Let's, Divorce

Let's, Divorce
Part 147



🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


"Heh, anak kecil! beraninya godain Si Mimih!" omel Langit, Pipih dari Awan dan Senja.


"Kamu juga! malah senyum senyum di godain bocah." kini omelan pria itu beralih pada istri tercintanya.


"Masa aku di bilang Calon Mimih Mertua, Bang? gemoy banget kan?" adu Cahaya yang berjingkrak senang namun berhasil membuat Pangeran salah tingkah.


Pemuda tampan itu tak menyangka jika wanita yang masih terlihat cantik tersebut nakan sebegitunya dengan panggilan Pangeran barusan.


"Calon Mertua? siapa? siapa yang mau nikah?" tanya Langit bingung dan ia ikut memandang ke arah putra Bramasta seperti yang istrinya lakukan.


"Kamu pacaran sama SenSen?" selidik Tuan Biantara.


"Aamiin yang panjang, keras dan lama dulu deh CaPiMer," jawab Pangeran sambil menadahkan tangan. Ia harap apa yang di ucapkan oleh Langit benar benar bisa menjadi kenyataan.


"Ya ampun! Ganteng-ganteng Stres," balas Langit sambil menarik tangan istrinya menjauh dari hadapan teman Si kembar.


Pangeran yang masuk ke kediaman Biantara langsung ke halaman belakang setelah salah satu pelayan mengatakan jika Tuan Muda mereka ada di sana.


Ia yang menyapa lebih dulu pun membuat Awan yang sedang bermain dengan peliharaannya menoleh lalu tersenyum penuh arti.


"Njir, gak ada yang lebih lucu apa, selain Phyton?" tanya Pangeran yang ngeri ngeri sedep.


"Ini paling lucu, Ran."


Pangeran hanya bergidik ngeri, ia menjauh saat Awan justru mendekatinya.


"Jangan macem macem, gue masih belom dapet Cintanya Senja!" ancam Pangeran saat Si Phyton kesayangan Si Mafia Soleh menghampirinya.


"Dia cuma mau di sayang, kenalan dong," kekeh Awan yang tahu jika Pangeran tak pernah berani selama ini.


"Gue taunya Empus! bukan uler," jawab Pangeran benar-benar takut.


"Ngapain disini?"


"Main sama Awan," sahut Pangeran yang menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Apa? orang gue lagi main sama Phyton," sahut kakaknya Senja sambil terkekeh dan itu membuat Pangeran lemas.


Senja yang berjalan ke arah Gazebo pun di ikuti oleh Pangera. Memang sudah biasa pemuda itu ada di rumahnya dan hingga detik ini pun Senja tak pernah perduli.


"Jalan yuk," ajak Pangeran.


"Gak!"


"Kenapa? mumpung masih siang, gue belum makan loh," kata Pangeran lagi yang masih di tak acuhkan.


"Lo mau mati juga gue gak perduli," balas Senja yang jauh dari kata manis jika di hadapan semua pria termasuk Pangeran.


Tak ada trauma dan tak ada hati yang sedang di jaga oleh Senj, hanya saja ia tak pernah berusaha mengenal cinta karna semua tak penting baginya. Senja tumbuh penuh dengan kasih sayang dari semua keluarganya. Ia seolah jadi tak butuh orang luar yang masuk dan mengacak-acak hidupnya yang sudah damai nyaris sempurna.


"Jangan gitu, kasian Mommy Daddy gue. Tapi yang harus lebih di kasihanin itu gue Nja, masa gue di tolak mulu sih? sekaliiiiiiii aja lo Terima gue, ya.. ya... ya.. " mohon Pangeran.


"Cih, males amat! lagian mau ngapain sih pacaran? yang ada tuh nanti kita berantem terus," sahut Senja dengan memutar bola matanya malas. Siapapun tahu jika Pemuda di depannya ini banyak memiliki Fans Fanatik garis keras.


.


.


.


Gak apa-apa, gue tetep cinta sama Lo meski ributnya 7x dalam seminggu.