
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Kata cerai seolah begitu gampang di ucapkan oleh Viana meski nyatanya tak berpengaruh bagi pernikahannya dengan Andra, karna bagaimana pun hanya pria itu yang berhak memutuskan akhir dari rumah tangga mereka.
Andra tak pernah menganggap apa yang di terlontar dari bibir mungil istrinya, ia tahu jika sekali saja ia mengiyakan sama seperti sebuah perpisahan apalagi pernikahan mereka masih di bawah tangan.
Tak pernah terbersit dalam hati Andra sebuah perceraian, ia memang sejak awal sudah menerima perjodohannya dengan Viana meski sama sekali tak mengenal sosok gadis itu.
Ia yang berusaha mencoba menjadi suami yang baik tanpa ada satu pun yang tahu jika ia pun sedang mati-matian memasukkan nama Viana dalam hatinya.
Lalu bagaimana dengan Haura?
Bukankah ia tetap Sang pemilik hati?
Ya, itu memang benar karena Haura adalah pusat pikiran Andra selama ini tapi bukan berarti ia buta dan tuli. Andra butuh waktu kapan ia bisa siap melepas gadis yang begitu teramat di cintainya tersebut.
Semua orang tahu, memutuskan sebuah hubungan yang bukan lagi hitungan hari tak segampang membalikkan telapak tangan, akan ada rapuh dan sisa sesal selanjutnya.
Dan Andra tak ingin merasakan itu, setidaknya ia tak akan lagi menoleh ke belakang saat sudah benar-benar merasa siap kehilangan. Karna pasti hanya sosoknya yang pergi tapi tidak dengan kenangannya.
Selagi ia berusaha ikhlas, di waktu yang bersamaan pula ia akan sedikit demi sedikit memusatkan Perhatiannya pada Sang istri. Semua tak bisa instan dan pastinya butuh proses yang panjang termasuk melepas kan Haura.
Pergi dengan senyuman dan pamit dengan sebuah alasan adalah jalan yang sedang di rencana kan. Andra tak mau tiba-tiba hilang karna bagaimana pun mereka punya banyak kenangan yang tak terlupakan dalam waktu semalam.
Dan setelah kejadian malam itu, hubungan mereka justru tak semakin baik. Vians tetap di rumah orangtuanya dan begitu pun dengan Andra. Viana baru masuk sekolah setelah dua hari izin sakit akibat perbuatan kasar suaminya.
.
.
"Aku atau kamu?" tanya Haura saat ia dan Andra sudah duduk saling berhadapan di halaman samping sekolah ketika jam istirahat.
"Kamu, Ra. Aku gak sanggup," jawab Andra.
"Tak ada yang salah, kita yang egois terus ingin bertahan," ucap Andra. Ingin rasanya ia memaki hatinya sendiri yang kenapa begitu tulus mencintai Haura.
"Kamu, karna aku sempat berkali-kali mundur, Ndra," protes Haura.
"Maaf."
Haura tersenyum, ia tahu dan sudah siap jika hari ini akan tiba. Bukan sesuatu yang sulit baginya karna Haura sudah berkali-kali menyerah. Ia bagai barang yang sedang di perebutkan oleh Andra dan Orang-tua nya yang sangat mengekang. Tapi Haura selalu memberikan penjelasan jika ada saatnya mereka pasti berpisah.
"Selesai, terima kasih untuk semuanya. Terima kasih sudah terlibat dalam proses pendewasaan ku. Meski kamu bukan takdirku, tapi kamu tetap peran utama dalam hidupku, Andra. Selamat ber bahagia dengan gadis yang satu Aamiin dan Iman denganmu. Cinta tak pernah salah, ia hadir karna sebuah rasa nyaman. Dan, Tuhan tetap satu hanya saja cara kita meminta restunya yang berbeda."
Andra menggelengkan kepalanya, ia menangis karna tak kuat mendengar kalimat perpisahan dari Haura. Kali ini ia tentu tak bisa memohon agar gadis itu tak pergi, tak seperti kemarin-kemarin Andra akan meminta Haura menarik lagi semua ucapan yang terasa menyakitkan tersebut.
"Tak apa tak lagi menyapa, aku tak marah," lanjut Haura.
Inilah yang di takutkan oleh Andra, mereka berpisah di kala hati belum siap kehilangan.
"Aku--, aku mencintaimu," ucap Andra lirih.
"Aku tak akan memintamu untuk mematikan rasa itu, jika aku di posisi mu tentu akupun tak bisa, berikan rasa cintamu untuk Viana, ia yang lebih berhak di cintai olehmu."
"Akan ku coba, Ra. Tapi jangan membenciku," mohon Andra lagi.
.
.
.
"Aku tak punya alasan untuk itu, biarkan aku melepasmu seluas rasa ikhlasku mencintaimu"