
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Oeeeek.... oeeeeeekk...
Viana yang barusan berlari ke kamar mandi saat Andra masuk kembali kini sudah di temani, ia membantu Viana memuntahkan isi perutnya yaitu Sate dan nasi goreng, tak ada kesan jijik sama sekali yang Andra rasakan saat mendampingi istrinya tersebut. Tengkuk Viana terus di urut agar memudahkan semua keluar.
"Udah?" tanya Andra saat Viana sudah mencuci. mulutnya.
Dengan tisue, Andra menyeka bibir, leher hingga kening yang banjir keringat. Viana yang lemas langsung di tarik pinggangnya untuk di peluk.
"Pusing gak?"
Viana yang kembali tak merasa menapak di lantai hanya menggelengkan kepalanya dengan sangat pelan, jika saja Andra tak sambil mengelus rambut mungkin ia tak tahu jika Viana menjawab.
"Periksa lagi ya, kita kerumah sakit, Vi," ajak Andra yang rasanya tak tega melihat istrinya terus menerus seperti ini.
"Enggak, aku mau tiduran, Ndra."
Tak di sangka sama sekali, Viana justru di gendong ala Bridal style menuju ranjangnya di tengah kamar, tak ada pemberontakan dari wanita itu hingga semakin membuat Andra kasihan.
"Aku ambilin air teh hangat dulu ya."
"Aku gak pengen apa-apa," tolak Viana sembari mencegah tangan Andra.
Andra yang duduk di tepi ranjang hanya mengikuti, ia tak mau memancing amarah Viana yang mual.
"Sering gini ya, Vi?" tanya Andra memastikan.
"Enggak juga, cuma sesekali aja," jawab Viana yang rasanya belum juga sadar padahal Bibi sudah memberitahunya.
"Cuma saat gak ada aku, gitu kan maksudmu?"
Deg...
Benarkah begitu?
"Vi--, "
"Katanya mau pulang? kok balik lagi, ada yang ketinggalan?" tanya Viana yang memotong ucapan suaminya barusan.
"Aku cuma mau bicara sama kamu, tepatnya mungkin diskusi bersama gimana enaknya," kata Andra yang sempat menggeleng kan kepala.
"Apalagi sih, Ndra?"
"Kita tinggal sama-sama lagi ya, kalau kamu izinin gak apa-apa aku disini, aku tidur di bawah lagi kaya kemarin, mau ya, Vi." Andra sedikit memohon sambil meraih tangan Viana, ia ingin istrinya itu sadar jika anak si calon bayi butuh kebersamaan orang tuanya.
"Kamu gak perlu takut aku menyentuhmu, percayalah," sambung Andra.
Ia tahu jika wanita di depannya itu masih trauma dengan yang pernah dilakukannya saat itu, dimana Andra tiba-tiba lupa diri memaksa haknya untuk di layani dengan sangat kasar.
Dan karena perkara itu juga kini ia tak hanya belajar mencintai tapi juga berusaha keras menyembuhkan Viana dari rasa takutnya untuk berhubungan lagi, sebab Andra sudah yakin dan ingin benar-benar serius dalam pernikahannya setelah ada penghubung yang kuat diantara mereka yaitu anak yang kini sedang di kandung oleh istrinya.
"Via, biar kamu gak mual terus, atau kita coba tiga hari kedepan, gimana? kalau tiga hari ini kamu tetap mual meski ada aku, aku akan pulang." Tak ada jawaban sama sekali mau tak mau membuat Andra bernegosiasi.
"Tiga hari?"
"Iya, tiga hari, Vi. Kita coba tiga hari dulu ya, mungkin dede bayinya memang pengen kita sama sama, ini juga demi hubungan kita. Aku mau fokus sama kamu," jawab Andra.
"Fokus ke aku biar bisa lupain Haura?" tanya Viana.
"Jangan punya pikiran seperti itu terus, bukan aku yang gak usaha tapi justru kamu sendiri yang bikin hatimu gak tenang, atau mungkin sebenarnya kamu--," selidik Andra tapi ia justru menggantung ucapannya.
"Apa? aku kenapa?"
.
.
Cemburu kan?