Let's, Divorce

Let's, Divorce
Part 89



🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Hal yang selama ini selalu ditahan oleh Andra, ia harap bisa di tuntaskan dengan wajar bersama pasangan halalnya yang kini sudah tepat di depannya, ada raut panik di wajah Viana saat Andra menekan sedikit tengkuknya.


"Aku ingin, dan aku yakin kamu paham maksudku," bisik Andra yang lalu mencium pipi Viana.


Ia memang sulit memeluk dari depan karna ada anak mereka yang menghalangi dan memberi jarak. Semuanya akan di lakukan Andra secara perlahan tanpa paksaan, sekalipun Viana menolak hasrat nya yang kini sudah serasa di ujung tanduk.


"Aku takut, rasanya sangat sakit," jawab Viana dengan perasaan berdebar hebat seakan trauma itu datang kembali padanya.


"Kita lakukan dengan pelan, jangan samakan aku yang dulu dan yang sekarang. Bukankah kali ini meminta izin darimu? jadi kita bisa mengulangnya dengan rasa suka sama suka, bagaimana?" rayu Andra sambil terus mencoba bernegosiasi dengan istrinya yang tangannya sudah dingin.


Entah karna memang ia hanya memakai handuk saja, atau mungkin karna gugup, Andra tak bisa menebak sama sekali karna yang ia tahu Viana masih merasa ketakutan.


Andra menangkup lagi wajah wanita halalnya itu, ia cium mulai dari kening lalu ke kedua pipi yang kini seperti bakpao, putih dan bulat serta akan merah merona jika sedang merasa malu akibat godaannya.


Viana diam, tak ada penolakan atau respon menerima karna yang Andra tahu istrinya hanya memejamkan kedua mata dengan tangan mengepal seperti menahan sesuatu.


Melihat sang istri memberi respon seperti itu, tentu membuat Andra takut. Ia tak ingin Viana merasa tertekan dan stress kembali jika ia ingat bagaiamana pertama kali mereka berhubungan badan dengan cara kasar dan brutal.


"Mandi ya, bau asem," ledek Andra agar istrinya kembali rileks.


Andra pun langsung keluar dari dalam kamar mandi meninggalkan Viana yang masih berdiri di tempatnya.


.


.


.


Diteras depan, Andra duduk sendiri memainkan ponselnya usai makan malam sambil bertukar pesan dengan beberapa teman, entah itu teman satu kelas, sekolah maupun satu tongkrongan. Andra sama seperti pemuda biasa seusianya, masih senang main, bercanda dan juga aktivitas lainnya seperti Futsal, berenang dan Basket. Hanya saja ia tak pernah punya sahabat dekat jadi untuk masalah pribadinya ini memang tak ada yang tahu satupun dari pihak teman temannya. Yang mereka tahu kini hanya Andra tak lagi bersama dengan Haura dan untuk alasan semuanya sudah sangat paham betul jika berbeda keyakinan memang benteng paling sulit untuk di runtuhkan setelah restu orang-tua.


"Andra, udah malem," ucap Viana yang berdiri di samping suaminya tersebut.


"Hem, iya. Mau beli cemilan untuk nanti malem gak?" tawar Andra yang langsung di jawab dengan gelengan kepala oleh Viana yang sudah merasa kenyang meski entah saat tengah malam nanti.


"Aku punya puding sama buah potong, aman lah," kekeh Viana yang kini terlihat jauh lebih santai tak seperti saat di kamar mandi tadi.


Andra pun bangun lalu mengulurkan tangan, keduanya pun masuk kedalam rumah dan langsung bergegas kearah tangga untuk menunju kamar Viana.


Didalam sana, pasangan suami istri yang belum sah dimata hukum negara sudah berbaring bersama di atas ranjang untuk menonton Film, kegiatan malam yang hampir rutin mereka lakukan sebelum tidur.


"Andra, apa masalah sabun tadi ada kaitannya dengan hakmu sebagai suami?" tanya Viana dengan mendongakkan wajahnya sebab kepalanya ia letakkan di dada Andra.


