
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
"Kenapa, kenapa harus aku? apa dia akan sama sepertiku?" ucap lirih Viana.
"Maksudmu apa, Vi?" tanya Andra yang tak paham.
"Aku takut dia jadi anak brokenhome," sahutnya yang langsung membuat Andra kaget.
Di peluknya langsung Viana yang malah membuat tangis anak itu pecah seketika.
"Anak itu akan bahagia, Vi. Dia gak akan kaya kamu, percaya sama aku ya."
"Ayah saja tak kuat dan mundur, lalu bagaimana dengan aku, Ndra."
"Ssttt, jangan bicara gitu, Vi. Aku jamin semua akan baik baik saja ya," sahut Andra.
"Tapi kata Ayah, tinggal dengan seseorang yang mencintai orang lain itu rasanya sakit, ada namun tak di anggap dan baik tapi hancur di dalam, aku takut."
Viana punya traumanya sendiri, ia tahu bagaima terlukanya ayah saat tahu perselingkuhan ibu, mereka sering bertengkar dengan masing-masing meninggikan nada bicara. Karna hadirnya orang ketiga membuat perceraian menjadi jalan tengah untuk mempertahankan kewarasan tanpa mereka tahu justru anak mereka lah korban yang sesungguhnya. Dampak itu begitu nyata di rasakan Viana dan ia tak ingin mengalami hal yang sama seperti Ayah, tinggal dengan raganya tapi entah dimana hatinya.
"Justru itu, bantu aku juga untuk mencintaimu ya, mencintai kamu yang adalah kewajibanku. Jangan patahkan usahaku, Vi."
"Sesuatu yang di paksa itu tak akan baik, begitu pun dengan perasaan, aku gak mau makin capek nantinya," ucap Viana, akhir akhir ini ia memang sering menangis dan itu menang sangat lelah, lahir bathinnya benar-benar sedang di hantam habis habisan oleh takdir.
Andra paham dengan apa yang di takutkan oleh istrinya, jangankan Viana karna ia pun merasakan hal yang sama, harus menghabiskan sisa hidupnya bersama wanita yang jelas bukan pilihannya dan bukan yang ia cintai sama sulitnya, sama sakitnya tapi Andra mau berusaha karna ia tahu sekuat apapun hatinya menyebut nama Haura dalam doa, ia tetap tak bisa mengambil gadis itu dari Tuhannya.
.
.
Viana yang berbaring terus di temani oleh Andra, ia duduk di lantai sambil mengusap kepala istrinya agar cepat terlelap. Viana bisa bersyukur dalam hati karna tak lagi merasakan mual dan muntah hingga harus bolak balik ke kamar mandi seperti saat pulang sekolah siang tadi.
Rasanya sungguh tak nyaman karna membuat kepalanya pusing tak karuan, belum lagi rasa lemas mendadak seakan tubuh tak memiliki tulang lalu ambruk begitu saja.
"Sabar ya, Vi. Kita sedang berproses, semoga akhir dari apa yang kita usahakan bisa membawa kebahagiaan, Terima kasih sudah hadir dan menjadi ibu dari anakku, meski semua tak mudah tapi aku janji akan selalu ada buat kamu ya, kita sama-sama, Ok." suara pelan itu terdengar samar di telinga Viana tapi rasa kantuk membuatnya tak bisa untuk membuka mata. Ia biarkan Andra bicara sesuka hatinya karna pria itu juga sudah berjanji untuk tidak menyentuhnya lagi.
Andra mencium kening Viana dengan sangat lembut, posisinya yang sebagai istri dan ibu dari keturunannya tentu jauh lebih tinggi dari wanita yang masih sangat ia cintai sampai detik ini.
Hanya dengan mengingat itu, Andra bisa sedikit mengikis bayangan Haura dari pelupuk matanya karna benar adanya jika...
.
.
Bukan perpisahannya yang menyakitkan, tapi berpisah karna masih cinta yang paling berat.