
🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Lain di ibu kota, tentu lain dengan yang berada di luar kota. Pasangan suami istri yang sedang menjalani indahnya bahtera rumah tangga seumur jagung itu tentu sedang manis manisnya seakan dunia ada dalam genggaman mereka. Ponsel yang di Silent, Villa yang tanpa orang lain di tambah hawa dingin yang semakin membuat mereka ingin terus mengulang dan mengulang terus apa yang sudah di lakukan. Seperti tak ada bosannya Si pria terus saja menarik tubuh wanita halalnya untuk di nikmati setiap inci tanpa ada yang terlewati.
Lengu haN serta Des Ahhannya terus saling bersahutan yang kini bukan lagi berada diatas ranjang kamar, tapi merambah kemanapun Andra mau, contohnya saat ini.
Pasangan yang sedang di kuasai biRahii tak kenal kata lelah untuk melakukan hal yang menyenangkan. Mulai dari ruang tamu hingga kini pindah ke area dekat teras samping Villa.
Semakin liar perlakuan Andra, semakin terasa juga sensasi lain saat kembali berciNTAa.
"Tunggu, Sayang, ku mohon," bisik pria yang bersiap kembali memuntahkan lahar cinta di puncak pelepasan.
Viana yang sudah lemas karna pertempuran luar biasa mereka hanya mengangguk pelan tanpa membuka mata, tangannya meremat punggung Sang suami yang polos namun banjir keringat diatasnya.
.
.
.
Bukan di kamar, tapi mereka terbangun di pagi menjelang siang hari di ruang tengah tepatnya diatas sofa bed depan TV besar yang menyala.
Dalam keadaan tak menggunakan apapun selain selimut tebal, Andra menggeliat dengan posisi masih memeluk istrinya.
Viana yang nampak sangat lelah begitu sulit untuk membuka matanya yang berat sampai Andra tertawa melihat ekspresi Sang istri.
"Gak usah bangun kalau masih ngantuk, gak apa-apa kok," bisiknya yang malah mengeratkan pelukan.
Suami mana yang tak suka dan senang saling menempel langsung kulit dengan kulit, jarang sekali mereka seperti ini karna biasanya ia dan Viana akan langsung bersih-bersih mengingat akan berkali-kali bangun setelahnya untuk membuat susu.
"Kita pulang sore nanti ya?" gumam Viana masih dengan mata terpejam.
"Besok!"
Jawaban yang di luar dugaan itu langsung membuat wanita cantik berpipi chuby itu terbuka lebar kalah dengan kantuknya.
"Kenapa, kan janjinya satu malam dua hari?" tanyanya lagi bingung karna ia ingat betul waktu untuk mereka pergi.
"Ya gak jadi, aku maunya dua hari dua malam," sahut Andra tanpa merasa berdosa.
"Kok gitu? tapi --, "
Andra yang tak mau paginya di awali dengan ocehan Sang istri, langsung membungkam bibir manis wanitanya. Ciuman sengaja di pedalaman agar Viana diam menikmati. Yang harusnya terjadi pun kembali terulang tanpa paksaan apalagi pemberontakan sebab keduanya sudah sama-sama terlena dan teraNGsAan9.
Dan benar saja, Andra tak pulang sesuai yang di rencakan karna niatnya hari ini justru mereka akan menghabiskan waktu di luar untuk pacaran halal.
"Aku gak ada baju loh," sindir Viana yang kemarin bajunya di keluarkan lagi sebab pria itu hanya mau wanitanya memakai Lingerie atau telanAjanG. Sensasi baru yang sulit untuk terulang dan bagusnya mereka sudah HALAL.
"Pake buat besok pulang, nanti kita beli," jawab Andra sambil memakai jaketnya sedang Viana masih berkacak pinggang menahan kesal.
"Ayolah, Mom. Apa lagi?"
"Emang di aer terjun ada yang jual baju?" tanya Viana.