"Tau dari mana?"


"Ada yang bisikin tadi pas aku mandi, bener gak ih?" tanyanya lagi memastikan.


Viana yang penasaran sampai bertanya kepada Lala yang sudah sangat berpengalaman dalam urusan laki-laki karna entah sudah berapa mantan pacar gadis itu selama ini. Ia yang sebenarnya sangat malu malah di tertawakan oleh Sahabatnya itu yang tak percaya dengan pertanyaan yang di layangkan Viana kali ini. Tapi, Lala yang memang tahu hubungan Viana dan Andra itu sah tentu hanya sesekali meledek dan malah justru membantu Viana mencari jawaban meski Lala pun baru tahu dari 'katanya' saja.


"Iya, mau liat?" goda Andra sambil tertawa, ia akan pusing lagi jika sampai kembali terpancing.


Viana sungguh kejam bagi Andra akhir akhir ini yang membuatnya hanya bisa berkhayal demi tuntasnya hasrat yang menggebu.


"Enggak, aku gak siap liat bentuknya secara langsung," tolak Viana yang bergidik geli, ia hanya tahu punya bayi yang masih imut dan kata Lala juga jika milik pria dewasa tentu lain lagi bentuk dan ukurannya.


Memang, ia tak sempat melihat jelas apa yang sudah menerobos masuk kedalam rawa basahnya saat itu, seingat Viana itu bagai benda tumpul yang besar hingga rasanya sesak dan penuh, apalagi saat Andra sudah bermain dengan cepat seolah menusuk hingga rasanya jauh lebih sakit. Ia yang tak ikhlas dan terus menolak memang sama sekali tak terangsang, begitu pun dengan Andra yang hanya punya satu tujuan yaitu PELEPASAN.


"Lucu, Vi. Kaya--"


"Stop! aku gak mau bayangin," potong Viana cepat karna otaknya sedang tak ingin menjangkau kesana saat ini.


Viana hanya ingin memastikan benar atau tidak yang di katakan Lala tentang hubungan sabun dan laki-laki karna rasanya Viana sungguh bersalah jika memang benar begitu.


Ia memang tak pernah ingin lebih dari sebuah pelukan yang selama ini cukup membuat tenang, sebab saat trimester pertama mual muntah nya akan sembuh jika Andra yang menyuapi atau menemani dan di trimester kedua ini bayi mereka akan berhenti akrobat jika orang tuanya berpelukan, kadang Viana bingung kenapa masih di dalam perut saja Si bayi sudah begitu banyak gaya dan maunya. Sekesal apapun ia jadi harus menekan egonya agar bisa makan dan tidur dengan nyenyak karna jika tetap bermusuhan dengan sang suami jangan harap ia bisa bernapas dengan lancar sebelum berbaikan.


"Sudahlah, jangan telalu di pikirkan ya, kamu tidur saja," titah Andra yang mengeratkan pelukan dari samping.


Viana yang sebenarnya masih penasaran akhirnya menurut, ia memposisikan dirinya senyaman mungkin agar cepat terbuai ke alam mimpi. Masih saja ada rasa tak tega dari dalam diri Andra tapi kini ia malah semakin bergaiRaH saat Viana tumben sekali tak mau diam.


"Vi, kamu kenapa?" tanya Andra takut istrinya itu tak nyaman.


"Aku kipasin ya, gak baik kalau suhunya di tambah," tawar Andra.


Viana hanya mengangguk pasrah dan diam saja saat Andra mencari sesuatu yang bisa di pakainya untuk mengipasi Si Bumil yang mulai marah-marah karna gerah itu.


"Ish, aku kaya sate jadinya," kekeh Viana saat ia di kapasi oleh Andra.


"Kan kesukaannya kamu ini, Vi."


"Iya, enak kali ya makan sate ayam," sahut Viana dan ia langsung Menggelengkan kepalanya saat Andra menawarinya makanan tersebut.


