Let's, Divorce

Let's, Divorce
Part 65



🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


"Puas kalian sudah membunuh anak saya!"


Viana yang mendengar itupun langsung terlonjak kaget begitu pun dengan yang lain, apalagi saat wanita itu terus meraung sambil memukul dadanya sendiri, Viana yang nampak kebingungan langsung ditarik tangannya dan masuk kedalam sebuah kamar.


"Kamu Viana?" tanya seorang wanita dengan baju dan jas kedokteran.


"Iya, saya Viana."


"Ikut dengannya untuk ganti baju," titahnya lagi sambil memakai sarung tangan karet lalu keluar entah kemana.


Viana menoleh kearah orang yang ditunjuk oleh Si dokter yang tak lain adalah yang menariknya barusan, lalu setelahnya ia juga mengedarkan pandangan ke seisi ruangan tersebut yang dimana semua nampak menyeramkan baginya yang tak pernah melihat secara langsung melainkan cukup di TV atau drama drama yang ia tonton itupun hanya sekilas.


"Ayo, cepat," kata orang itu lagi dengan sorot mata tajam kearah Viana.


"I--iya"


Viana mengambil apa yang di sodorkan padanya, baru juga ia berjalan beberapa langkah, perutnya terasa sakit dan lebih dari di aduk aduk dari biasanya, ini bukan lagi mual dan ingin muntah tapi juga terasa di cabik cabik hingga keringat yang keluar pun mirip seperti orang yang baru selesai mandi.


"Kamu kenapa?"


"Air, saya mau minum," pinta Viana yang sedikit membungkuk sambil memegangi perutnya yang semakin sakit.


"Tunggu, duduk saja dulu," jawabnya sambil menunjuk kearah ranjang yang masih sangat rapih.


Viana hanya mengangguk dan bergidik ngeri saat ia memperhatikan alat alat diatas nakas besi.


"Ya ampun, apa rasanya nanti?" gumam Viana semakin takut.


Ia yang tiba-tiba mengingat senyum Andra sebelum pergi tak sadar malah meneteskan air mata, belum lagi seperti ada yang menariknya untuk keluar dari ruangan tersebut.


Viana menutup mulutnya saat keluar dan masih berdiri di depan pintu, pemandangan luar biasa kini ada di depan matanya. Teriakan dan jerit penuh sesal terasa sakit di telinga Viana yang tertegun lemas, dan ia sampai tak jadi melangkah saat ada seorang pria paruh baya berlari keluar sambil menggendong anak gadis yang mungkin seumurnya. Ada beberapa orang di belakanh mereka yang histeris sambil memanggilnya sebuah nama.


Dari pertengkaran dan kegaduhan yang di dengar Viana, akhirnya ia paham jika gadis yang barusan lewat di depannya barusan adalah korban meninggal karna aborsi.


Deg..


"Bunda--," ucap Viana lirih yang akhirnya berusaha untuk menyelinap keluar.


Tapi sayang, ia di cegah oleh pria yang memakai baju keamanan. Tangan Viana di cekal dan di paksa masuk kembali. Sekuat apapun ia memberontak rasanya tak sebanding dengan tenaga orang yang kini terus mendorongnya agar cepat masuk. Tak hanya itu, ia yang berteriak meminta tolong pun seperti tak di hiraukan dan hanya di jadi bahan tontonan antara Viana dan orang-orang yang tadi masih saja berdebat meminta pertanggung jawaban.


"Saya mau pulang, Pak, saya mohon," ucap Viana dengan derai air mata, rasa takut dan sakit seolah begitu sangat menyiksanya.


"Pulang? setelah apa yang kamu lihat barusan, hah?" sentaknya yang membuat Viana menutup wajahnya sendri.


"Saya--,"


"Mau apa kamu datang kemari?" tanyanya semakin menyeramkan karna terus membentak.


"Enggak, Pak. Saya salah alamat," jawab Viana yang terpaksa berbohong.


Belum sempat Pria tadi kembali memarahinya, Viana justru semakin lemas hingga perlahan semua terasa berputar dan gelap, tapi ia masih sanggup berkata...


.


.


.


Andra... tolong aku.