
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
"Hamil?" tanya Andra tak percaya bahkan jantungnya seakan berhenti berdetak dalam waktu beberapa detik.
Andra bingung harus bagaimana, sedihkah atau senangkah ia kali ini karena bukan bayinya yang di pikirkan oleh Andra tapi Si calon ibu yang kini katanya sedang mengandung.
"Iya, Tuan. Selamat ya," ucap dokter lagi.
"Anda yakin?" tanya Andra, tentu ia berharap kali ini pendengarannya sedang bermasalah, tapi harapan itu di patahkan dengan jawaban dokter yang menggelengkan kepala.
"Ya Tuhan, Andra! kenapa lo se BeGO ini sih!"
Dokter yang tentunya mendengar apa yang di katakan pemuda itu langsung menautkan kedua alisnya, jika mereka memang belum menikah harusnya Andra tak memperlihatkan ekspresi kacau seperti ini.
"Apa ada masalah?"
"Jelas, Dok! kami masih sekolah," sentak Andra kesal yang langsung bangun dari duduk lalu keluar dari ruangan dokter.
Langkah kakinya kini bagai melayang di udara, ia tak bisa berpikir dan tak bisa bersikap layaknya calon ayah pada umumnya karna terlalu banyak yang sedang is pikirkan saat ini.
Viana, hanya dia yang kini jadi pusat semua yang di takut kan oleh Andra, jika saja mereka saling cinta dan minimal melakukannya memang suka sama suka mungkin tak akan serumit ini, tapi nyata nya jangan kan Cinta karna Andra saja justru memaksa saat merenggut kesucian gadis itu.
"Aaaaaargh." Andra mengacak rambutnya dengan Kasar sebab benar-benar frustasi.
Tapi kabar ini siap tak siap harus ia beritahu juga mengingat bayi itu tak salah sama sekali, begitu pun dengan orang tuanya yang memang sudah halal, yang di permasalahkan hanya cara pembuatannya saja yang di luar dugaan.
Cek lek...
Andra membuka pintu, tak ada senyum yang terukit di ujung bibir pemuda itu saat ia melangkah masuk lalu duduk di sebuah kursi tepat di samping ranjang pasien.
"Aku bingung mau mulai dari mana buat kasih tau kamu, yang jelas aku mau minta maaf lagi, padahal untuk kesalahan yang lalu saja aku belum di maafkan, Vi--, kali ini aja aku mohon maafin aku ya," ucap Andra lirih, ia menghapus cairan bening di ujung matanya yang siap untuk turun.
Perasaannya begitu sulit di gambarkan karna ini semua tak pernah terlintas di otaknya. Napsu sesaat yang ternyata membawa efek besar bagi Andra dan Viana, tak hanya untuk mental tapi juga masa depan yang baru saja ingin mereka rencanakan.
.
.
.
Andra yang akhirnya menghubungi keluarga dan mertuanya mau tak mau kini menghadap mereka semua sendiri di kantin rumah sakit. Andra hanya tak ingin Viana tahu dan mendengar apa yang sedang ingin ia sampaikan.
"Apa ada hal serius, Nak?" tanya Papih saat putra bungsunya tak kunjung buka suara.
"Dokter tak mendiagnosa penyakit apapun kan?" sambung Mami, sedangkan Ayah dan Bunda masih menunggu tentang keadaan putri mereka yang hanya Andra saja yang tahu.
"Viana hamil." singkat jelas dan padat tapi mampu membuat Dunia berhenti berputar bagi ke empat orang tua di di hadapan Andra kini.
Andra hanya mengangguk, ia tak bisa berkata yang lain lain lagi selain kabar kehamilan istrinya sekarang.
"Gak mungkin, Viana masih terlalu muda, gimana dengan sekolahnya nanti?" tanya Bunda panik.
Mami yang sebenarnya senang dan ingin mengucapkan selamat pada putranya pun urung di lakukan, ia tentu menghargai ke khawatiran besannya tersebut.
"Maaf, Bun. Andra benar-benar minta Maaf," ucap pemuda itu lirih penuh sesal.
Semua orang diam tak ada yang bicara lagi, pikiran mereka juga pasti berpusat pada Viana sekarang, ia yang paling di khawatirkan dalam segala hal sampai Bunda rasanya tak mampu menahan air matanya.
.
.
.
Di ruang rawat inap, Viana yang sudah bangun dari tidurnya malah merasakan pusing melebihi saat ia ada di dalam kelas, sakit di bagian bawah perut sudah tak ia rasakan lagi tapi rasa mual tetap seperti mengaduk-aduk sampai ulu ati.
"Makan ya, Nak."
"Enggak, Bun. Via mau aer anget," jawabnya pelan namun masih bisa di dengar oleh Andra yang duduk di tepi ranjang.
Pemuda berstatuskan istri tersebut langsung bangun dan mengambil apa yang di inginkan oleh Viana, meski gadis itu masih kesal dan tak suka tapi karena banyaknya orang ia pun hanya menerima saja, setidaknya Viana menghargai kedua mertuanya yang juga masih di sana.
Bunda yang tak beranjak sama sekali dari anak sambungnya sambil sesekali menghapus air mata membuat Viana bingung, ada apa dengan orang-orang yang kini sedang bersamanya itu. Ia tentu meras ada yang lain karna tatapan mereke berbeda penuh rasa khawatir.
"Bun, Via mau pulang," pintanya yang lagi lagi pada Sang Bunda.
"Kamu belum boleh pulang, Vi," sahut Andra.
"Kenapa? aku cuma capek tadi, sekarang udah enakan kok," kata Viana yang terus saja ketus.
"Tunggu kamu sampai benar-benar pulih ya, Nak. Gak apa-apa disini dulu," timpal Bunda yang di jawab gelengan kepala oleh Viana.
Dokter yang masih memantau pertumbuhan janin dalam rahim Viana tentu tak mengizinkan wanita itu pulang karna masih ada resiko keguguran yang juga mengancam kesehatannya.
"Sampai kapan, Bun?"
.
.
.
Sampai bayi kita kuat ya, Vi....