"Masih gerah ih, aku mau mandi aja," ujarnya yang masih kegeragan, Viana yang mau bangun langsung di cegah oleh Suaminya.


"Jangan, udah malem."


"Tapi gerah banget, kamu gak liat keringat aku?"


Andra yang sebenarnya aneh hanya mengangguk, udara yang ia rasakan sebenarnya biasa saja meski memang gerah tapi tak sampai seperti Viana yang banjir padahal sudah di kipasi dan rambutnya pun sudah di ikat tinggi-tinggi.


"Buka aja bajunya," titah Andra.


Pasangan suami istripun saling menatap dalam diam tanpa kata terutama Viana yang belum menberikan jawaban apapun pada Andra tentang tawaran yang di layangkan pria tersebut barusan.


"Buka baju?"


"Iya, dari pada mandi, nanti kamu masuk angin," jawab Andra dengan perasaan berdebar karna takut di iyakan oleh Viana.


"Sama ajalah."


"Beda dong, sini aku bukain," tawarnya lagi yang kali ini tak menunggu persetujuan tapi tangannya sudah membuka satu persatu kancing piyama dress yang di kenakan Viana.


Andra yang pernah melakukannya memang tak secanggung saat pertama kali, tapi untuk malam ini rasanya jauh berbeda, sebab hubungannya dan Viana sudah lebih baik dari sebelumnya. Jadi tak salah jika Andra sedikit berharap lebih untuk malam ini.


Kini, tinggal brA dan kain tipis saja yang menutupi tubuh berisi Viana karna piyama berwarna merah maroonnya sudah di lepaskan oleh Andra dan entah di singkirkan kemana.


Kedua jantung pasang halal itu berdebar hebat dan rasanya ingin loncat dari dalam tubuh mereka, hawa panas yang dirasakan pun berganti menjadi hawa napsU yang membuat gairAh muda mereka sedikit membara khususnya Andra sebagai pria normal yang paham betul harus apa saat terangSAnG.


"Aku boleh cium bibirmu?" izin Andra, ia tak ingin lagi sekedar main main melainkan benar-benar memberi nafkah bathin untuk istrinya.


Viana tak menjawab, ia hanya memejamkan kedua matanya seolah siap menerima apapun yang akan Andra lakukan padanya.


Bibir keduannya pun bertemu, meski hanya menempel lalu melum AT biasa tanpa pertukaran saliva apalagi saling membelit lidah.


"Tebel ya rasanya," ucap Viana pelan malu malu.


"Manis, Vi. Lagi ya," pinta Andra yang di jawab hanya dengan anggukan kepala tanda setuju.


Keduanya mengulang hal yang sama, kali ini Andra meminta Viana berbaring dengan posisi menyamping agar perut besar istri tetap merasa nyaman.


Tak hanya bibir, karna Andra beraksi lebih dari itu, kini penjelajahannya sudah turun ke leher, tak perduli banjir keringat karna nyatanya memberi sensasi lain bagi Andra.


Des Ahan pun akhirnya lolos juga dari bibir Viana yang mencengkram baju bagian punggung suaminya. Biasanya Viana tak pernah sampai sebegininya karna kemarin-kemarin Andra juga sering menenggelamkan kepala di ceruk lehernya untuk sekedar bermanja atau juga melepas lelah.


Rasa yang dirasakan Viana berbeda, seperti ada sesuatu di bagian inti tubuhnya yang basah tapi ia tak ingin buang air kecil tapi begitu basah dan..


"Andra, kok gatel ya?" tanya Viana dengan polosnya padahal pria yang masih memeluknya itu sama tak ber pengalamannya.


.


.


.


Udah buru buru pengen main petak umpet, Vi...


\*\*\*\*\*\*\*\*


[ Dari siang gak lolos sampe 4 bab ini, jadi yang baca sekaligus tolong di like sama komen tiap bab ya, lagian ini babnya kan panjang2, cig karunya atuh ka teteh nyah 😔😔 ]