Let's, Divorce

Let's, Divorce
Part 146



🍂🍂🍂🍂🍂🍂


"Jangan gangguin ade gue mulu, nanti dirumah gue yang kena omel," ucap seseorang yang baru saja duduk di dekat Pangeran, ia tak lain adalah kakak kembar gadis incarannya yaitu, Awan.


"Derita lo itu sih," jawab Pangeran sambil tertawa.


Bagaimana Senja tak kesal, ia yang mati matian menolak Pangeran nyatanya Sang kakak malah berteman baik dengan pria itu. Jadilah Awan yang selalu medapat ocehan dari gadis kesayangan Biantara tersebut.


"Huft, pengen gue masuki ke kandang Phyton rasanya kalo udah dengerin dia marah-marah," keluh Awan.


"Kasih gue aja, gue mau nampung kok," sahut Pangeran dengan menaik turunkan alisnya.


"Gaya lo! kaya kuat aja dengerin ocehannya," balas Awan sambil mencebik.


Obrolan keduanya terus berlanjut bersama dengan Rival juga, banyak yang mereka bicarakan termasuk tentang Senja.


"Rasanya itu lain, semakin di tolak gue malah justru semakin cinta," jelasnya pada Awan yang ia harap akan jadi kakak iparnya kelak.


"Tapi Senja gak mau, Ran."


"Bantu gue biar mau dong," mohon Pangeran lagi dengan memasang wajah penuh iba berharap di kasihani.


"Dari dulu juga gue bantuin tapi dasarnya dia gak suka sama lo," ledek Awan.


Pewaris kerajaan bisnis Biantara itu tentu tak bisa memaksa adiknya untuk membalas perasaan Pangeran. Ia pun tak pernah tahu apa alasannya padahal Pangeran adalah salah satu saingannya dalam hal ketampanan dan kepintaran.


.


.


.


Pangeran yang baru pulang hanya mengganti baju seragamnya saja, tanpa makan siang ia justru kembali pergi hingga membuat Mommynya marah marah.


"Gini nih kalau bikin anak kelewat sering, jadi gak jadi jadi kan!" omel Nyonya Bramasta di depan pintu utama sambil berkacak pinggang.


Niat hati ingin menjaga jarak kehamilan hanya 5-6 tahun nyatanya wanita itu tak kunjung di beri kepercayaan lagi untuk memberi adik pada Pangeran. Padahal, semua cara sudah di lakukan Viana dan Andra termasuk langsung melakukan Program hamil lagi setelah lulus kuliah sebagaimana kesepakatan mereka di awal yang hanya menunda selama sibuk kuliah.


"Shopping terus juga bosen!" rutuknya kesal sendiri sambil masuk kedalan rumah.


Jika ada Bunda mungkin ceritanya akan lain. Tapi sayangnya Sang ibu kandung enggan ikut dengannya lagi sebab tak kuat jika mengingat semua tentang Ayah. Viana pun paham, jangan kan Bunda, ia pun merasakan hal yang sama. Sakit rasanya ditinggal Ayah secara mendadak seperti ini dan itu sungguh sangat luar biasa bahkan ia sering masih tak percaya jika sosok kuat itu telah tiada jika sedang tak merasa sendiri seperti ini.


.


.


.


Berbeda dengan Mommy nya yang kesal, Pangeran justru tengah melajukan motornya dengan kecepatan sedang menuju sebuah rumah mewah mantan Mafia soleh.


Ia yang sudah beberapa kali datang tentu langsung di persilahkan masuk oleh penjaga gerbang.


Pangeran memarkirkan motornya di sebelah mobil mewah Awan, ia senang karna temannya itu mungkin ada di rumah meski bisa saja Awan pergi dengan kendaraan yang lain.


Langkahnya yang baru saja sampai di depan pintu nyatanya harus sudah di sapa oleh Nyonya besar Biantara.


"Eh, ada Pangeran," sapa Cahaya, wanita yang sudah kaya raya jauh sebelum menjadi kecebong hasil semburan belalai gajah di hutan belantara.


"Siang CaMiMer," jawab Si pemuda tampan seperti biasa.


"Apa CaMiMer?" tanya Cahaya bingung dengan kelakuan teman anak kembarnya.


.


.


.


Calon Mimih Mertua.