Let's, Divorce

Let's, Divorce
Part 68



🍂🍂🍂🍂


Lebih dari tiga puluh menit Andra memeluk Viana, ia tak bertanya apapun tentang semua yang terjadi pada wanita itu, ia biarkan sang istri menangis sambil berbicara sendiri yang kadang tak dipahami oleh Andra, karna yang ia tahu Viana hanya cukup ingin di dengar dan di peluk. Masalah solusi dan jalan tengahnya biarlah nanti mereka pikirkan lagi saat Viana sudah benar-benar tenang.


"Mau makan? biar ku suapi ya," tawar Andra karna seingatnya terakhir Viana makan bersamanya.


"Aku takut, tanganku sakit, banyak gunting dan--,"


"Sssstt, disini cuma ada aku sama kamu ya, gak ada apapun lagi. Ada air putih, kamu mau minum?" Andra langsung memotong ucapan Viana yang masih saja ingat kejadian yang menimpanya sore tadi.


Semua masih begitu melekat dalam otak Viana, satu persatu benda menyeramkan dalam ruangan itu masih jelas seolah terus berputar di pelupuk matanya yang ia bayangkan semua itu akan masuk kedalam perutnya.


"Takut!"


Viana mencengkram baju belakang Andra sambil memaksakan wajahnya tenggelam dalam ceruk leher suaminya itu. Belum lagi rasa sakit luar biasa yang tak pernah ia rasakan sebelumnya seolah jadi kode pemberontakan dari anaknya sendiri, harusnya ia sadar akan hal itu, tapi Viana justru dengan bodohnya malah terus melanjutkan langkah.


Andra memberikan air putih pada Viana untuk di minum sedikit demi sedikit, lalu setelah di baringkan lagi karna jam sudah menunjukkan waktu di sepertiga malamnya.


"Tidur lagi ya, besok kita ngobrol," kata Andra saat tangan Viana tak juga melepas cengkraman tangannya dari baju.


"Jangan pergi, aku takut," jawab Viana seraya memohon lewat sorot matanya.


"Aku tak akan meninggalkanmu, percayalah."


Tak ada jawaban dari Viana entah itu anggukan atau gelengan kepala, tapi sorot matanya memang lain dari biasa, ia benar-benar ketakutan hingga hawan cemas dan khawatir begitu terasa dirasakan oleh Andra.


.


.


.


Esoknya, mereka yang masih berdua di ruang rawat inap memang sengaja tak ingin ada yang datang dulu sesuai permintaan Andra, ia ingin bicara berdua dan membuat Viana nyaman bersamanya.


"Ayah--," ucap lirih Viana yang langsung menunduk.


"Ayah menunggumu, Si putri cantiknya dan calon cucunya yang kuat," timpal Andra sambil menaikan dagu Viana agar mereka bisa saling menatap satu sama lain.


"Semua orang pasti membenciku, orang yang ada di depanmu ini jahat, Ndra. Aku calon pembunuh cucu mereka, aku tak berhak di beri maaf," ucap lirih Viana yang mulai menangis lagi, sesalnya seolah tak berarti karna ia tahu jika kesalahannya begitu fatal kemarin.


"Tak ada yang berhak menghakimu, Vi. Sekali pun ada, mereka hanya menasehatimu bukan memarahimu. Semua punya alasan saat melakukan sesuatu, begitupun denganmu. Dan, bolehkah aku tahu apa yang membuatmu nekat datang kesana?" pancing Andra, ia harap Viana mau sedikit terbuka padanya.


Saat ini yang mereka butuhkan adalah saling memahami karna rasa nyaman bukan hanya sekedar cukup di dengarkan yang kadang justru malah menjadi angin lalu, masuk kuping kanan keluar kuping kiri. Nyaman yang sesungguhnya adalah saat apa yang kita utarakan di mengerti dan di pahami lalu di beri solusi.


"Alasan?" tanya Viana yang sebenarnya untuk dirinya sendiri.


Andra mengangguk, ia raih kedua tangan Viana untuk ia genggam selembut mungkin dengan sentuhannya.


"Aku hanya takut, takut dengan diriku sendiri dan juga orang disekelilingku," jawab Viana.


"Aku tak pernah baik-baik saja, Andra. Aku lelah, aku ingin menepi dari dunia baru ini," sambung Viana yang kini kedua matanya mulai berkaca-kaca.


"Dunia? dunia baru apa maksudmu?" tanya Andra yang tak paham dengan yang di ucapkan istrinya itu barusan.


"Kamu datang tanpa permisi padaku, menjadikan aku istri di saat aku belum puas menjadi anak dan tanpa persetujuanku kamu juga memaksaku menjadi seorang ibu padahal aku saja belum paham dengan peran ku yang sebelumnya."


Andra menarik napas, ia bahkan menjadi begitu sulit untuk menghembuskannya saat mendengar semua keluhan Viana tentang statusnya selama ini.


.


.


.


Dari banyaknya wanita, kenapa harus aku yang kamu hancurkan? kenapa harus aku juga yang di jadikan sasaran hanya demi sebuah hubungan yang tak kunjung menemukan penyelesaian?