
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Tak ada yang berubah, semua justru semakin kacau bagi 3 hati yang sedang saling menahan segala rasa yang bercampur jadi satu. Kesal, kecewa, rindu dan marah pada takdir kini sedang bertahta dan jadi penguasa.
Empat hari tanpa mengantar jemput Haura seolah ada yang lain bagi Andra, tak adanya kabar juga dari Viana membuat ia tak tahu kabar jelas istri sirihnya tersebut karna semua masih di tanyakan pada Bunda, sikap wanita itu yang tak berubah itu seakan membuat Andra yakin jika Viana tak menceritakan apapun pada Bunda, atau mungkin ibu mertuanya itu memaklumi karna memang mereka adalah sepasang suami istri yang sah yang tak masalah jika ia meminta haknya dan Viana memberikan kewajibannya.
Seperti hari ini, Haura yang masuk dan keluar kelas duluan membuat semua siswa menatap aneh pada Andra, mereka yakin jika ada yang tak beres pada hubungan keduanya yang bukan lagi merenggang tapi benar-benar tak terlihat bersama.
Dan hal itu tentu terdengar lagi sampai ke telinga Viana yang masih ada didalam kelas.
"Mungkin mereka putus," ujur salah satu teman Viana yang tepat duduk di belakangnya.
"Hem, sayang ya. Padahal udah Best Couple banget," timpal yang lain.
Viana yang sebenarnya sudah merapihkan barangnya tinggal keluar dari kelas tapi ia masih penasaran dengan apa yang sedang di obrolan kedua temannya di belakang sana, selama ini ia tak pernah tahu dan tak mau tahu tentang pasangan itu yang ternyata kini malah jadi suami dan perenggut mahkota kesuciannya.
"Best Couple menurut lo, tapi gak menurut Tuhan."
Deg..
Jantung Viana seperti mendadak berhenti beberapa detik, ternyata yang di ceritakan oleh Daffa benar jika pasangan itu berbeda keyakinan, dan mungkin di dunia ini hanya Viana yang tak tahu hal tersebut.
Kenapa?
Kenapa mereka terus bertahan selama dua tahun jika akhirnya pasti berpisah, atau...
Tidak, Haura tak mungkin ikut dengan Andra. bathin Viana yang meragukan hal tersebut, begitu pun sebaliknya.
"Yang jelas sayang banget, gue jadi penasaran sama yang jadi pacar Andra, pasti cuma pelampiasan karna gak mungkin segampang itu buat lupain seseorang," sambung yang lain dan entah kenapa itu semua membuat kepala Viana jadi sakit dan ingin marah.
Viana hanya bisa menarik napas lalu di buangnya perlahan, benar kah kata teman-temannya barusan yang bilang jika sekalipun Andra memilih dengannya itu hanya sebuah pelampiasan?
"Vi, kok belum pulang?"
Viana yang meletakkan wajahnya di atas meja dengan bertumpu tangan pun langsung bangun, ia hapal pemilik suara itu.
"Mau apa kamu?" tanya Viana yang takut jika kini bertenu dengan Andra.
"Kenapa belum pulang? yuk pulang," ajak Andra yang sepertinya tak di dengar oleh Viana karna istrinya justru sibuk mengedarkan pandangan.
Rumor berpisahnya Andra masih santer terdengar, Viana hanya tak mau namanya ikut terseret dan disangka menjadi pihak ketiga, meski sebagian tahu alasan kuat dibalik berakhirnya kisah mereka.
"Vi--"
"Aku bisa pulang sendiri," tolak Viana yang langsung bagun dari duduk kemudian berdiri sambil memakai tasnya.
Andra yang melakukan hal yang sama bukannya memberi jalan pada Viana, ia malah menarik pinggang wanita halalnya untuk di peluk.
Viana jelas meronta, ia tak mau dan sudi masuk kembali ke dalam dekapan Andra yang jika Viana ingat bagaimana pria itu mendeSAh hingga akhirnya MenGeRAng sungguh ia ingin mencabik cabik Andra dengan piSAu Daging.
"Diem, Vi. Aku cuma kangen kamu, gak apa apa ya?"
Entah, rindu yang seperti apa yang dirasakan Andra tapi ia memang merasakan itu pada Viana dengan sadar. Satu minggu di awal pernikahan mereka memberikan kesan manis yang terpatri kuat dalam ingatan Andra. Makan siang bersama, cari jajanan saat malam hingga mengerjakan tugas di dalam kamar yang secara tak sadar justru di limpahkan semua padanya karena Viana akan tidur lebih dulu di ranjangnya atau mungkin menonton serial drama kesukaannya. Jika tak sesegukan menangis Viana akan cekikikan bahkan beteriak histeris.
"Aku kangen semua yang pernah kita lewati meski hanya satu minggu, Vi," bisik Andra lagi, ia mau Viana percaya jika wanita itu punya tempatnya sendiri meski jauh di atas nama Haura yang tentunya masih bertahta di sana.
"Aku gak perduli, LEPAS!" sentak Viana yang semakin kesal.
Andra menggelengkan kepalanya di ceruk leher Viana, ia melakukan itu dengan sadar dan memang inginnya. Rasa sesal dalam hati Andra karna sudah memaksa Viana melayaninya membuat ia merasa menjadi pria paling jahat dan bukan suami yang justru bisa melindungi pasangannya.
"Jangan ganggu aku lagi, aku capek begini terus." ucap lirih Viana.
Ya, ia memang lelah dan merasa tertekan, menjadi yang sah namun seolah penengah diantara sebuah hubungan yang kini banyak di sayangkan oleh orang orang sekitarnya.
"Mana mungkin aku menganggumu karna kita harus bersama, Vi."
"Aku nggak mau, kita harus pisah. Aku gak tahan jadi pelampiasan kamu," jawab Viana yang terus meronta bahkan ia terus memukuli punggung Andra.
Andra tetap pada posisinya tak perduli sakit yang di berikan istrinya itu, yang ia tahu Andra ingin bersama dengan Viana lagi.
.
.
.
Cukup, Vi.. aku cuma mau pulang ke kamu...