
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Kebahagiaan pastinya sedang menyelimuti dua keluarga, termasuk Bramasta yang kini memiliki keturunan cucu laki-laki yang begitu menggemaskan dari putra bungsu mereka yaitu Andra.
Tapi, tidak dengan orang tua si bayi karna mereka terlihat sedang tak baik-baik saja, teutama Viana yang terus menangis saat ia sudah sadar dari istirahatnya usai melahirkan Si anak pertama yang memiliki berat 3200gram dan panjang 50centimeter.
"Gak apa-apa, pelan-pelan ya, kamu bisa kok," ujar Andra, dari kesabaran yang pernah ia lakukan ini adalah yang paling berat baginya sampai ia harus menangis seorang diri di dalam kamar mandi sambil memukul dadanya yang sakit melihat Viana dengan tingkah anehnya.
"Enggak, aku takut, aku gak bisa, Ndra!" sentak Viana saat suaminya itu menyodorkan Baby Pangeran.
Viana yang sedang mengalami Baby Blues terus marah-marah dan menangis padahal Pangeran begitu anteng dan tak rewel. Ia cemas juga takut tak bisa mengurus anaknya di tambah ASInya yang juga belum keluar sampai Pangeran harus minum SuFor untuk sementara.
Dan, ini jugalah yang akhirnya jadi pertimbangan jika belum ada yang boleh menjenguk Viana termasuk dua sahabatnya. Keluarga, khususnya Mami dan Bunda tetap fokus pada Viana untuk menenangkan Si ibu muda yang emosinya terus tak stabil karna takut berimbas pada Pangeran.
"Kan belum di coba, Vi."
"Kamu gak denger yang aku bilang, hah?" sentak Viana dengan derai air mata yang sudah banjir di wajahnya.
"Aku takut, Ndra. Nanti bayinya jatuh, terus nangis dan kesakitan. Kalian pasti marahin aku, aku gak bisa jaga bayi itu," adunya dalam dekapan Sang suami yang matanya sudah berkaca kaca namun hanya bisa menciumi pucuk kepala Viana dengan sesekali menarik napas berat.
Viana yang kini mengalami rasa cemas berlebihan sampai tak mau lagi menggendong putranya, Andra sampai sedih saat melihat Pangeran seolah mencari sosok yang selalu bersamanya selama 9 bulan.
"Kamu hebat, Mom. Kamu udah kuat selama ini sampai Pangeran lahir. Kamu yang terbaik dari semua wanita yang ku kenal. Jangan takut lagi ya, kita urus Pangeran sama-sama, dia pasti seneng pas kamu gendong, mau ya," rayu Andra lagi agar Viana terbiasa dengan putra mereka.
"Tadi nangis, aku gak bisa susuin, Ndra. Aku gak bisa kasih apa-apa buat bayi itu, aku gak guna."
Air mata yang di tahan Andra akhirnya lolos juga, ia tak menyangka semua akan terjadi pada keluarga kecilnya yang dulu ia bayangkan semua akan baik-baik saja. Tak ada senyum bahagia di wajah istrinya yang justru terlihat berantakan dengan tangis yang tak henti-hentinya karna begitu banyak rasa yang berkumpul dalam benaknya. Viana yang sebenarnya belum sangat siap malah ketakutan karna seakan bebannya bertambah, anak laki-laki yang ia lahirkan adalah keturunan dari orang berpengaruh di negeri ini sedangkan ia untuk memberi setetes ASI saja tak mampu.
.
.
"Kamu sabar ya, kamu terima Pangeran dulu dengan ikhlas biar kamu bisa tenang. Aku tahu ini berat buatmu, Vi. Aku minta maaf ya, Sayang."