Bukan cepat merapihkan diri seperti yang di perintah suaminya, Viana yang kesal langsung mengajak perang dengan cara mengejar ayah satu anak itu. Beruntungnya, hanya mereka berdua saja yang ada di dalam sana dan memang itulah tujuan Andra meminta penjaga dan pengurus Villa untuk libur. Mereka akan bebas melakukan apapun, bebas berekspresi dan pastinya bebas juga BerciNtAa dengan segala macam gaya dan tempat sesuka hati tanpa ada perasaan risih takut terdengar apalagi terlihat orang lain.
Teriakan Viana dan gelak tawa seolah saling bersahutan hingga keluar kamar, jangan tanya bentuk ruang tengah sekarang seperti apa karna bantal sofa sudah berserak di lantai.
.
.
.
Dengan memakai pakaian yang di pakai untuk pulang, Viana dan Andra pergi jalan-jalan hari ini, akan ada beberapa tempat yang akan mereka singgahi termasuk taman jajan dan pusat kuliner.
Setelah dua hari menguras energi dengan menggali kenikmatan di surga dunia, kini saatnya mereka memanjakan mata, perut dan lidah dengan segala keindahan dan keseruan di kota yang sedang mereka singgahi. Meski bohong rasanya jika sebahagia apapun saat ini tetap ada yang kurang sebab tak ada Pangeran.
Tapi benar yang di katakan Andra, jika kepergian mereka sekarang tak' kan membuat keduanya di cap menjadi orang tua jahat, sebab untuk yang paham posisi Andra dan Viana sekarang mereka justru sangat mendukung hal ini.
Tak mudah menjadi orang tua muda karna pernikahan dini, ego yang masih berkuasa dan ambisi yang terus menggebu tak jarang jadi alasan terpancingnya emosi hingga berujung salah paham, rajukan dan yang terparah adalah pertengkaran.
Kali ini, Andra hanya ingin mengajak Viana melepas lelah dan penat dari semua tugas kuliah dan seluruh peralatan Pangeran berserta deretan botol susunya. Bertahan agar tetap waras dengan menyandang status mahasiswa dan orang tua sebenarnya cukup berat mereka jalankan, tapi jika ingat tujuan mereka berumah tangga adalah sekali seumur hidup dan bahagia setiap detik semua serasa terlewati begitu saja.
"Mau mampir beli cemilan gak, Mom?" tawar Andra saat mobil mewahnya berhenti di lampu merah.
"Hem, enggak. Tapi aku mau beli minuman," jawab Viana yang mendadak tenggorokannya kering butuh sesuatu yang menyegarkan.
"Nanti ke minimarket ya."
"Enggak, aku mau jus buah, mangga atau alpukat, Dadd."
"Siap Nona Bramasta," jawab Andra yang langsung membuat Viana tersipu malu.
Saat ia di panggil seperti itu, seolah Viana sedang di sadarkan dengan kenyataan jika ia kini adalah menantu keluarga kaya raya yang cukup berpengaruh di negeri ini. Meski bukan golongan konglomerat tapi setidaknya Bramasta cukup di kenal dan di hormati.
Mobil yang melaju dengan kecepatan sedang itu pun akhirnya berhenti di salah satu kedai jus dan es buah pinggir jalan biasa. Sekaya apapun mereka tetap selalu ingin berbagi dengan para pedagang kecil
Dan seperti biasa, hanya Andra yang akan turun dan membeli apa yang di inginkan istrinya. Ia selalu memanjakan Viana selagi mampu hingga batas maksimal yang ia sanggupi, sebab bayangan saat wanita itu melahirkan anaknya hingga bertaruh nyawa tak akan bisa sebanding dengan semua yang ia lakukan, terbukti dengan rasa sakitnya tak bisa di bagi dan di nikmati bersama.
"Bang, jus alpukat nya satu ya," pesan Andra pada seorang pria dewasa yang sedang membuka buah.
"Iya, Mas. Alpukat aja?"
"Hem, sama jus mangganya juga deh satu, tapi---,"
.
.
.
Tapi es batunya sedikit aja tanpa gula dan susu ya...