mami yang mendengar hal tersebut langsung bangun dan mendekat ke arah Viana, ia raih tangan lembut menantunya sebagai tanda semua baik baik saja.
"Kamu tak salah, jangan pernah meminta maaf ya," ujar Mami ikut sedih dengan semua kejadian yang menimpa Viana beberapa waktu lalu.
Si cantik yang di anggapnya selama ini cukup tenang, ternyata menyimpan luka dan rasa tertekan yang tak ada satupun peka padahal Viana seringkali melayang kan aksi protes dan penolakan secara terang-terangan.
"Kami yang harusnya meminta maaf padamu, Nak. Terutama Papi yang sudah menyepelekan perasaanmu dan Andra. Tentunya kalian bukan perusahaan yang bisa dengan mudah Papi kendalikan," ujar Pengusaha sukses paruh baya tersebut yang punggungnya langsung di tepuk pelan olah besannya.
Semua bagai bom waktu yang akhirnya kini sudah meledak, kemudian hancur dan berantakan. Tugas mereka semua sekarang hanya menyusun kembali puing-puing retakan hati Viana yang meski tak lagi seindah di awal namun setidaknya masih utuh untuk kembali mereka susun bersama.
"Jadikan ini pelajaran, kita hanya kurang berkomunikasi dan terlalu memaksakan kehendak, biarlah sisanya mereka yang putuskan, doakan saja yang terbaik untuk Andra dan Via," timpal Bunda yang sejak awal memang kurang setuju tapi ia takut karna sadar akan posisinya yang hanya ibu sambung.
Andra dan Viana saling pandang, tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut mereka tapi seolah tahu apa yang sedang ada di pikiran masing-masing.
.
.
Viana di antar pulang oleh orang-orang terdekatnya, mereka terus mengucap syukur karna masih di berikan kesempatan kedua untuk memperbaiki kesalahan yang tak mereka sadari tersebut. Kata maaf tentu tak akan pernah cukup jika hal buruk benar-benar terjadi pada Viana dan bayinya.
"Istirahatlah, lakukan apapun itu yang membuat dirimu senang," pesan Mami sebelum ia meninggalkan kamar menantunya karna ia dan Bunda memang mengantar sampai sana.
"Mami benar tak marah padaku?" tanya Viana.
"Tidak, Sayang," sahutnya sambil terkekeh, ia begitu gemas melihat Viana yang memang masih terlihat manja sesuai umurnya.
"Terima kasih, aku janji tak akan mengulanginya lagi," ujar Viana dengan menatap Mami dan Bunda secara bergantian.
"Syukurlah, kita perbaiki semuanya bersama. Kadang, kita memang harus jatuh dulu agar merasa sakit lalu kuat," sambung wanita berhijab pashmina tersebut yang tak lain adalah Bunda yang merasa sangat lega saat ini
.
.
Percayalah, segala sesuatu yang memang sudah di takdir kan untukmu akan tetap menjadi milikmu meski kamu berusaha dan terus mengelak. Begitu pun dengan jodoh, ia akan tetap menjadi tujuan akhirmu meski harus datang dengan cara merangkak penuh luka dan air mata...